[mBolang] #15 Berdua ke Lawu

[Memang syahdu ketika menulis di malam hari, di luar hujan, dingin merasuk, dan segelas besar kopi pekat Aceh panas yang diracik sendiri.]

September, 3rd 2016. Ba’da Dhuhur, setelah singgah di Masjid pinggir jalan wilayah Jaten-Karanganyar, kami melanjutkan perjalanan menuju Gunung Lawu. Hanya berdua, menggunakan motor matic dengan bahagia saya dibonceng Fitri melalui Matesih.

Menulis ini serasa nostalgia sekali, saya ingat benar memori pada setiap jalan yang dilalui. Berkali-kali saya berbicara pada Fitri, cerita2 lalu yang pernah saya lalui dengan rekan2 saya menggunung. Mungkin Fitri jengah, namun ia tampak mendengarkan dan merespon dengan baik setiap memori yang saya lontarkan. *thanks Fit🙂 *

Solo kala itu benar2 panas menyengat, beberapa kali Fitri mengeluh akan teriknya matahari di Solo. Namun sekejap berubah komentar ketika memasuki Matesih, langit perlahan tapi pasti menjadi gelap. Sampai di kaki gunung Lawu, hujan rintik2.

Kami memutuskan dari awal untuk melalui jalur pendakian Cemoro Sewu dengan asumsi track yang relatif mudah karena kami hanya berdua. Target adalah puncak, tapi tidak menutup kemungkinan utk tidak merealisasikan hal tersebut. USai sholat Ashar, karena masih hujan rintik, kami mengenakan mantol kresek. Memastikan tas carier tidak akan basah dan membungkusnya dengan trashbagbesar. Ternyata sekarang untuk melakukan kegiatan pendakian harus membayar 15 ribu per orang, mengisi kolom pendaftaran, dan meninggalkan identitas. Berbeda dengan 3 tahun lalu. Ah iya, parkir motor 10 ribu ya.

Kami berjalan sangat santai, perjanjian dari awal adalah tidak boleh sungkan bilang “break” kalo memang butuh istirahat. Selama perjalanan saya dan Fitri ngobrol banyak hal. Cenderungnya saya yang bercerita sih *hahaha, dasar cerewet*. Ini pun kali pertama saya melakukan pendakian dengan Fitri, tapi jam terbang menggunung Fitri jauh di atas saya. Jadi saya tak pernah merasa khawatir akan kenapa2 walopun kami hanya berdua, karena saya sangat percaya dengan teman saya satu itu🙂

Selama perjalanan, saya selalu [sok] tahu memberi panduan. Sebentar lagi kira akan melewati ini lah, akan bisa melihat batu ini lah, dulu di sebelah sini saya beginilah. Dan sok tau lainnya. Fitri tampak ikhlas merespon setiap kata yg saya lontarkan.

Mendekati adzan maghrib, playlist lagu yang tadi nya musik, berubah menjadi rentetan murotal. Mungkin Alloh tahu kami butuh siraman rohani, atau mungkin Alloh sengaja melindungi kami. Yang jelas kami sama2 malas mengganti playlist nya. Jadinya murotal sampe pos 3, sampel pukul 7 malam.

Sesekali berhenti sekedar mengistirahatkan kaki, menyapa pendaki yang turun. Atau Fitri minta minum. Saya jarang minum, karena saya tahu kalo saya minum maka nantinya saaya akan terus2an minta break untuk minum.

Perjalanan sampai pos 1, kami memutuskan rehat bebarapa lama. Belum terlalu gelap, jadi saya beli secangkir kopi akibat rasa dingin yang mulai merasuk tubuh sambil beramah tamah dengan bapak dan Ibu yang dari beliau lah kami tahu kalo warung ini buka hari Sabtu dan Minggu, waktu dimana banyak pendaki melakukan ekspedisinya.

Setelah dirasa cukup,kami melanjutkan perjalanan. Carier 60 Liter yang saya bawa, belum berkurang bebannya. Tak terbongkar sama sekali.

Santai namun pasti. Perjalanan dari Pos 1 hingga Pos 2 adalah perjalanan penuh cerita bagi saya, sempet ingin menangis haru ketika mengingat masa2 kuliah dulu bersama teman2 se-angkatan, melakukan perjalanan pendakian gunung. Hampir setiap spot memiliki ceritanya sendiri2. Dan karena ga kuat kalo ga cerita, akhirnya saya cerita ngalor ngidul sambil sesekali bilang ke Fitri,

“Fit aku pengen Nangis.”

Lalu akan dijawab dengan tawa oleh Fitri.
Hari semakin gelap. Langkah kaki kami masih mantab. Pijakan batu demi batu kami lalui, cerita seperti tak pernah habis. Tak ada keheningan, karena obrolan kami sesekali membuat kami tertawa geli. Sebelum jam 9 kalo bisa kami sudah mendirikan tenda di Pos terakhir.

Ba’da Maghrib, kami menyiapkan headlamp masing2. Setelah melewati Watu Jago, jalan sudah susah dilihat kalau headlamp tidak dinyalakan. Tanda2 keriuhan pos 2 belum terdengar. Kami pun terus berjalan. Gerimis mengguyur kembali, alhamdulillah mantol nya belum dilepas, jadi kami masih berjalan santai saja.

Setelah melewati Pos 2, hujan semakin deras. Kami masih terus berjalan. Namun paru-paru semakin terasa terbakar setiap tarikan napas yang diambil. Break semakin sering. dan kelakar kalo kami semakin menua menjadi hal mendasar obrolan kala itu,

“Ya, kita wes tuwek ternyata.”

kelakar Fitri kepada saya. Hahaha…

Jalan menuju pos 3 relatif menanjak, yang penting sampe pos 3 dulu, dome harus segera dibangun sebelum hujan semakin deras.

Dan pos 3 masih belum berpenghuni ketika kami sampai sana, kami pun segera mendirikan dome. Kami membuat omelete *iya, bukan saya yang buat, tapi Fitri. saya yang makan😀 *.

Kami segera sholat dan masuk dalam sleeping bag masing2. diluar hujan amat deras, sedikit demi sedikit banyak pendaki yang mulai berteduh di bawah shelter. dan disini akan saya skip ceritanya karena bikin sedih untuk diceritakan.

Walhasil kami pagi hari nya setelah dome-yang dbangun-namun-dipaksa-bongkar, segera turun karena mood untuk melanjutkan perjalanan hingga puncak telah pupus. Sebelum adzan dhuhur, kami sudah di bawah. dan perjalanan naik maupun turun kemarin, mendung menjadi teman kami. Matahari tampak enggan berbagi kehangatannya hingga kami sampai ke Solo.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s