Throwback #1

Ketika mulai lelah dengan rutinitas, ketika mulai jemu dengan pekerjaan “cleaning”, dan saat2 rawan mengeluh akibat Micro Lab yang tak kunjung selesai “direnovasi”, tak ada salahnya kembali mengingat perjuangan 7 bulan lalu. Supaya tak lupa untuk bersyukur, supaya ingat, bahwa manisnya hidup kadangkala didahului dengan getirnya dulu.

Cikande. asing kali pertama mendengarnya. Tak biasanya saya pergi ke suatu tempat tanpa info lengkap, berbekal sebuah email yang saya printout, saya masukkan hati2 ke dalam map, dan benar2 memastikan kalo tidak akan hilang. Maklum, kala itu saya tidak sedang menggunakan smartphone yang kata orang “memudahkan” dalam segala hal.

Tiket pesawat pulang pergi sudah saya simpan. Pagi2 dengan antusias, diantar Bapak dan Mas Nanang ke Bandara Adi Soemarmo. H-1 sebelum puasa Ramadhan tahun 2015. Saya ingat betul. Pesawat take off pukul 6 pagi, namun pukul 4.30 pagi saya sudah berada di mushola Bandara, berjamaah dengan Bapak dan Mas Nanang. Sepagi itu dan se-excited itu di Kota Solo yang tanpa macet.

Naik pesawat, tak pernah terduga akan terjadi secepat itu. Dan gratis pula.

Sampai di Jakarta, saya berpisah dengan Aken yang tanpa terduga ternyata satu penerbangan. Sebelum mendapat Taksi, Aken mengirim banyak sms, memastikan saya sudah dapat taksi dan diantar sampai lokasi.

Iyah, Cikande. Perjalanan melalui tol, selama 2 jam tak sedikit pun membuat saya mengantuk. Kanan kiri taksi yang saya tumpangi adalah hal menarik yang bisa saya nikmati. Sopir taksi yang juga tak tahu alamat tujuan, beberapa kali bertanya kepada Juru parkir, satpam dan penjaga pintu loket tol.

Sekitar pukul 9 saya sampai di depan Pabrik yang katanya milik Cargill Indonesia. Sempat bingung, yaqin tidak yaqin. Bayangan mengenai pabrik dengan gedung office di depan, bangunan kecil untuk satpam dan pagar besi mengelilingi pabrik tersebut runtuh seketika.
“ini beneran pabrik nya? Baru dibangun gini. ”

Secepat mungkin saya menghubungi Bapak HRD yang belakangan intens menelpon dan meng-arrange waktu utk wawancara.
Saya diminta menunggu sebentar dalam kontainer yang sudah dimodifikasi menjadi office lengkap dengan kursi, meja dan AC.

Lama saya menunggu dan mengikuti prosesnya, hingga pukul 2 siang baru dinyatakan acara selesai. Cepat2 saya menghubungi bapak sopir taksi yang memang diminta standby untuk kembali mengantar ke Bandara Soetta.

Halang tak dapat dihindar, macet terjadi di mana2. Harap2 cemas menuju Soetta. Dan ternyata yang namanya macet itu memang bikin geregetan.

Alhamdulillah, sampai di Bandara Soetta tepat sebelum waktu keberangkatan. Sedikit berlari2 saya check-in, buru2 melewati pos security. Dan alhamdulillah lagi, pesawat delay. Harus disyukuri.

Penerbangan singkat selama satu jam Jakarta-Solo berjalan lancar dan sekitar pukul 7.30 pm, Bapak dan Mas Nanang sudah menunggu di pintu kedatangan. Tanpa babibu, sederetan pertanyaan dilontarkan Bapak dan Mas, tak kalah antusiasnya selama perjalanan 40 menit menuju rumah, banyak hal saya ceritakan memastikan tidak ada pengalaman yang saya alami sehari itu terlewatkan untuk dibagi.

2 thoughts on “Throwback #1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s