[mBolang] #12 muter-muter dengan Commuter

ini adalah Bagian kedua dari cerita sebelumnya

***

Hiruk-pikuk Pasar Cibinong sudah mulai menghilang, waktu sudah menunjukkan pukul 8.00 WIB. Melalui gang sempit samping pasar dengan membonceng motor matic milik Ika yang digeber pelan sambil diselingi cerita mengabarkan informasi keadaan di Solo dan Gemolong. Tanpa pelindung kepala saya berpegangan erat pada sisi belakang motor, melihat ke kanan dan ke kiri, hanya pemandangan asing dan baru yang dijumpai.

Hanya kurang dari 5 menit dari tempat saya turun Bus tadi, akhirnya saya tiba di wisma tempat Ika dan Tyas menetap selama di Cibinong. Saya tak bisa bilang apakah lokasi wisma tersebut strategis, karena akses menuju wisma hanya bisa dilakukan dengan menggunakan ojek, tak ada angkutan kota yang lewat wisma tersebut. Meski seperti terisolasi, namun keamanan wisma dijaga oleh satpam 24 jam, lingkungan yang menempati wisma juga rekan-rekan kantor yang berasal dari Jawa Tengah sehingga meski jauh dari kampung halaman, namun bertemu saudara satu daerah adalah perkara yang membahagiakan di tanah perantauan.

***

“Ayo Ri, aku ajak muter-muter LIPI”, seru Ika sesaat sesudah sholat ashar. Tanpa berpikir panjang langsung saya terima ajakan tersebut.

Melalui gerbang belakang, dengan hati-hati Ika menjalankan motornya. Jalanan yang rusak tak menjadikan halangan kepala untuk tengok kanan-kiri, tanya ini-itu, dan Ika dengan sabar menjelaskan dan memberi informasi-informasi seputar LIPI. Pertama dan terakhir kali saya ke LIPI adalah saat kunjungan semester 3 lalu, kami berkunjung ke PUSLIT BIOLOGI. Menimba ilmu perihal herbarium dan cara reseservasi herbarium.

PUSLIT BIOLOGI

PUSLIT BIOLOGI

Kemudian diajak pula ke kantor dan Laboratorium tempat Ika dan Tyas bekerja bersama botol kultur jaringan mereka. Uniknya, saat perjalanan pulang berkeliling LIPI, saya mengusulkan untuk mampir sebentar di Ecopark yang tepat di depan PUSLIT BIOLOGI, tapi Ika menolak mentah-mentah ajakan saya tersebut,

“Nggak usah Ri, isinya orang pada pacaran. Bocah-bocah semua. Bikin enek liatnya”

Memang danau Dora (sebutan Ika dan kawan-kawannya untuk Danau tersebut) menjadi lokasi nyaman untuk berkumpul keluarga, sebagai objek wisata alam dadakan yang berada di tengah Cibinong yang dikelilingi oleh beberapa lokasi belanja mewah-megah.

***

Pagi harinya (20/10/2014) saya mulai menyiapkan diri dengan bekal dan berbagai informasi untuk “muter-muter” Jakarta hingga Tangerang Selatan. Usai sarapan bergizi nan lezat masakan Ika, saya diantar ke Stasiun Bojonggede yang kurang lebih 10 menit perjalanan dari Gerbang belakang LIPI. Stasiun kecil yang terletak di dekat Pasar ini menjadikannya ruwet akan lalu lintas, sempat terkejut karena Pasar di sini seperti Pasar tumpah yang menyebabkan sempitnya bahu jalan semakin terasa. Merayap pelan, hingga akhirnya sampai juga saya di pintu depan stasiun.

“Pondok Ranji Pak”

Selembar tiket Commuter line relasi BJD-PDJ (singkatan untuk Bojonggede-Pondok Ranji), beserta sebuah kartu pass atau tiket harian berjamin berpindah tangan setelah saya menyerahkan uang Rp 9000,00 di loket antrian tiket.

“Nanti naik arah kereta Tanah abang/Jatinegara, transit Tanah Abang, pindah kereta arah Serpong jalur 5 atau 6, mbak.”

Tak mencerna dengan baik ucapan Bapak loket yang baik hati tersebut, saya pun berbalik arah menuju jalur masuk stasiun.

IMG_20141020_142605

Berbekal dari mengamati orang-orang yang tampak terbiasa menggunakan Commuter Line, saya melenggang mantap memegang tiket harian yang setebal E-KTP itu melewati jalur masuk yang dijaga oleh banyak petugas keamanan.

“oke, kartu ditempel di layar, kemudian baru bisa lewat.” batin saya

tapi nyatanya, kartu yang saya bawa terbalik, mau lewat pun tak bisa, Petugas keamanan pun memposisikan kartu saya dengan benar lalu bilang,

“Kurang gede mbak tulisannya ?”

entah bermaksud menggoda, mencemooh, atau memberi tahu, yang jelas beliau mengucapkannya hingga 2 kali, dan ternyata maksud beliau adalah nyalanya lampu hijau yang memperbolehkan saya masuk area stasiun. Tak sempat merasa malu, saya pun pergi menuju petugas keamanan lain yang berdiri di tepi Jalur kereta api,

“Pak kereta arah Tanah abang/Jatinegara di Jalur berapa ya ?”

“Jalur 2 neng, arah ke kiri nanti.”

sambil memberi isyarat bahwa kereta yang akan saya tumpangi nanti akan menuju ke arah kiri dari tempat si Bapak berdiri. Saya pun menyebrang jalur, berdiri di antara para pengguna commuter. Tak berapa lama, kereta pun datang, saya langsung naik dan Alhamdulillah gerbong yang berhenti tepat di depan adalah gerbong wanita.

IMG_20141020_123503

desain interior gerbong wanita

suasana gerbong wanita

suasana gerbong wanita

Menuju Stasiun Pondok Ranji di Tangerang Selatan berarti harus melewati 18 stasiun dari Stasiun Bojonggede di Cibinong, Bogor dan transit di Stasiun Tanah Abang untuk berganti kereta arah Serpong/Maja di Jalur 5 atau 6. Perjalanan selama 2 jam berlalu begitu saja akibat saya terlalu menikmati perjalanan dengan mengamati beragam macam penumpang commuter. Tak banyak yang mereka lakukan, mayoritas sibuk dengan gadget yang dimiliki, entah itu smartphone atau tablet. Hanya satu dua yang bercakap-cakap. Saya ? saya hanya diam, mencuri dengar, mencuri lihat yang dilakukan penumpang lain dengan banyak pikiran di kepala.

Peta Rute Loopline

peta rute commuter line

Kereta Commuter Line yang terparkir menunggu penumpang di Stasiun Tanah Abang

Kereta Commuter Line yang terparkir menunggu penumpang di Stasiun Tanah Abang

Salah satu atribut keterangan di dalam commuter

Salah satu atribut keterangan di dalam commuter

***

Usai 2 jam dan keluar dari stasiun Pondok Ranji, berjejer parang Bapak Ojek menunggu pelanggan. Saya langsung menghampiri Bapak-bapak yang terlihat baik dan dapat dipercaya.

“Jalan Yaktapena Pak, Komplek Pertamina.”

“Mari Neng, saya antar.”

Perjalanan dari Stasiun menuju Jalan Yaktapena Raya, Komplek Pertamina sebenarnya tak seberapa jauhnya. Bisa dilakukan dengan jalan kaki, namun sayangnya saya tak tahu menahu di mana jalan Yaktapena Raya meskipun ada aplikasi Google maps. Praktisnya, ojek menjadi pilihan.

Pak Asmat, ojek baik hati yang mau mengantar saya menuju Gedung Arsip ESDM ini bercerita banyak hal mengenai mahasiswa STAN, pekerjaannya selama perjalanan yang tak seberapa jauh itu. Hingga tak terasa saya sampai di lokasi. Tujuan hari ini memang sekedar survei lokasi agar saya dapat melakukan estimasi waktu perjalanan dari Bojonggede hingga lokasi tes diadakan. Sehingga setelah mendapat jawaban dan informasi dari Bapak-bapak Satpam di Gedung Arsip, saya bergegas membonceng Pak Asmat kembali menuju Stasiun Pondok Ranji untuk pulang.

stasiun Pondok Ranji

stasiun Pondok Ranji

***

Dari stasiun Pondok Ranji, tak langsung pulang menuju Bojonggede, tapi saya pergi ke Stasiun Pasar Senen terlebih dahulu. Bukan untuk mencari apa atau bertemu siapa, hanya karena saya butuh tahu bagaimana menuju Pasar Senen seusai dari Stasiun Pondok Ranji. Kenapa ? karena Selasa (21/10/2014) usai tes nanti saya langsung pulang ke Solo dengan menggunakan Kereta Api relasi Stasiun Pasar Senen-Malang. Jadilah saya muter-muter Jakarta dengan commuter line, mencicipi menggunakan Gerbong umum yang penuh sesak penumpang, mencuri dengar obrolan penumpang laki-laki yang mengamati mbak-mbak cantik di Gerbong, leyeh-leyeh di Stasiun Tanah Abang, menikmati makan siang sendiri di peron Stasiun Gang Sentiong, naik-turun Stasiun Pasar Senen, mampir di 7-eleven sekedar beli AQUA “Jakarta” (istilah mamas, karena baru menjumpai kemasan Aqua tutup flip-out di Jakarta😆 ), lalu kembali ke Stasiun Bojonggede dan di jemput Ika sore harinya.

AQUA "Jakarta"

AQUA “Jakarta”

***

bersambung lagi😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s