Ini Manusia, bukan Salmon

Mengutip pembicaraan hari Minggu kemarin, antara saya, mas dan mbak,

Mbak : dek, udah nonton filmnya manusia setengah salmon ? saya : belum mbak. emang kenapa ? Mas : *nyamber* itu lho filmnya raditya dika yang ceritanya pindah-pindah Mbak : iya, ini tadi kita pindah beneran. Kayak manusia setengah salmon Saya : *mlongo* Mas : kan salmon pindah-pindah hidupnya Saya : *mlongo* *iya ikan salmon pindahnya kan dari air tawar -sungai- ke laut setelah setahun, lalu saat masa kawin kembali lagi ke air tawar -sungai-*

Pembicaraan itu bermula seusai pindahannya mbak, dari Kedungjati-Grobogan untuk pindah tugas ke Sumberlawang-Sragen yang lebih dekat dari rumah. Perjalanan panjang yang menurut saya penuh perjuangan. Bagaimana tidak, jalanan berkelok melewati hutan jati, aspal yang tak lagi sempurna, hingga harus bergantian dengan kendaraan lain karena jembatan yang putus. Saya, Bapak dan Pakdhe yang duduk di bak truk, “bergoyang” bebas karena truk yang melibas jalan berbatu tak terkendali. Awalnya saya kira perjalanan akan mulus dan tak memakan waktu lama, tapi nyatanya saya harus menembus hutan jati milik KPH Telawa, melewati jalan hutan yang tiang listrik pun hampir rubuh. Kebanyakan lampu penerang jalannya menggunakan tenaga surya, karena didapati adanya papan penangkap materi matahari diatasnya. Karena memang lokasi nya yang jauh dari perumahan pendudukan, meskipun katanya berada di pinggir kota, saya dibuat takjub saat dapat melihat seekor burung alap-alap yang terbang berputar di atas hutan jati. Saya yakin itu alap-alap dari ciri-ciri yang pernah saya pelajari sebelumnya. *lokasinya bakal menyenangkan untuk birdwatching nih, pikir saya kala itu. Perjalanan 1,5 jam akhirnya kami memasuki wilayah Kabupaten Grobogan. Truk yang memang melaju pelan dan sesekali berhenti untuk bergantian bahu jalan dengan pengendara lainnya akhirnya membawa kami ke wilayah kota, saya kira sudah hampir sampai. Tapi ternyata perjalanan masih panjang, tempat dinas mbak sebelumnya berada di wilayah Kedungjati di desa Wates yang lokasinya masih sangat amat jauh dari Kota. Seriuuuuus. Masiiih jauuuuuh. Saya bahkan tak ingat dimana SPBU terakhirnya. Bapak yang sedari perjalanan berangkat berdiri di dalam bak truk masih tampak antusias hingga sampai ke lokasi. Melewati beberapa kali portal jalan sederhana hasil swadaya masyarakat, melewati jembatan rubuh, banyak kanal dan sesawahan kering yang memang tidak ditanami karena tampaknya didaerah ini mahal akan air bersih. Yang bikin beda, desain rumah disini bisa dikatakan 90% adalah rumah panggung dan terbuat dari papan kayu. Jaraaang sekali melihat rumah tembok. Jangan tanya soal jalannya, rusak parah, apalagi setelah mendekati rumah tempat Mbak tinggal selama dinas di sana. 2 jam lebih sedikit dan akhirnya kami sampai. Alhamdulillah. Perut saya, Bapak dan Pakdhe yang memang duduk di bak truk berhasil kami jaga dari rasa mual akibat goncangan dahsyat 2 jam lebih. Bapak pun langsung memutuskan untuk mengambil rute berbeda saat pulang nanti, meskipun rute melalui Purwodadi akan lebih panjang dan adanya ancaman macet akibat adanya perbaikan jalan. Tak apa, yang penting jalannya mulus. Seusau melepas penat dan mengisi perut untuk menjaga stamina agar tubuh tak loyo nanti, Bapak, Mas dan Pakdhe dibantu beberapa penduduk setempat mulai mengangkat barang-barang milik Mbak yang akan diboyong ke Gemolong. Cukup banyak, ada lemari 2 pintu, 3 kasur busa, 1 lemari obat, 1 keranjang bayi, banyak kardus dan tas yang berisi perlengkapan medis Mbak selama menjadi bidan Desa di Desa Wates. Tak memakan waktu lama, akhirnya semua barang berhasil diangkut ke dalam truk termasuk motor matic Mbak yang digunakan sebagai media transportasi selama bertugas di sana.

***

Perjalanan pulang, saya mulai merasa mengantuk dan lelah. Berbekal kain jarik yang sudah dipotong dan entah digunakan untuk apa potongannya oleh Mbak, saya menutup sebagian wajah untuk menghindari teriknya matahari. Saat itu pukul 1 siang, saya, Bapak dan Pakdhe duduk di belakang truk. Beda nya kali ini kami duduk sedikit nyaman karena adanya barang bawaan sehingga goncangan truk tak sedahsyat saat berangkat tadi, terlebih kami melewati jalur Purwodadi yang lebih mulus. Rasa lelah mengalahkan sinar matahari yang luar biasa terik, membuat kelopak mata terasa berat untuk dibuka, Bapak yang duduk disamping menawarkan diri sebagai sandaran bagi saya untuk tidur. Sekian menit tidur di pangkuan Bapak, saya terbangun. Berusaha melawan rasa kantuk. namun nyatanya rasa kantuk lebih kuat dari keinginan untuk terjaga, selama beberapa kilometer perjalanan saya tertidur, matahari pun berhasil membakar kulit. Walhasil sesampainya di rumah, Ibuk tertegun melihat wajah saya yang merah terbakar akibat sengatan matahari. Bukannya diberi pertolongan pertama, malah saya kena omelan karena keras kepala tak mau duduk di depan d samping pak sopir tadi. Diam. kemudian saya tinggal istirahat saja.

***

Sayangnya, tak ada banyak foto yang berhasil saya ambil saat petualangan kemarin karena terlalu asyik ngobrol dengan Bapak dan Pakdhe selama perjalanan berangkat dan tertidur saat perjalan pulang.😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s