[mBolang] #10 Demi Halcyon chloris

tahura r soerjoMenghabiskan 3 hari 3 malam bersama 24 orang merupakan hal menakjubkan yang saya alami sedari 13 Desember dini hari hingga pagi 16 Desember 2013. Bila memilih sebuah kalimat untuk mengekspresikannya, maka “Luarbiasa, mendebarkan, menegangkan dan pengalaman yang  sarat ilmu”.

Rasanya ada banyak sekali hal yang ingin diceritakan, bagaimana kami berjalan bersama menuju Stasiun Jebres, menanti kereta yang tak kunjung datang, berbagi gerbong Matarmaja dengan  penumpang lain, merasakan perbedaan kultur yang kental antara Jawa Tengah dengan Jawa Timur dan rasa kebersamaan dari satu almamater mengikat kami saat kaki melangkah meninggalkan Stasiun Malang Kota menuju Tahura Raden Soerjo di Cangar, Malang.

Meskipun hujan mengiringi perjalanan kami menuju Cangar, keceriaan dan teriakan tak pernah hilang. Rona wajah kuyu dan kondisi jalanan yang menegangkan menjadi bumbu tersendiri bagi kami yang diangkut oleh truk bak hewan2 pedaging yang siap diantar ke pejagal.

Lima truk membawa berbagai rombongan pengamat dan peminat burung. Jakarta hingga ujung Jawa Timur tumplek blek di sini. Saya yang awam akan burung berbekal keingintahuan dan niat mbolang, nekat ikut kompetisi ini berkat ajakan teman2 KS Kepak Sayap. Mulanya hanya satu tim dari perwakilan KS Kepak Sayap, namun beranak pinak menjadi 7 tim yang pergi mengadu kecermatan mengamati polah burung di Tahura R Soerjo.

Hari Pengamatan yakni Sabtu, 14 Desember 2013. Kicauan burung yang riuh rendah telah menyambut kami sedari subuh. Start pengamatan dibuka oleh panitia dari pukul 7 pagi, lokasi pengamatan terbagi dalam lingkup area Tahura R Soerjo, mulai dari Jogging Track Tahura (sendi) hingga Cangar yang memiliki tracking menanjak. Saya yang masuk dalam Tim Pasya-RAN (Rochmat-Alan-Nunung), memutuskan melakukan pengamatan pertama di lokasi terdekat yakni area pemandian air panas Pacet-Batu (jogging track) demi mencari Halcyon chloris karena selain pengamatan kami juga harus menulis sebuah artikel populer saat berada di Tahura R Soerjo, dan jauh2 hari kami sudah mempelajarai secara lengkap mengenai spesies andalan Halcyon chloris yang sebenarnya spesies inilah sering didengar akibat suaranya yang nyaring. Jadi, selain mendapat spesies2 lain, tujuan kami adalah si Halcyon chloris.

Todiramphus chloris / Halcyon chloris

Saat memulai perjalanan, kami langsung disambut oleh kelompok Columbidae yang bertengger di atas pohon Kupu Ketek, jauh dari jangkauan mata hingga perlu menggunakan binokuler untuk melihatnya lebih detail dan jelas.

Setiap burung yang teramati langsung ditulis dan dicatat beserta pemberian deskripsi singkat burung. Sebisa mungkin Tim kami mencari burung yang tampak mata, artinya tidak serta merta menuliskan burung yang secara audio telah kami hafal suaranya tapi juga mengetahui secara visual.

Tiga jam kami habiskan di jogging track/tempat wisata pemandian, sesekali berhenti untuk melepas lelah usai berjalan “hunting” burung sambil makan bekal yang disiapkan panitia, ketela-pisang-kentang-rebus. Lalu hujan pun mulai mengguyur, kami yang memang sudah berada dekat basecamp langsung berteduh di dalam tenda barak sembari touch up sketsa. Namun, nampaknya tak ada tanda hujan akan segera berhenti. Alan yang bertugas membuat sketsa, tiba2 menyerahkan pekerjaannya ke saya dan Rochmat. Entah karena cuaca atau karena stamina tubuh yang mulai terkikis, Alan pun tertidur. Tenda barak yang tadinya riuh rendah oleh tawa kami (Tim Pasya-RAN dan Tim Hummingbird) menjadi sunyi. Eh, ternyata… satu persatu tertidur. Lucu, kalau dipikirkan ulang. kondisi tenda saat itu tidak kondusif untuk tempat tidur, awalnya memang pilihan yang tepat untuk berteduh dari serangan air hujan, namun lambat laun air pun merembes dari atas, dari luar bahkan dari sela2 jendela yang terbuka akibat kibasan angin yang melaluinya. Tapi badan yang terlalu lelah, mengabaikan semua fakta tersebut dan barang sebentar, kami dapat mengistirahatkan raga kami.

Sekitar pukul 10.30 WIB, tim kami pun memutuskan pergi ke Watu Ondo. Meski hujan masih mengguyur, hal itu tidak menghalangi kami untuk menuruni tahura menuju Air Terjun Watu-Ondo demi dapat melihat Elang yang dikabarkan sering terbang di tebing sekitar Air Terjun Watu-Ondo dan tentu saja primadona tim kami, Halcyon chloris yang tidak tampak di objek pemandian air hangat.

Jalanan beraspal, naik-turun, kanan kiri berupa serentetan pohon2 menjulang tinggi yang rimbun oleh semak dan tanaman perdu, sepi, mungkin karena hujan masih mengguyur. Kami yang berjas hujan berjalan sambil mengamati sekitar, Tim Pasya-RAN dan Tim Hummingbird, berbagi asa dalam kondisi perut kosong demi dapat melihat elang, raptor perkasa di Watu-Ondo.

Meski hujan dan kondisi sangat lembab, burung2 masih terdengar bersiul bersahutan di dalam hutan. Kicuit hutan masih nyaring dan tetap tak terlihat oleh mata meski suaranya serasa sangat dekat.

Sampai di Jembatan Cangar I, kami melihat banyak sekali tim yang berteduh sambil membeli jajanan di warung semi-permanen. Warung tampak sesak oleh banyaknya tim pengamat burung berbaju hijau tua. Karena memang lapar, kami pun memutuskan membeli beberapa (banyak) tusuk bakso dari penjual bakso di sana.

Bakso ditangan, dan kami segera melanjutkan perjalanan menuju Air Terjun Watu-Ondo mengingat pukul 14.00 WIB kami sudah harus berkumpul ke basecamp untuk mengumpulkan hasil “hunting” burung. Tanpa dinyana, saat berhenti di Jembatan Cangar II, sekelompok burung Cabe Jawa berhenti di atas kepala kami, asyik terbang dan bercengkerama di ranting pohon. Seperti berlompatan sambil bermain2 hujan dari dahan pohon satu ke dahan pohon lainnya.

“Yes, finally satu burung terlihat.” pikir saya saat itu, paling tidak kami melihat 1 burung dalam perjalanan panjang berjas hujan ini. ALhamdulillah.

Sesampainya di Objek Wisata Air Terjun Watu-Ondo, kami yang memang sudah mulai kelelahan duduk-duduk santai di tangga menuju air terjun, hujan gerimis masih mengguyur. Kepala semakin tertunduk, dan sesaat saya pun tertidur.  zzZzzz….

Sempat lupa akan tujuan utama, saya dan tim bersegera bangun dan kembali hunting burung sebelum kembali ke basecamp. Masak iya jauh2 jalan, hujan2, pakai jas hujan pula tidak menjumpai Halcyon chloris. 

Pukul 12.30 WIB, waktu yang sama2 kami sepakati untuk kembali ke basecamp nyatanya menjadi momen penting menjumpai beberapa burung flycatcher. Tercatat di lokasi yang berdekatan kami menjumpai, Eumyias indigo (Sikatan ninon), Ficedula wastermanni (Sikatan belang) dan Cyornis unicolor (Sikatan biru-muda). Rasanya amazing, disaat detik2 terakhir kami menjumpai burung2 flycatcher tersebut. DSC00985

flycatcher 1Merasa puas dengan hasil yang kami dapatkan, kami pun kembali menuju basecamp. Tapi masih ada perasaan mengganjal, perjalanan panjang demi Halcyon chloris ini menjadi perjalanan yang tidak happy ending, karena meski kami mendengar serentetan suara nyaring burung ini nyatanya kami tidak menjumpainya sacara visual. Saat saya mengutarakan uneg2 tersebut, Rochmat yang berada di dekat saya serta merta menjawab bahwa tadi sebelum kami memasuki gerbang objek wisata Air Terjun Watu-Ondo ia melihat seekor burung gempal dengan warna biru metalik, paruh panjang dan besar sedang bertengger di salah satu pohon seolah2 sedang berlindung dari guyuran hujan, dan ia yaqin itulah si Cekakak Sungai atau Halcyon chloris burung yang kami cari, namun belum sempat ia menunjukkan burung tersebut kepada kami, burung tersebut terlanjur terbang hinggap jauh ke dahan lain.

Seolah mendapat pencerahan kami pun kembali dengan langkah mantap menuju basecamp sambil bersenda gurau bercerita perihal konyol selama pengamatan🙂

Singkat cerita, pukul 17.00 WIB ketika semua artikel dikumpulkan (dengan berbagai peristiwa menghiasinya) kami pun dengan mantab  dan percaya diri mengumpulkan artikel Halcyon chloris yang sudah kami pelajari dan persiapkan materinya jauh-jauh hari. dan Bismillah, semoga mendapat yang terbaik

Keesokan harinya, Minggu 15 Desember 2013 setelah menghabiskan waktu bebas yang diberikan panitia dengan (kembali) mengunjungi Air terjun Watu-Ondo, kami pun menunggu dengan penuh harap saat pengumuman pemenang. Meski minim pengalaman akan kompetisi birdrace, tak ada salahnya menggantungkan asa barangkali dari 7 tim Kepak Sayap Sc, setidaknya ada satu yang menjadi jawara.

Daaan… Tim Pasya (tanpa-RAN) menjadi salah satu dari 5 juara unggulan. Tim beranggotakan Teguh, Burhan dan Rino menjadi Juara Harapan II untuk birdwatching. Meski miris dan sempat terbesit rasa kecewa dalam diri, tapi rasanya pengalaman yang kami dapatkan menjadi nilai plus perjalanan jauh demi Halcyon chloris ini.

Barangkali rejeki kami memang untuk mendapatkan pengalaman menyenangkan menunggu Matarmaja selama lebih dari 4 jam, terlantar di stasiun, mendapat pop mie dan air mineral gratis, tidur dalam tenda dalam rumah kaca (nah loh, bingung kan), menikmati air panas yang konon menyembuhkan, kehujanan dan berlelah-lelah ria, berdempetan di dalam truck, menyandarkan kepala dari bahu-ke bahu, kebingungan di terminal arjosari, dan terlelap dalam bus Sumber Rahayu dari Surabaya ke Solo. Semuanya rasanya membayar perjalanan menuju Cangar kemarin dan bonusnya salah satu dari tim Kepak Sayap Sc menggondol trophy juara harapan II. Alhamdulillah. Yes, Alhamdulillah.

Tim KeSya (Cabe Jawa) : Fendika, Inayah, Annisa
Tim PASYA (Kutilang) : Wisnu, Ahmad, Hanni
Tim BONTROS MALEO : Krisanty, Rekyan, Euis
Tim BONDOL : Inna, Dera, Atika
Tim Hummingbird : Agika, Firda, Eno
Tim PASYA-RAN : Rochmat, Alan, Nunung
Tim PASYA : Teguh, Burhan, Rino
Fotografi : Muh. Ridwan, Diagal, Yudha Noviana, Wahyu

One thought on “[mBolang] #10 Demi Halcyon chloris

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s