ini soal amalan

“Kalau engkau memperturuti (keyakinan atau amalan) kebanyakan manusia di bumi ini, pasti mereka akan menyesatkanmu dari jalan Alloh.”

(QS Al-An’aam : 116)

Beberapa waktu yang lalu saya terlibat diskusi asyik dengan seorang teman. Awalnya hanya diskusi kegiatan kuliah, kelompok studi, planning 1 bulan ke depan hingga akhirnya membawa kami mendiskusikan perihal amalan dalam islam.

Saya dan dirinya memang mendatangi forum mengaji yang berbeda. Anggap saja saya mendatangi forum mengaji A dengan Ustadz A dan dirinya mendatangi forum mengaji B dengan Ustadz B. Mulanya saya bercerita mengenai pertanyaan seorang teman saya yang lain mengenai beberapa hal ketauhidan via sms beberapa waktu lalu.

Dari diskusi mengenai tauhid, kami menjadi asyik membicarakan perihal lain seperti berjabat tangan dengan non-mahram, bagaimana menjaga hijab dan berperilaku di muka publik sebagai seorang muslimah.

Berjabat tangan misalnya, sering kita jumpai seorang pemuka agama di kampung berjabat tangan dengan sodara wanita yang bukan mahram. Hal tersebut menjadikan masyarakat yang melihatnya menganggap berjabat tangan dengan non-mahram adalah perihal lumrah. Padahal bila boleh ditanya, ustadz tersebut -insyaAlloh- akan menjawab kalau hakikat bersentuhan dengan pria-wanita non-mahram meski dalam lingkup karib kerabat adalah haram dalam islam. Meski ada beberapa ulama yang membolehkan dengan syarat melapisi tangan dengan kain agar tidak bersentuhan langsung dengan kulit. [baca ini, ini juga]

Nah, dari sini tampak adanya perbedaan bilamana disandingkan antara ustadz yang mau bersalaman dengan ustadz yang tidak mau bersalaman. Lalu muncul lah asumsi masyarakat yang mengkotak-kotakkan ustadz-ustadz tersebut, padahal sesungguhnya ini bukan soal berbeda ilmu namun ini soal perbedaan amalan. Artinya, bukan mereka menganggap itu boleh, tapi karena mereka tak mampu menolak untuk bersalaman.

Hal-hal tersebut adalah perihal yang memang sering menjadi perbedaan antar sesama muslim. Padahal sebenarnya ilmu yang menjadi dasarnya adalah sama. Ketidakpahaman akan suatu hal sering menjadi musuh bagi manusia yang tidak memahaminya. Jadi semua kembali lagi pada wajibnya kita menuntut ilmu agama yang nantinya menjadikan kita paham akan hukum dan nilai-nilainya. Bukan malah berkelit untuk tidak tahu karena takut terkena dosa atasnya bilamana kita mengetahui hukumnya.

Seorang teman berkata, “mempelajari islam itu wajib (fardhu ain) hukumnya bagi setiap muslim, tidak peduli dia seorang profesor/dokter/lainnya. Artinya jika ditinggal ada dosa atas kita. Mendatangi majelis ilmu juga untuk menjaga kualitas iman kita”

CMIIW. Wallahu’alam bishawab.

credit : terlampiršŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s