[mBolang] #9 Gunung Api Purba [Mission Completed]

Keinginan untuk berkunjung ke Gunung Api Purba Nglanggeran sebenarnya semenjak awal tahun 2013 kemarin. Namun baru dapat terealisasikan minggu kemarin (30 Sept-1 Okt 2013). Kegiatan kemarin pure acara mbolang yang sempat tertunda selama beberapa hari karena beberapa sebab.  Meski sedikit ruwet hingga detik keberangkatan, nyatanya saya, Nisa, Maje, Hipo, Anne, Thiara, Ocid, Tunjung dan Revo tetap menggeber motor menuju Nglanggeran yang ntah dimana lokasinya. Untung saja Anne sempat melihat papan jalan penunjuk Nglanggeran saat magang di LIPI Jogja. Meski dengan ketidakpastian kami nekat mount climbing Gunung Nglanggeran.

INI INDONESIA BUNG !!

Aktivitas mbolang kemarin adalah yang paling sering “mampir” di jalan. Perjalanan menuju Jogja yang sebenarnya bisa ditempuh kurang dari 2 jam, nyatanya memerlukan waktu lebih dari 3 jam untuk sampai Candi Prambanan. Berangkat pukul 09.00 dari Solo, kami rehat sebentar di Alfamart Kartosuro sembari menunggu Tunjung dan Revo. Kembali melaju dan rehat di lokasi mangkal angkot Terminal Prambanan guna menunggu dome yang akan diantar teman Nisa dari Jogja. Karena mendengar adzan dhuhur kami memutuskan pergi ke Masjid depan Candi Prambanan, sholat dan rehat hingga ba’da Dhuhur. Mengingat sudah jam makan siang, kami mampir di Sop Pak Min.

Perjalanan kembali dilanjutkan menuju Gunung Nglanggeran melewati Piyungan. Gunung Nglanggeran sendiri terletak di kawasan Baturagung di bagian utara Kabupaten Gunungkidul dengan ketinggian antara 200-700 mdpl, tepatnya di desa Nglanggeran Kecamatan Patuk dengan jarak tempuh 22 km dari kota Wonosari . Kawasan ini merupakan kawasan yang litologinya disusun oleh material vulkanik tua dan bentang alamnya memiliki keindahan dan secara geologi sangat unik dan bernilai ilmiah tinggi. Dari hasil penelitian dan referensi yang ada, dinyatakan gunung Nglanggeran adalah gunung berapi purba.

Meski diwarnai insiden motor-nya-thiara-mogok-tengah-jalan dan revo-tampak-shock-karena-motor-astreanya-adu-kekuatan-dengan-supra-nya-thiara, kami sampai dengan selamat di kaki gunung Nglanggeran sekitar pukul 13.30 WIB. Dan karena sengatan matahari yang luar biasa, kami tidak langsung melakukan pendakian *panas ma meen*. Jadilah kami killing time mengobrol dengan pemuda setempat yang juga pengelola kompleks wisata purba di Nglanggeran. Baru setalah waktu Ashar lewat, kami memutuskan pendakian.

Pendakian diwarnai tawa-celoteh-ngaco tentang film 127 hours sampai Thiara yang did some silly thing yang memang bully-able. Perjalanan dari Pos 1 hingga Pos 4 dilakukan dengan santai, meski memang ada saja obrolan usil yang bikin tertawa sampai bergidik merinding.

Setelah melalui Pos 4 menuju Pos 5, kami melihat gugusan batu besar. Tanpa berpikir panjang Ocid, Tunjung dan Revo lantas memanjat batu tersebut. Saya yang di belakang ikut-ikutan. Dan betapa menakjubkan manakal sudah berada di atasnya. Hamparan perbukitan, lembah, sawah dan pemukiman penduduk tampak kecil dari sini.  Seperti berada di titik tertinggi wilayah Kidul Jogja. Siluet matahari yang hampir terbenam memaksa kami bersegera menuju puncak, berniat melihat tenggelamnya matahari lebih jelas.

Nyatanya sesampainya di Puncak kami disambut hembusan kencang angin gunung yang mengalihkan perhatian kami dari matahari tenggelam. Bukannya duduk khidmat menatap sang surya pulang ke haribaan, kami malah asyik berpose dan berteriak tak jelas di puncak Gunung Nglanggeran. Memang saat itu hanya ada kami, dan rombongan lain yang berada di sisi lain puncak. Jadi toh mau bertindak seperti apapun seolah puncak ini miliki kami. Bebas. Lepas.

Saat hari mulai gelap kami turun dari puncak untuk mendirikan dome, mencari lokasi terbaik untuk menghindari hembusan angin malam.

Makan malam terbaik di gunung adalah mie instan dengan taburan sosis ayam-sapi. Tambah nikmat ketika semuanya berkumpul, berpusat pada nyala api kompor, menikmati makan malam sambil bercerita ringan. Usai makan, dan sholat maghrib beberapa dari kami membersihkan dome , beberapa lainnya beristirahat usai pendakian melelahkan penuh peluh akibat terik matahari yang menyengat meski pendakian kami lakukan sore hari.

Acara malam kami isi dengan usulan dari Hipo yaitu permainan truth or dare meski tidak ada tantangan yang mesti dilakukan karena kami “dipaksa” menjawab semua pertanyaan yang diajukan. Setiap orang diberi kesempatan memberi 1 pertanyaan, yang menjawab ditentukan dengan menghitung berdasar kosa kata dalam lagu yang dinyanyikan. Lagu yang kami pilih adalah lagu anak-anak yang mudah dan dihapal banyak orang seperti bintang kecil, balon ku ada lima, burung hantu. Yang bikin seru adalah saat diajukan pertanyaan mengenai asmara *ehem*, ini memang topik menyebalkan yang tidak dapat dielakkan terlebih di usia kami ini *Sumpah, ini seperti berasa usia matang buat nikah*. Satu per satu terungkaplah isi hati Ocid, Hipo, Revo, Maje, Thiara, Nisa, Anne, dan Tunjung. Saking terlarutnya, acara diakhiri dengan tangis haru. *hohoho*

Adzan Shubuh berkumandang, saya bergegas bangun dan keluar dari dome usai semalam tidak mampu tidur nyenyak karena-mendengar-suara-helaan-nafas-aneh-dari-balik-dome-padahal-tak-ada-siapapun disusul Nisa bergantian sholat shubuh kemudian memutuskan pergi ke puncak dengan maksud melihat sunrise-meski-naas-karena-tertutup-kabut. Sejenak kami di puncak hingga pukul 6 pagi lalu kembali turun menuju dome, para wanita lainnya masih di dalam dome melakukan rutinitas pagi wanita. Setelah cemerlang, Maje, Hipo dan Anne mulai menyiapkan sarapan bagi kami semua.

Usai sarapan kami tak langsung turun gunung, melainkan kembali ke puncak, foto-foto dengan berbagai macam gaya, rehat lalu beberapa tertidur (lagi) *hohohoh*. Pukul 9 kami turun gunung, dan matahar sudah cukup menyengat kulit. Rute yang kami ambil berbeda dari rute naik kemarin. Rute turun ini lebih ekstrim ketimbang rute naik, mulai dari turun berpegangan tali, berjalan miring karena diantara tebing curam hingga diantara dua bebatuan besar yang sempit. Yang jelas, rute turun nya jauuuuuhhhhh lebiiiihhhhh kereeennn, memacu adrenalin *halah😀 *.
Perjalanan turun jauh lebih cepat, karena memang kami ingin bersegera membersihkan diri akibat keringat dan panas matahari yang membuat badan tidak nyaman. Sesampainya di sekretariat, satu persatu dari kami membersihkan diri. Usai membersihkan diri, bukannya langsung pulang ini malah beralih basecamp ke pendopo untuk kembali makaaan. Ketika yang lain makan, saya memutuskan untuk tidur. Tanpa terasa, waktu menunjukkan pukul 13.00, dengan bermalas2an kami pun kembali melanjutkan perjalanan kembali ke Solo. Ahya, [kembali] makan bakso superjumbo di sekitar jalan Piyungan.😀
Sampai di Solo dengan selamat dan kegembiraan karena terealisasi juga impian berkunjung ke Gunung Api Purba, minus Tunjung dan Revo yang kembali ke rumah masing2. Yeaaayyy…. Alhamdulillah. Mission COmpleted
View dari puncak Gunung APi Purba Nglanggeran

View dari puncak Gunung Api Purba Nglanggeran. DANGEROUSLY BEAUTIFUL !! INI INDONESIA BUNG !

—–
The Agents : Annisa, Anne, Majedha, Hipo (Isnaniar), Thiara, Ocid (Teguh), Tunjung, Revo and me😀

2 thoughts on “[mBolang] #9 Gunung Api Purba [Mission Completed]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s