[Moving Class] #12 Melebur dalam LanJut

Dua minggu yang lalu, saya dan lebih dari 20 orang teman lainnya melakukan pendakian ke Gunung Merbabu melalui jalur Tekelan-Kopeng, Salatiga. Ah, bukan semacam pendakian hingga puncak gunung, hanya saja kemarin pendakian dilakukan untuk Diklat Lanjut Kepak Sayap Sc., sekaligus mengumpulkan database burung di Jalur Pendakian Tekelan-Kopeng. Berangkat sekitar pukul 15.00 WIB yang terbagi menjadi 2 kelompok, yakni mereka yang bersepeda motor dan mereka yang menggunakan bus. Saya dan 24 orang lainnya termasuk dalam kelompok yang menggunakan bus melaju normal menyisir jalan pinggiran Solo hingga tak terasa hampir 3 jam dalam perjalanan diselingi oleh gojegan seru satu sama lain. Kami yang senior (?) memang berkumpul duduk di kursi belakang, ada Burhan, Hanni, Annisa, Tunjung, Yanuar, dan Nugroho membicarakan banyak hal dari hal serius sampai hal konyol yang sebenarnya memalukan untuk diceritakan. Sebenarnya ada Rino, namun ia duduk jauh di depan, di samping pak Sopir.

LATIHAN TINGKAT LANJUT, KEPAK SAYAP Sc @ Kopeng, 30 Agustus-1 September 2013

Tepat usai adzan Maghrib kami sampai di lokasi. Rehat sejenak di masjid kampung untuk sholat Maghrib sekaligus menunggu waktu sholat Isya sebelum melanjutkan perjalanan menuju basecamp.

Perjalanan menuju basecamp dilakukan dengan berjalan kaki. Sebenarnya bukan masalah besar, karena jarak masjid dengan basecamp relatif dekat, tapi yang bikin jadi big problem itu karena kemiringan jalan hampir 50o derajad, serius . Sedikit shock, saya dan beberapa yang lain mulai ngos-ngos-an ketika berjalan. Hingga akhirnya merasa lega saat beban dipundak dan yang dijinjing dapat diletakkan di basecamp yang ternyata sudah ada beberapa pendaki lain yang akan melakukan pendakian malam itu.

Agenda pertama setibanya di basecamp adalah MAKAAAAANNNN

Karena makannya prasmanan, jadi ceritanya ada beberapa yang kalap. *rahasia umum*. Usai makan sekitar pukul 8 malam, kami bersiap-siap melakukan pendakian. Terbagi menjadi 3 kelompok besar, tiap kelompok terdiri dari hampir 10 orang. Alasannya untuk efisiensi waktu, karena dari pengalaman kemarin saat pendakian yang dilakukan dalam kelompok besar tidak terjadi efisiensi waktu sehingga semakin lama untuk mencapai target. Dengan kelompok yang terdiri 10 orang ini pun semakin memudahkan dalam menjaga satu sama lain.

Baru meninggalkan pemukiman penduduk, gerimis pun datang. Awalnya kami mengacuhkannya, namun lambat laun ketika kelompok 1 sudah jauh di depan dan kelompok 2-3 masih di belakang, gerimis lambat laun berubah menjadi guyuran ringan dan semakin kami menapakkan kaki ke depan its became heavy rain, hujan lebat yang diselingi suara gemuruh halilintar . Naasnya saya tidak bawa jas hujan karena ketinggalan di motor *ceroboh*, meski jaket sudah semi-parasit nyatanya tidak menjadikan saya dalam kondisi kering, malahan si air sudah mulai menyusup menembus kulit , walhasil saya dan beberapa teman yang lain yang senasib berlindung dengan menggunakan flexit (?) flysheet yang panjang dan lebar. Bagi yang susah membayangkan, posisi kami yang berada di bawah flexit (?) flysheet itu sudah seperti baronsai, ada lima orang,

Saking derasnya, tanah tempat kami berpijak berubah menjadi lumpur yang membawa ranting-ranting atau seresah daun dari atas. Harus hati-hati dalam berpijak, salah pijakan saja bisa membuat kita terpeleset. Ketika merasa tak ada tanda-tanda hujan akan mereda, demi keselamatan bersama Burhan mengusulkan untuk kembali turun ke basecamp mengingat banyaknya anggota yang ikut pendakian dan kanan-kiri kami adalah pohon-pohon besar yang bisa saja tumbang kapan saja. Alan pun berusaha mengejar kelompok 1 yang berada jauh di depan kami. Sambil menunggu kelompok 1, kami memastikan tak ada dari kami yang hilang. Hujan yang lebat serta tak adanya penerangan menyebabkan rendahnya jarak pandang kami, sehingga dalam berjalan harus saling menjaga dan dekat-dekat meskipun sudah membawa senter.

Tak berapa lama, ternyata kelompok 1 memiliki inisiatif yang sama untuk kembali ke basecamp mengingat Pos 1 masih jauh di depan. Setelah semua berkumpul, kami pun kembali ke basecamp. Karena memang jalanan yang licin, beberapa dari kami terpeleset *termasuk saya*. Akhirnya Badan yang basah menjadi kotor karena tanah basah yang berubah menjadi lumpur.

Sampai di basecamp, kami segera mengganti pakaian yang basah dengan pakaian kering agar suhu tubuh tetap dalam kondisi hangat untuk menghindari meriang atau serangan angin lainnya . Karena banyaknya peserta LanJut, beberapa dari mereka tidak melengkapi diri dengan sleeping bag atau sarung atau penghangat tubuh lainnya yang sebenarnya basic thing yang harus dibawa saat berada di alam. Untuk apa ? untuk tidur laaa… biar nggak kedinginan. Jadi meskipun sudah di dalam basecamp nyatanya masih banyak yang merasa kedinginan akibat hujan yang tak kunjung reda. Saking dinginnya beberapa cowok pun rela tidur di ruangan pawon (dekat tungku memasak) demi menjaga tubuh tetap hangat.

Pagi harinya, tepat sebelum adzan Shubuh, Saya dan Hanni terbangun. Satu karena bunyi alarm HP, dua karena Yanuar dan Nugroho amat berisik, ketawa-ketiwi nggak jelas yang bikin tambah bete. Meski masih bermalas-malasan untuk meninggalkan dipan tempat kami tidur, saya dan Hanni akhirnya memutuskan meninggalkan dipan ketimbang harus adu argumen dengan Yanuar dan Nug.

Sedih saat lihat banyak adik tingkat peserta LanJut harus tidur berdesak-desakkan, tapi rasa bahagia menyisip ketika rasa kekeluargaan menjalar diantara kami. *tsaaahhh

Menjelang pukul 5 pagi, satu per satu pergi ke masjid untuk sholat Shubuh. Usai sholat shubuh karena tak ada jatah sarapan jadilah kami makan seadanya. Baru setelah senam pagi dan packing ulang, yaitu pukul 07.30 WIB, kami melanjutkan perjalanan menuju Pos 1 Gunung Merbabu untuk pelaksanaan diklat Lanjut mengingat adanya beberapa rundown yang terlewatkan akibat hujan yang mengguyur semalam.

Sama seperti saat pendakian malam, pendakian pada pagi hari juga dibagi menjadi 3 kelompok besar. Yang mana semua kelompok baru berkumpul dititik Pos 1 setelah melewati pukul 09.00 WIB. Relatif lama memang, mengingat pos 1 Merbabu hanya sekitar 1300an mdpl.

Setelah semua berkumpul, bukannya segera mendirikan dome atau tenda, tapi ini Teguh dan beberapa rekan lainnya sibuk mengaitkan tali rafia dari satu pohon ke pohon lainnya . Sebagai apa ? sebagai jemuran sodara2. Iya, karena kondisi saat kami naik mayoritas dengan menggunakan atau membawa pakaian basah akibat air hujan semalam. Sudah macam laundry saja Pos 1 kemarin.

Karena memang tidak sarapan dengan layak, walhasil kami pun segera menghidupkan tungku dan menyalakan api dengan daya Gas 3 KG yang dibawa oleh Leonardo de Rino . Sesuai rencana, kami memasak makanan berkuah, Sayur Sop. Masaknya memang dengan bumbu ala kadarnya, alhamdulillahnya di Pos 1 ini dekat dengan mata air sehingga mengenai kebutuhan air dapat tercukupi.

Tak membutuhkan waktu lama untuk memasaka karena saat pukul 12.00 WIB semua nya telah makan pagi yang dirangkap dengan makan siang. Acara selanjutnya adalah ISHOMA yang dilanjut dengan materi mengenai tips trik packing yang disampaikan oleh Burhan hingga menjelang Ashar. Saat penyampaian materi ini beberapa hal yang perlu dicatat adalah seefisien mungkin dalam membawa barang, tidak perlu banyak yang nantinya malah akan menyusahkan namun yang terpenting adalah barang yang kita perlukan dapat ter-packed dengan baik. Membawa barang2 substitusi juga perlu untuk mengurangi space yang terbuang percuma, seperti daripada membawa shampo dan sabun lebih baik membawa sabun yang dapat digunakan untuk shampo. Praktis dan tidak boros tempat. Baru setelah sholat Ashar, agenda berikutnya dilaksanakan yakni pengamatan burung sore hari hingga menjelang Maghrib.

Saya, Nisa, Burhan, Hanni, Aul, dan Nug yang memang tidak mengikuti kegiatan birdwatching mendapat amanah untuk menyiapkan makan malam. Menu kali ini adalah Tumis Buncis-Wortel. Meskipun tak ada wajan penggorengan, panci pun kami gunakan untuk menumis sayuran dengan kompor gas subsidi yang dibawa Wisnu. Menjelang Maghrib, Raja dan Raga yang memang menyusul kami di hari ke-2 baru sampai Pos 1 dan mereka memutuskan bergabung dengan rekan2 lain yang melaksanakan birdwatching.

Ketika adzan Maghrib terdengar, satu per satu kelompok yang melaksanakan birdwatching kembali ke “sarang”. Beberapa diantara mereka menyiapkan kayu bakar untuk kegiatan api unggun, beberapa lainnya menyiapkan peralatan makan untuk acara makan malam, adapula yang beristirahat dan adapula yang sudah mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat maghrib.

Usai Ishoma maghrib dan Isya, kami makan malam. Dengan penerangan seadanya dan cahaya rembulan semua tampak sempurna dilakukan, atmosfer kekeluargaan melingkupi kami semua, tak ada senioritas di sini, hanya saling berbagi pengalaman. Semua melebur jadi satu dalam kegiatan LanJut. Apalagi usai makan kami melakukan sharing pengalaman dan informasi mengenai survival thing, Burhan dengan pengalaman saat ekspedisi NKRI lalu dan Diagal dengan pengalaman pendakiannya di beberapa gunung. Sayangnya semua terhenti ketika titik air berjatuhan satu persatu dan semakin deras sehingga memaksa kami untuk segera menyelamatkan diri dan berlindung untuk tidak mengalami hal serupa di lokasi yang sama.

Karena titik hujan, kami “dipaksa” untuk istirahat. Dan mengakhiri malam seru dengan singkat.

Pagi hari nya, setelah mendengar bunyi alarm HP, saya terbangun, gagal tidur lagi meskipun teman2 yang lain belum menunjukkan geliat “kehidupan” mereka. Sambil memberanikan diri, saya keluar dari dome, pergi ke sumber air untuk menggosok gigi dan bergegas mengambil air wudhu karena adzan shubuh telah berkumandang. Tak berapa lama, Nisa bergabung bersama saya. Dari kejauhan, Wisnu dan Ahmad pun menuju sumber air. Selanjutnya satu per satu pun terbangun dari tidur mereka.

Pukul 6 pagi ketika semuanya telah bangun, agenda yang mesti dilaksanakan adalah pengamatan burung sebagai syarat “naik kelas” nya peserta Latsar menjadi anggota Lanjut. Di sini, saya, Hanni dan Aul mendapat amanah sebagai tim P3K yang berada di Pos bayangan antara Pos 3 dan Pos 4. Pos 1 dijaga oleh Teguh dan Yanuar, Pos 2 oleh Tendi dan Alan, Pos 3 oleh Nisa dan Deni, Pos 4 oleh Rino dan Tunjung. Masing2 pos memiliki perannya masing2, mulai dari mengisi materi mengenai morfologi burung, jenis burung, hingga beberapa pertanyaan basic mengenai burung.

Kelompok pengamat burung terbagi menjadi 4 kelompok yang terdiri dari 5 hingga 6 anggota. Masing2 kelompok berangkat dari Pos 1 dengan jeda waktu kurang lebih 10 menit. Karena saya berada di Pos bayangan antara Pos 3 dan pos 4 walhasil banyak waktu luang hingga tim pertama datang ke Pos kami. There were many thing we did, dari foto2 gajes, sesi curhat, saat saling mengamati burung (Sepah Gunung, Elang Hitam, Alap-alap) dan takjub oleh pemandangan yang ada. Untung saja ada Hanni dan Aul yang menemani di Pos P3K.

Pukul 11-an, semua kelompok telah melewati Pos P3K tanpa terluka sedikitpun, walhasil pukul 12.00 WIB kami semua telah kembali ke Pos 1 Merbabu dan bersiap2 untuk segera pulang karena bus telah menunggu di basecamp. Sebelumnya kami melakukan apel singkat sebagai bentuk bahwa rekan2 Latsar telah resmi “naik kelas” menajdi anggota Lanjut yang nantinya akan disiapkan untuk naik kelas menjadi anggota “Lahir”.

Saat perjalanan turun gunung, saya dan sebagian besar teman2 Biologi 2009 yang memang berada di baris terakhir berjalan santai dan mengira bahwa kami memang kelompok terakhir dari rombongan kami yang menuruni merbabu. Namun tak dinyana, ketika sampai diturunan dengan kondisi jalan bercabang, beberapa rekan yang baru saja dilantik menjadi anggota Lanjut ternyata berada di atas kami (iya mereka berjalan di atas bukit tepat di atas kami), itu artinya mereka berjalan lebih jauh dari rute sebenarnya. Hahahah…. untung saja tidak tersesat . As you know,  rute merbabu memang berkelok2 bahkan jalan setapak menuju puncak dapat tersamarkan oleh jalan setapak lainnya.

Dan usai membersihkan diri dan sholat Dhuhur, kami pun berjalan menuju bus jemputan untuk kembali pulang ke rumah-kost masing2. Dan kami sampai kampus tercinta usai pukul 5 sore.

Lelah yang penuh hikmah, pemahaman satu sama lain dan menambah banyak pengalaman lahir batin pokoknya. *colek Nisa, Hanni dan Aul🙂

—-

ditulis Nunung Ria,

diselesaikan 21 Sept 2013 23:46 WIB

2 thoughts on “[Moving Class] #12 Melebur dalam LanJut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s