[mBolang] #8 Laskar Warna-warni

Tiga wanita dan tujuh laki-laki, apalagi kalau bukan laskar warna-warni.

Alkisah dua hari yang lalu, berawal dari ajakan Rino, saya pun mengiyakan manakala sudah mendapat anggukan kepala dari Maje. Nggak enak aja main2 tapi cuma seorang diri ceweknya . Malam hari nya setelah kembali memastikan dan mendapat ACC resmi dari sang koordinator, Nisa yang berada dirumah pun langsung saya kabari, demikian halnya dengan Maje.

Pagi hari nya saya pun cus menjemput maje di kostnya untuk menuju basecamp boediman. Di boediman, ternyata baru ada Ocid dan Burhan yang “sibuk” balapan liar dan tuan rumah, Deni yang menyambut kami dengan senyum lebarnya.

Rino yang memberi kode untuk berkumpul pukul 08.00 WIB, ternyata belum tampak. Asyik ngebrel2 bareng Deni – Maje, Leonardo de Rino pun datang bersama Tomcat yang meraung2 liar. Karena sang koordinator belum hadir, kami pun melanjutkan obrolan seru kami perihal “relationship” *tsaaahhh, dalem bener ini mah*._

Pukul 9.13 WIB, finally, sang Koordinator dengan langkah gontainya sampai di boediman. Ocid beserta Burhan pun keluar dari sarang, dan tak berlama-lama lagi, kami pun cus menuju destinasi yang sebenarnya belum pasti demi mencari “wilayah suci”.

Tujuan kami adalah negeri antah berantah, sebut saja Negeri Air yang memiliki “wilayah suci” dimana konon katanya dihuni oleh ribuan makhluk air bersayap . Dalam perjalanan, yang relatif jauh ini, menjadikan Maje terkantuk-kantuk. Helm yang ia pakai, beberapa kali bersinggungan dengan helm yang saya pakai . Di antara perjalanan menuju Negeri Air ini kami menjemput Tunjung di dekat Nguter, ketika sudah melalui perbatasan Negeri Air kami menjemput Alan dan saat sudah sampai lokasi kami menunggu Nisa yang berangkat dari rumahnya.

Karena hari telah siang menjelang dhuhur, kami pun memutuskan untuk mengisi perut setelah berkeliling sebentar mencari “wilayah suci” yang tampaknya tidak ada di daerah timur Negeri Air . Berdasar rekomendasi Nisa, kami makan spesial botok spesies air di lokasi yang tak jauh dari tempat kami berkumpul sebelumnya. Subhanalloh, semuanya makan dengan lahap, hanya sedikit yang tersisa *hhahaha *. Moment-moment seperti ini yang bikin seneng kumpul-kumpul bareng teman2, walaupun nantinya bakal bikin sedih saat ada yang nggak bisa kumpul bareng atau ketika misi mencari “wilayah suci” ini berakhir.

Nah, selanjutnya usai makan kami menuju masjid yang berada di belahan lain Negeri Air ini. Usai sholat dhuhur, kami kembali rehat sejenak sembari berdiskusi mengenai daerah yang berpotensi besar sebagai “wilayah suci”. Setelah memetakan daerah Negeri AIr, kami pun menuju ke barat untuk mencari “wilayah suci” demi membuktikan keberadaan makhluk air yang bersayap tersebut.

Pemberhentian selanjutnya adalah kawasan berpenghuni yang manakala kita berjalan smakin ke dalam maka kita akan menjumpai cekungan besar berisi air yang diduga sebagai habitat utama makhluk air bersayap tersebut. Namun demi menuju kawah air tersebut, banyak alang rintang yang meski kami lalui. Jalanan yang sempit dan tidak stabil, terik matahari yang menyengat, serta tidak adanya perlindungan yang memadai untuk menghindari kenampakan kami dari makhluk air tersebut.

Tapi perjalanan menuju titik ini sedikit memberi titik cerah bagi kami. Saat kami menghentikan laju motor, finally *backsound : we are the champion * kami melihat ada banyak sekali makhluk air bersayap yang konon katanya hidup di atas air sedang asyik bercengkrama dan tampak mencari makan di sela-sela tumbuhan air yang ada. Beberapa dari kami, seperti Rino, Tunjung, Burhan dan Ocid mencari lokasi strategis untuk dapat melihat makhluk tersebut lebih dekat. Sedangkan kami yang tersisa memutar otak, memikirkan apakah daerah ini layak untuk kami huni barang sehari atau dua hari.

Setelah semuanya berkumpul, kami pun kembali merundingkan hal-hal rahasia yang perlu dibahas. Namun tidak ada titik terang, akhirnya kami memutuskan mencari wilayah lain yang lebih strategis untuk melihat makhluk air bersayap tersebut.

Perjalanan kali ini terbilang lebih jauh, lebih dari 20 Km, padahal daerah yang kami tuju ini tampak sepelemparan batu dari titik kami melihat makhluk air bersayap sebelumnya . Rute yang dilalui jauh lebih ekstrim, dengan tanah tak beraspal yang sempit dengan kanan-kiri ada tumbuhan bambu ataupun semak belukar liar yang bila tak hati-hati dapat menampar atau menjerat kita.

Burhan dan Ocid yang sadar bahwa stamina kami mulai terkikis, memberi air suci untuk menolong kerongkongan kami dari kekeringan berkepanjangan . Seolah-olah seperti stimulus, Maje yang terkantuk kembali ceria di belakang kursi kemudi.

Titik kedua kali ini memang lebih luas ketimbang titik pertama di wilayah barat Negeri Air ini, namun tampaknya belum ada kepastian dari kami semua untuk menghuni tempat ini meskipun dari tempat ini kami dapat melihat tujuan kami dengan jelas. Yang ada saat sampai di titik kedua ini, kami ngebrel ngalor-ngidul saling ejek dan tunjuk yang sesekali diselingi gelegar tawa riuh-rendah. Cukup lama kami berdiam diri di titik kedua ini, hingga adzan Ashar berkumandang kami masih bergeming, diam ditempat, hanya mulut dan mata yang bergerak.

Pukul 4.00 WIB, kami memutuskan kembali setelah mampir sebentar ke titik ketiga, meski dengan hasil yang belum pasti. Mungkin masih perlu didiskusikan lebih lanjut, pikir saya. Karena memang keputusan yang akan dibuat, nantinya akan menjadi maslahat bagi banyak individu antar spesies.

Usai sholat ashar di masjid yang kami lalui, kami pun berpisah dengan Nisa yang harus kembali pulang ke rumah. Dengan 8 orang yang tersisa (setelah Tunjung turun di depan rumah nya), kami kembali ke Solo dengan santai.

Saat waktunya adzan maghrib, Deni dan Yanuar yang memang berada di depan saya dan MAje mengajak untuk kembali mengisi perut di warung makan terdekat dari Solo. Tanpa banyak basa-basi, kami pun menuju lokasi dan melanjutkan obrolan yang sempat tertunda usai sholat maghrib dan makan. LAgi-lagi, memori yang terpendam menjadi bahan obrolan kami semua. Alih-alih memikirkan hari esok, kami bernostalgia dengan memori terdahulu dan tawa membahana manakala kami mendapati peristiwa lalu menjadi hal yang lucu dan konyol untuk kembali diperdengarkan.

Yah, memang seperti ini saat umur senantiasa bertambah. Semua terasa nostalgia indah ketika kembali diingat. Dan ada waktunya nanti laskar warna-warni untuk berpisah.

Para Pendekar : Yanuar (yance), Rino, Deni, Burhan, Teguh (Ocid), Alan, Tunjung, Annisa, Majedha, Nung Ria

——

(Nung Ria, selesai disusun 16/09/2013 16:00 WIB)

2 thoughts on “[mBolang] #8 Laskar Warna-warni

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s