[Moving Class] #11 Twelve Hours From Home

lawu collage_1

Ini kali keempat berkunjung ke Lawu, kali ke tiga melalui pos 2, dan kali kedua untuk sampling lumut dan lichenes serta kali pertama untuk menjelajahi gunung lawu hingga pos 2 tanpa perlu ng-Camp. Walaupun belum pernah sampai pucuk gunung lawu. Great.

Lama waktu yang ditempuh ialah 11 jam, terhitung dari rumah (04.45 WIB) hingga pukul 16.30 WIB manakala meninggalkan Gunung lawu. Keputusan pendakian kemarin sangat cepat, Opi dan Cenul sebagai leader project sampling lumut dan Lichenes mau tak mau harus melakukan sampling ulang akibat sample mereka diserang jamur , padahal ntu sample mau dibawa ke Jakarta untuk next step penelitian mereka .  Jadi selasa usai mereka memutuskan untuk naik lagi, Saya dan Ika *usai “berunding” dengan Nisa* pun memutuskan ikut demi kemaslahatan dan keamanan bersama.

Hari Jum’at kami briefing sebentar mengenai apa2 saja yang mesti kami bawa pada Sabtu nanti. Zul, Nugroho, Arif dan Toni adalah rekan2 yang ikut membersamai kami pendakian nantinya. Hasil briefing memutuskan bahwa kami hanya melakukan sampling hingga pos 2, berangkat dari Solo pun harus pagi2 sekali karena memang tidak ada niatan untuk ngCamp di sana nanti. Sempet pesimis mengenai keputusan tidak ngCamp, saya dan ika pun mengiyakan. Yah semoga tak hujan.

Sabtu pagi, berangkat dari rumah pukul 4.45 WIB. Ah, senang rasanya tiap berangkat pagi seperti ini, jalanan masih sepi dan lagi kita bisa melihat perubahan warna dari semburat kemerahan hingga agak kuning dan akhirnya matahari pun terbit seiring perjalanan.

Pukul 05.33 WIB saya sampai di kost Cenul, di sana sudah ada ika yang menunggu. Tanpa banyak ba-bi-bu, saya dan ika menyusul Opi dan Cenul yang sudah menunggu di Boulevard Kampus. Di sana ternyata sudah berkumpul Zul, Nug, dan Arif. Sedangkan Toni menunggu di depan monumen Pancasila, Karanganyar.  Sedikit koordinasi, packing ulang dan memastikan barang2 yang harus dibawa sudah berada di tas, kami pun langsung melaju menuju Cemoro Sewu melalui Matesih.

Saya dan Opi, Cenul dan Ika, Arif dengan Zul. Saat sampai monumen Pancasila, Toni sudah menunggu dengan santainya, dan Zul pun pindah posis berboncengan dengan Toni. As you know, awalnya Opi hendak ngebonceng Arif, tapi si Arif bilang motornya nggak kuat *hmm * jadilah opi dengan saya usai meyakinkan berkali2 kalau kondisi motor maupun sopir *baca:saya* dalam keadaan prima dan siap tempur.

God. ketika berkendara ini saya dibuat kecewa sama si Arif, masak iya dia jalan di depan kami para wanita sementara di belakang kami hanya ada Toni dan Zul. Tego. eh, usai saya ngedumel qodarulloh motor Arif sedikit trouble, jadilah dia berhenti sementara, saya hendak berhenti tapi sama dia disuruh jalan terus, oke deh, as request saya langsung ngegeber motor dari sebelumnya . Cenul dan Ika pun terlihat dibelakang saya. Perjalanan keberangkatan kemarin walaupun naik motor tapi tak secepat *ngebut* biasanya. Biasanya kalau mbolang bareng temen2 yang lain ngebutnya luar biasa, apalagi pas pulang dari pantai Sepanjang dulu, Meeeennn hampir 100 km/jam, the fastest i could itu biasanya 80 km/jam, tapi dulu terpaksa 90an km/jam gegara harus mengejar para namja yang didepan akibat takut tersesat .

jalanan menuju Cemoro Sewu kemarin terbilang sepi, di tikungan dan tanjakan Matesih pun tak seramai saat kali pertama pendakian ekspedisi INA januari kemarin, mungkin karena kami berangkat pagi jadi aktivitas warga masih belum terlalu tampak menggeliat. Sampai-sampai saat tanjakan pertama Matesih, saya didahului oleh Toni saking sepinya arus dari arah berlawanan.

Selamat berkendara melalui tanjakan Matesih, kali ini saatnya berhadapan dengan tanjakan yang sesungguhnya. Tanjakan usai terminal Tawangmangu. Great. FYI, tanjakan disini itu bikin hopeless buat ngegeber motor. Udah gas pol, tapi seolah2 gaya gesek ban lebih kecil dibanding gaya grafitasi bumi, ketar ketir meeeeennn, Opi di kursi belakang cuma senyum dan kadang hanya berucap, “Riiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii”. Oke Pi, aku yo nervous .

di tanjakan ini, motor cenul terpaksa tereliminasi. Ika harus pindah motor, jadilah Cenul sendirian. Eh, mentang-mentang sendiri, ini si Cenul mendahului saya dan Opi, dan Arif yang memang sedari awal ada di depan jadi semakin tak tampak mata saking jauhnya. Okeee, fineeee.

Saya dan Opi pun penguasa tunggal jalanan kala itu, Toni dan Zul tak kelihatan di Belakang sejak dari terminal tawangmangu. Usai berlelah2 “menanjak”, saya dan Opi berkendara santai menuju Cemoro Sewu.

Arif dan Cenul telah menunggu di lokasi parkir, disusul Saya dan Opi, dan jauh di belakang ada Nug serta Ika. Toni dan Zul belum nampak jambulnya. Ketika sampai, si Ika langsung menghela nafas panjang, Nug pun langsung mengeluarkan suara,

“Mbak nyung, Ika dari tadi berdoa terus pas tak bonceng. Banter bangeeet.”

Cenul nimpali,

“lhah pas bareng aku, dia nya bilang, “mbok sakdurunge ki di cek sik nul motore kuat opo ora”, “oalah nul. ngerti ngunu ngganggo motor ku wae.”, “

hhahaah. khas Ika. ya sudahlah, toh bisa sampai dengan selamat di Cemoro Sewu.

Usai berganti kostum pendakian, kami berjalan bersama menuju Gerbang Cemoro Sewu. Foto. Klik. Klik. Bersiap berjalan dan sarapan. hyaaaaaa

saat sarapan, Zul mengobrol interlokal dengan partnernya di Wilayah Jakarta sana, pamitan deh kelihatannya kalau mau naik gunung. *ihiiiirrrr*. Ngakak itu pas Zul bilang sedang di puncak gunung dan si partner bertanya perihal sinyal telpon, si Zul ngejawab,

“iyah nih, sinyalnya full, ada banyak tower telpon, disini.”

Sarapan kemarin pun serasa imposible banget, di gunung dan saya mendapat roti Wonder dari Nug *dari Meutia*. beeuuuhhh… kapan lagi makan roti wonder di gunung meeeennn.

Setelah sarapan dan berdoa, pukul 07.45 WIB, kami pun dengan semangat mendaki Gunung yang secara geografis berada di wilayah Magetan dan Karanganyar.

Rencana awal, kami naik hingga pos 2 dan sampling dilakukan saat kami turun. Tapi setelah dipikir ulang, rasanya akan lebih efektif bila kami sampling saat naik dan ketika turun nanti tinggal melengkapi sample yang belum sesuai. Meski kurang efisien karena kami harus membawa sampel yang kami kumpulkan dari bawah ke Pos 2. Setelah ditimang2, hasilnya kami sampling sembari naik ke Pos 2.

Ika dan ophi langsung mengenali lokasi2 sampling saat sampai di Hutan cemara. Mereka langsung mencari sampel berupa Lumut Bludru yang digunakan Opi. Setelah dicari dilokasi terdahulu, tak tampak ada lumut yang dimaksud. Sempet sedikit was-was, Cenul, Nug dan Saya pun ikut mencari meski agak2 lupa dengan rupa Lumut Bludru. Setelah mengambil sampel secara random dan menunjukkanya ke Opi, kami mencermati mana saja sampel Lumut yang di-iya-kan Opi sebagai sampel Lumut Bludru yang ia maksud. Setelah yakin, kami mencari sampel yang dimaksud. Tapi, di hutan Cemara ini lokasi epifit yang dulunya ditumbuhi lumut Beludru, sekarang ditumbuhi oleh jenis lumut yang berbeda. Jadilah kami mencari di lokasi lain yang range ketinggiannya masih berada diantara range ketinggian stasiun 1-Lumut Bludru. *usut punya usut, ternyata setelah diamati hingga Pos 2 nanti, kebanyakan Lumut Bludru telah tampak generasi sporofitnya, dulu saat Ekspedisi INA I, yang tampak hanya generasi gametofitnya.

Toni yang sedari awal diguyoni karena style yang mirip penjaga villa *pakai tudung kepala dan kemeja * berada di depan bersama Zul yang semangat 45 mendaki Lawu untuk pertama kalinya. Arif usai berjalan di depan akhirnya membarengi Toni dan Zul. Saya dan Nug di formasi belakang, dan ada Opi di depan saya. Opi tampak kewalahan saat pendakian kemarin, sering berhenti dan penuh konsentrasi saat melangkahkan kaki .

Saat sampai ladang buah-buahan sebelum Pos bayangan air terjun, kami rehat sebentar. Arif yang memakai tas ransel kecil *milik dora* diputuskan untuk berganti tas dengan Opi. dan si Arif pun berkomentar,

“wah berat banget ternyata.”

kami serentak,

yaiyalah.

dan terdengar sliweran suara,

lha dirimu ki pendakian pake tas kecil gitu.”

Well, its fair for Opi and Arif setelah bergantian tas. Hasilnya pun menakjubkan, Opi berjalan jauh di depan saya dan Nug. *Hoho.. level up ya Pi  

Saya, Nug dan Toni di belakang. Arif dan Zul memimpin di depan, dan ika-cenul-opi aman di tengah. Sampai pos 1, kami melepas penat sambil sampling Lichenes Usnea dan Parmilia milik Cenul. di sini kemampuan dan ketangguhan Arif, Zul dan Toni diberdayakan secara maksimal. Karena berada menempel di atas pohon, Toni dibantu Zul memanjat pohon pinus. Ini bukan panjat pinang, tapi panjat pinus. Tinggiiiiiiiii.

dari pos 1 kami melanjutkan perjalanan menuju Pos 2. Waktu menunjukkan pukul 10.47 WIB, kabut pun mulai menuruni gunung, cahaya matahari yang tadi menyinari hangat menghilang di balik kabut. Dalam perjalanan kami mengingat2 lokasi sampling Lumut Bludru di stasiun 2 dan 3. Naas tak terelakkan, hujan turun usai sampling di stasiun 3 . Jadilah kami berhenti sejenak menggunakan jas hujan -mantol- yang telah disiapkan dari rumah. “Yah, hujan beneran deh”, gumam saya, padahal sudah berharap pendakian ini tidak kehujanan seperti sampling INA di pendakian yang lalu.

Lucunya pas hujan kemarin itu, si Nug amat sangat lama ngebenerin posisi coverbag dan tampak tekun menunduk mencari-cari sesuatu. Si Toni yang ada di depan saya langsung deh saya suruh mintain tolong untuk membantu Nug yang tampak kepayahan. eehh.. jebule (red. ternyata) Nug tampak sibuk karena Kacamatanya jatuh dan ia sibuk mencari posisi kacamata yang jatuh tersebut dengan kondisi mata rabun . hhahha…

“ra ketok (red. nggak kelihatan) mbak nung.” akunya.

Tambah ngakak pas ngelihat gaya fashion Arif yang pakai jas Hujan, atasan dan bawahan.

Alhamdulillahnya dari hujan kemarin, tidak sederas saat pendakian INA pertama. dalam perjalanan kami pun melepas jas hujan karena hujan yang mereda. Sambil sampling di stasiun 4 Lumut Bludru, Arif dan Zul berada jauh di depan, dan saat dipanggil tak ada sahutan suara mereka. Tapi anehnya dari kami tak ada yang tampak khawatir dengan terpisahnya Arif dan Zul dengan rombongan. ya sudahlah, kami yang dibelakang yakin mereka aman tentram di depan.

Dan ternyata benar sodara2, saat kalian mendaki Lawu melewat Cemoro Sewu kalian akan melewati track berbukit yang dari situ kalian bisa melihat pendaki yang berada jauh di depan kalian dengan track yang akan kalian lalui nantinya. Jadi, di ujung track sana, sudah bertengger dengan santai  Zul dan Arif sambil sesekali memanggil salah satu dari kami yang berada di belakang. Well…

saat Ekspedisi INA part 2 kemarin, kami menjumpai banyak sekali pendaki yang naik-turun gunung. Kebanyakan dari mereka adalah rombongan, baik rombongan yang hanya terdiri dari 2-3 orang sampai rombongan yang terdiri dari belasan orang. Beberapa dari mereka ada yang sangat ramah dan terkesan teasing us, namun ada pula yang tampak pendiam dan malu2 saat menjawab sapaan kami. Ah, Mungkin karena weekend, dan minggu pertama Juni kemarin kan long weekend jadi banyak pendaki, pikir saya.

Setelah sampling di stasiun 2-lichenes dengan haru biru dan kepala sedikit memanas gegara terantuk ranting pohon yang dipatahkan Toni, kami melanjutkan perjalan menuju Pos 2 yang merupakan stasiun 1-Lichenes yang mana nantinya melewati stasiun 1-Lumut bludru.

Pendakian sangat menyenangkan karena celetukan-celetukan menggelikan yang saling tumpang tindih gara2 sangat cepat proses balasan celetukan satu dengan celutakan lainnya. Celetukan yang sebenarnya konyol dan tanpa makna kalau dipikir ulang. Tapi bikin semua seneng dan tak ada keluhan akibat lelah.

Sampai di Pos 2, pukul 12.15 WIB ternyata sudah sangat ramai orang *yaiyalah, pas kami sampling ada banyak rombongan yang melewati kami*. Jadilah kami langsung ambil sample. Lagi2 Toni beraksi dengan memanjat sangat tinggi pohon yang ditumbuhi Lichenes, yang bikin kasihan itu pas Toni turun dan caranya turun ndak seperti pemanjat profesional, melainkan dia bertumpu pada telapak kaki dan syuuuuuuuttttt…. meluncur dari atas ke bawah . Sumpah itu pasti telapak kakinya panaaaasss dan sakiiiittt… poor Toni. Hebatnya Toni ndak meringis, malah masih semangat geguyonan. Ah, sampai sebegitunya untuk ngambilin sample

Usai sampling terakhir Usnea, kami pun makan siang dengan bekal yang sudah disiapkan Opi dan Cenul. Teluuurrr goreeeenggg, yummy. Walaupun sudah tak hangat lagi, tapi saat dimakan hati menjadi hangat karena makan bersama teman2 seperjuangan *tissuuuu…tisuuuu *

Tak lupa sambil makan sambil foto, sambil ngobrol juga. Hehehe…

selanjutnya kami segera sholat dhuhur berjamaah dan segera turun mengingat sampel Lumut Bludru yang sudah kami temukan selama perjalanan menuju pos 2 sengaja ditinggal di Pos 1-Lumut Bludru karena berat, jadi harus bergegas supaya sampel yang sudah susah payah dibawa naik tidak dibuang karena dikira sampah.

Perjalanan turun dari pos 2, pukul 13.00 WIB, kami lakukan tanpa berhenti, formasi sedikit berubah dimana Toni dan Arif yang sekarang ada jauh di depan, sementara Zul dan Nug mengawal kami para wanita. Nug dengan beban tas cariernya dan Zul dengan kresek bermassa Lumut bludru hasil sampling. Sambil berjalan dan bercerita kesana kemari, kami pun teringat Toni dan Arif, saat dipanggil dan tak ada sahutan muncullah naluri saya untuk ngedumel.

“Ini pada kemana si Toni dan Arif? “, tanya saya

“masih di belakang mbak Nung.” jawab Nug

“Orang mereka udah di depan kok.” sahut Cenul

“Awas aja, mesti udah leyeh2 di pos 1. awas aja .” geram saya

Tuh kan bener. Ternyata mereka sudah ngopi di Pos 1. Tego . saat disapa saya sengaja melengos dan ngomel2 karena mereka sudah duluan di pos 1, sementara kami masih di belakang sambil sampling untuk melengkapi data. Beberapa pendaki tertawa melihat polah kami.

Sampai pos air terjun, karena Toni yang tampak feeling guilty dan terdiam bila tak ditanya, saya jadi kasihan, ya sudahlah, toh kita juga temen dan sama2 pernah bersikap serupa. Jadi merasa bersalah sendiri karena sempet mengacuhkan sapaan Toni di pos 1 tadi. Bolo dewe .

Mendekati hutan Cemara, kaki yang tadinya tampak sehat dan prima mulai merasakan linu dan capek yang luar biasa, serasa ada yang menggergaji kaki dari belakang. Semakin memaksakan diri untuk melangkahkan kaki, rasa pegal semakin terasa. Sedikit terobati saat sampai basecamp gerbang cemoro sewu sambil duduk makan bakso kuah *ini capek pegel apa laper ya

Setelah kenyang, dan sholat Ashar, its time buat pulaaaaaaannggg . dan lagi2 diguyur hujan dari keluar lokasi parkir Cemoro Sewu pukul 16.30 WIB sampai Solo dan tak berhenti hingga sampai Rumah pukul 19.30 WIB. Cinderamatanya adalah lendir di hidung yang terus menerus meler dan batuk berdahak hingga tulisan ini dibuat *9 hari meen 

Saat pulang kemarin, Arif memisahkan diri karena langsung pulang ke Sragen, sama halnya dengan Toni bersama Zul-Nug. Jadinya kami para wanita mampir kampus dulu keperluan meletakkan sampel.

Menyenangkan dan pasti selalu menyenangkan saat bersama teman2, disaat seperti apapun pastilah ada-ada saja cerita yang terkesan saat kebersamaan seperti kemarin. dengan siapapun kebersamaan itu, serasa menyenangkan karena terselip kebahagian dari masing2 orang yang membersamai.

———

Tengkyu Opi dan Cenul yang sekali lagi mengajak kami melaksanakan ekspedisi INA. Tengkyu Arif dan Toni yang mau dijadiin gegojegan, Tengkyu Zul dan Nug yang mengawal dan membantu ngebAwain sampel, Tengkyu Ika dan gaya khasnya. Kemarin adalah Ekspedisi Ekspress. Semoga semester ini penelitian kita rampung dan kita semua bisa ujiaaaaaannnnn. amiiin. Semangat ngLab di Jakarta Opi – Cenul 

——–

 credit picture : own collection, taken by Nung Ria used Cenul's Camdig

2 thoughts on “[Moving Class] #11 Twelve Hours From Home

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s