[Moving Class] #9 Birdwatchers in Action part II

kepak sayap

Hari ke-2,

Sabtu, 27 April 2013

Pukul 1 saya terbangun karena angin malam yang menembus dome, merapatkan jaket dan sarung. Sedikit menoleh, eh ternyata si Ika menginvasi lokasi tidur saya, langsung deh saya geser ntu bocah menjauh *srruuuttt*.  Bukan masalah mencari kehangatannya, tapi saya nggak bisa leluasa geraaaak ma meeennn.

Pukul 2 pagi kami digemparkan dengan menghilangnya si Toni , padahal malam saat briefing Yanuar menyinggung mengenai kejadian orang hilang di Segoro Gunung. Badalah, kemana ntu bocah ? saya sempet berpikir yg macem2 , setelah dicari kesana kemari, dan tidak terlihatnya motor Jupiter Biru milik Toni kami menyimpulkan ntu bocah pulang ke rumah. Usut punya usut katanya berAlasan nggak bisa tidur gara2 dingin. *des* Oh ma men, bayangkan pukul 2 pagi dia turun gunung untuk pulang ke rumah gara2 ga bisa tidur akibat dinginnya malam di gunung ? bukannya ntar malah bakalan kedinginan selama kamu turun gunung dan ngeGeber motor di jalanan, Ton ?? weird

Oke, kita lupakan perihal Toni. Pagi hari pukul 6 pagi, setelah semua personil berkumpul, Kami semua (minus Deni karena Sie Keamanan) pergi tracking menyusuri Segoro Gunung sambil memutuskan bagian mana yang akan dijadikan Pos-pos pengamatan. Belajar dari pengalaman tracking ketika di Tahura dulu, kali ini kami membawa bekal makanan dan minum sekedar mengisi kekosongan perut manakala tracking nanti.

Jalan menuju air terjun pengantin perlu diwaspadai, karena licin akibat ditumbuhi lumut dan dibuat landai bukan beranak tangga. Pegangan di sisi jalan pun telah rapuh akibat terbuat dari bambu, bahkan ada bagian yang tidak ada pengaman sisi jalan . Akibatnya beberapa dari kami tergelincir bebas ketika berjalan menuju  air terjun. Vegetasi nya masih rimbun, didominasi oleh paku-pakuan yang sering kita jumpai tumbuh di dalam sumur, seperti suplir. Bahkan saya sempat berimajinasi kalo sedang berada di era purbakala karena tanaman paku-pakuannya di sini tinggi dan besar2. Beneran.

Setelah dipercabangan jalan, masing2 dari kami berpencar untuk mencari tracking bagus untuk pos ideal. Eh, ketemu lah si air terjun yang ternyata berakses ke jalan buntu, alias mentok emang Cuma buat liat air terjun itu. Akhirnya kami balik arah dan mencoba cabang jalan satunya. Di sini kami melewati gubuk menyerupai gazebo yang lumayan besar, namun sepi dan terkesan tak terawat. Setelah meneruskan perjalanan menembus semak belukar dan mengikuti jejak rumput yang gundul akibat sering diinjak kaki, akhirnya kami berada di jalan utama yang hanya meninggalkan jejak aspal rusak.

Dari jalan utama kami memutuskan untuk naik dari posisi berdiri kami menelusuri jalanan utama yang ternyata cukup jauh dan tak ada percabangan jalan. Niatnya dari menelusuri jalanan ini kami berharap akan menemukan percabangan jalan yang nantinya bisa dijadikan rute tracking sisdiksar dan dari percabangan ini dapat bertemu di satu titik yang sama, sehingga rute tracking dan pengamatan kelompok bisa berbeda satu dengan yang lain.

Cukup lama kami mencari lokasi untuk rute pengamatan burung, hingga pukul 9 nyatanya kami baru kembali ke basecamp melalui jalur masuk Bumi perkemahan Segoro Gunung. Rehat sebentar, dan Nisa pun menginisiasi untuk segera kembali ke dapur menyiapkan makan siang. Dengan peralatan ala kadarnya, kami pun masak nasi porsi besar. Sembari menunggu nasi yang tak kunjung tanak, kami melanjutkan memotong sayuran yang dibeli Teguh dan Deni di hari sebelumnya *as you know, sebagian besar sayur (wortel, kubis, seledri, buncis) sudah dipotong2 oleh Deni berjaga di basecamp. *. Karena sudah 1 jam lebih tanpa hasil yang tak pasti, kami memutuskan mengakhiri masak nasi yang sebenarnya belum benar2 tanak dan berganti memasak sayuran dengan bumbu yang amat minim *bawang putih dan si bumbu serbaguna royco. > alasannya baca part I <*. Setelah pukul 12 lebih kami baru bisa makan siang, yang meskipun dengan nasi belum matang dan sayur tanpa lauk  tapi alhamdulillah si Fibri tambah nasi lagi

Pukul 2 setelah ishoma, kami diberi materi mengenai konservasi oleh mas Ridwan, senior kami dari KS Biodiversitas. Di sini kami dijelaskan mengenai arti penting konservasi dan apa yang musti kami lakukan terhadap konservasi itu sendiri. Well, ini adalah bagian dari Lanjut KS Kepak Seyap. Usai mendapat materi ini, kata Rino, kami resmi Lanjut dan bersiap untuk Lahir (Latihan tingkat akhir) KS Kepak Seyap.

Dijadwalkan pukul 15.00 WIB adalah penyambutan sisdiksar, namun nyatanya sampai pukul 15.30 lebih dan hampir puku 16.00 WIB tidak ada tanda2 kemunculan SISDIKSAR.  padahal ada serentetan agenda yang mesti dilakukan SISDIKSAR pada pukul 16.00 hingga malam *ngalamat molor neh*.

Ternyata eh ternyata, ada beberapa peserta yang telat datang ke MIPA. Bahkan ada beberapa yang membatalkan untuk tidak mengikuti Latsar di saat terakhir. Walhasil sebagian dari peserta ada yang terpaksa naik bus akibat tak adanya motor untuk dibonceng. Yanuar dan Deni yang sampai pertama segera menginstruksikan beberapa panitia untuk menjemput peserta SISDIKSAR yang naik bus tadi.

Setelah pukul 17.00 usai upacara pembukaan dan pendirian dome peserta, Rino, Teguh dan Alan tracking sekali lagi untuk pengecekan rute dan marking area yang akan dilalui peserta keesokan harinya. Sebelum mereka berangkat, kami sempat briefing masalah teknis hingga acara api unggun nanti. Panitia latsar lainnya menyiapkan makan malam dan persiapan acara api unggun.

Pukul 20.00 WIB, Rino, Alan dan Teguh sudah kembali dan sedang makan malam. Panitia lain mempersiapkan api unggun di center pole antara camp panitia dengan camp peserta. Setelah mengkondisikan diri, kegiatan api unggun dimulai dengan perkenalan anggota baru, para sisdiksar. Suasana sangat hangat, cenderung menyenangkan, peserta kebanyakan adalah perempuan. Berbanding terbalik dengan anggota latsar yang ada, dimana Cuma ada 7 orang wanita diantara belasan pria. Lhah ini cowoknya Cuma 6 dari belasan cewek. Anehnya pun ini cewek2 yang ikut tampaknya ada motivasi terselubung deh masuk KepakSayap, begimane ngga curiga, pas ditanya alasan masuk kepak Sayap, jawabannya hampir senada,

“karena ingin dekat dengan Alam.”

Temen2nya malah pada teriak,

“deket dengan Alam Atau Alan ?” sorak-sorai sambil nablok temen lainnya

God , saya dan panitia lainnya hanya bisa saling pandang tanpa mengucapkan kata2

Si Alan yg jadi objek, Cuma menahan senyum antara malu atau geer (?). tanya pada Alan.

Ah iya, pas pertengahan acara saya, eka, nisa, rino, alan, teguh secara terpisah menyendiri *dan berusaha tidak menyita perhatian peserta* dan keramaian api unggun untuk next step yakni peletakan pin yang bakal dicari sisdiksar tengah malam nanti. Trek yang digunakan adalah trek motorcross, jadi nantinya bakal start dari tenda peserta menuruni bukit dengan kondisi yang memang pas untuk pencarian pin. Sebanyak 16 pin disebar dijalur treking utama, lalu bagaimana dengan jumlah pin yang lain ? masak iya ada peserta yang ga dapet pin ? Well, peserta yang tidak menemukan pin di jalur utama nantinya bakal diberi kesempatan untuk memperoleh pin di jalur lain. Kenapa ? yah, menurut hemat saya pencarian pin ini melatih sisdiksar dalam pengamatan dan kejelian mata meskipun dalam kondisi gelap juga bagaiaman kesabaran mereka manakala mencari benda yang tak tahu pasti lokasinya. Ini bukan perploncoan atau bagaimana, karena sudah disepakati dalam kepanitiaan untuk nggak sok galak atau sok paham, Cuma sedikit lebih tegas dan menunjukkan bahwa kami serius dan bertanggungjawab dalam menjadi panitia dan menjalankan tugas.

Lucunya, dari peserta seperti masih agak takut2 saat bertanya ke panitia yang berjaga dan mengamati mereka ketika pencarian pin. Oke itu malam hari, tengah malam malahan dan gelap tanpa ada penerangan tambahan kecuali cahaya rembulan, dan kami panitia berjaga di titik2 tertentu rute untuk menjaga peserta supaya tidak salah jalan. Yah memang sih kami berdirinya sedikit tersembunyi dan tampak terkamuflase oleh gelapnya hutan, orang awam pun mungkin bakal takut melihat posisi berdiri kami yang seperti bayangan, tak bersuara hanya mengamati. Padahal maksud kami ingin memberitahu peserta supaya lekas berpindah tempat dan tidak mencari di satu titik tertentu karena lokasi penyebaran pin yang merata dan sengaja dibuat tak tersembunyi, eh peserta nya malah kelihatan ketakutan segan dan menjawab penuh hati2,

“iya kak.”

Jyaa… Jadi serba salah deh mau begimane -.-

“turun aja dek, pin nya ndak tersembunyi. Bisa dilihat mata telanjang kok.”

Peserta yang tadinya berjalan pelan, hati-hati dan clingak-clinguk mulai mempercepat jalannya. Start pukul 2.30 WIB, dan ke-16 pin di jalur pencarian utama berhasil ditemukan hingga pukul 03.30 WIB. Lalu bagaimana dengan 9 peserta lainnya ? Well, tak ada hukuman berat, Cuma sekedar dipersilahkan untuk mencari pin yang sudah disebar di rute pencarian selanjutnya. Ketemu kah ke-9 pin yang dicari tersebut ? adakah yang menyerah ?

Well, bersambung part-III insyaAlloh

Opinion : Menurut saya sih kegiatan mencari pin, ini bisa menunjukkan mana saja dari mereka *peserta* yg memiliki kemauan kuat, terus berusaha dan pantang menyerah mencari pin meskipun kondisi mata yang belum terbiasa dengan kondisi gelap. Juga sejauh mana sih keyakinan mereka dalam mendapatkan pin tersebut. Toh pun tidak ada yg menyulitkan mereka manakala mencari pin tersebut, malahan keamanan mereka dari gangguan luar sangat terjamin. He… itu sih menurut saya saja.

5 thoughts on “[Moving Class] #9 Birdwatchers in Action part II

  1. Pingback: [Moving Class] #10 Birdwatchers in Action part III -end- | Areeavicenna | Ex libris

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s