[Moving Class] #7 : Ice-Nucleation Active (INA) Bacteria Expedition (II-end)

INA BActeria Expedition Part. II end

Sekitar Pukul 23.00 WIB saya terbangun karena keramaian di luar dome, ternyata sudah mulai banyak pendaki yang istirahat di Pos 2 atau sekedar lewat menuju Pos 3. Ketika melihat sebelah, ternyata Cenul dan Nisa belum benar2 tidur. Jadilah kami bertiga ngobrol sambil bisik2, terkikik manakala mendengar obrolan lucu pendaki yang lewat dan mencari camilan karena perut yang belum benar2 terisi sebelum acara tidur tadi. Sementara dome sebelah tampak tenang seperti tak ada tanda2 kehidupan .

Setelah chit-chat ngga jelas arahnya dan perut yang mulai terisi penuh, satu per satu pun terdiam kembali (lagi) ke alam mimpi. Tapi ini tidak berlaku lama, karena pukul 01.00 WIB saya kembali terbangun karena hembusan angin malam yang kuat menampar wajah saya , usut punya usut ternyata si Cenul ndak menutup rapat dome ketika mengambil barang dari tas yang memang diletakkan di luar dome *bleh*.

Setelah terbangun untuk kesekian kalinya, saya benar2 tidur sekitar 1,5 jam sebelum terbangun lagi pada pukul 03.30 WIB karena deringan alarm HP yang bersautan antara satu HP dengan HP lainnya (baca: HP saya, HP Burhan, HP Alan). Hhaha, ternyata kebiasaan kami hampir sama, membunyikan alarm HP sekitar pukul 3.00 pagi tapi ntah bangun atau tidak, yang penting sudah ada niatan bangun jam 3 pagi.

Akibat dari alarm HP, saya sudah ndak bisa tidur lagi. Ika yang terbangun karena merasa annoyed dgn suara alarm HP tapi kembali tidur, Cenul ikut bangun, Ophi meringkuk mencari kehangatan-nyempil erat disamping Ika, dan Nisa tampaknya baru benar2 bisa tidur setelah pukul 3.00 menggulung badan mencoba mencari posisi tubuh yang pas-yang hangat. Saya lupa apa yang saya bicarakan dengan Cenul, begitu lama hingga kami pun mendengar suara adzan shubuh dari atas gunung. Begitu luarbiasa, begitu sunyi dan begitu jelas terdengar, seperti kami berada sangat dekat dengan Sang Pencipta. Best Moment ever.

Pukul 04.46 WIB kami sholat shubuh, dome sebelah sudah mulai berisik akibat geliatan penghuninya dan tanpa aba2 si Burhan berteriak keras dan random, sukses bikin morning shock *jan bocah kae *

Setelah melakukan aktivitas pagi, sambil ketawa-ketiwi saling cemooh nggak penting kami memutuskan memasak mie.

Kata Burhan,”esensi-nya naik gunung itu ya masak mie instan”

Jadilah kami masak 6 buah mie instan, tapi rempongnya itu bukan dari pihak cewek tapi dari yang cowok. Baru pertama ini ketemu cowok2 yang kalo masak mie lebih dari 1 masaknya harus punya rasa sama (misal:spesial kari, harus kari semua), perasaan saya punya kakak cowok kalo masak mie nggak segitunya merhatiin rasa . Ah iya, sebelum masak mie, Chef Burhansyah dan asistennya Annisa Febti membuat minuman rasa coklat spesial ala Gunung Lawu *lol*. Jadilah pagi itu kombinasi sarapan kami, Mie instan pedas goreng dan minuman susu coklat hangat. *alhamdulillah, kenyang*

Pukul 06.30 WIB kami beberes dome, dan memulai petualangan sesungguhnya dengan berburu Lichenes Usnea dan Parmilia serta Bryophyta jenis lumut bludru. Setelah rampung beres2, kami pun Start sampling di Pos 2 pada ketinggian lebih dari 2550 mdpl, di sini kami menjumpai Lichenes usnea dan Parmilia pada 2 lokasi berbeda tapi pada ketinggian yang sama. Burhan dan Yanuar pun beraksi dengan menunjukkan keahlian mereka dalam hal memanjat pohon, sementara yang lain sibuk mengukur parameter yang telah ditentukan seperti intensitas cahaya. Kelembaban udara, pH, bujur-lintang serta ketinggian dari lokasi sampling.

Setelah dirasa sampel yang diambil lebih dari cukup, kami pun menuruni Gunung Lawu menuju lokasi sampling selanjutnya. Senengnya saya pas turun, rasa lelah yang terasa jauh berbeda daripada ketika naik tapi konsekuensi dari turun itu ya harus hati2. Jalan yang tadinya menanjak tajam, sekarang menjadi menurun curam dan lagi sendi2 di lutut harus lebih kuat d menopang badan dan beban yang kita gendong. *intine naik atopun turun sama2 ada resikonya*

Kami berhenti pada ketinggian 2540an mdpl untuk mengambil sampel Bryophyta milik Ophi, untuk pengambilan sampel Bryophyta sedikit lebih ribet ketimbang sampel Lichenes. Banyak parameter yang harus diukur, dan lagi harus diperhatikan pula lokasi tumbuhnya sang Bryophyta, apakah epifit atau terestrial. Juga dalam pengambilan ada 3 kali ulangan, sehingga total pengambilan sampel Bryophyta ini 6 sampel di 6 lokasi berbeda pada ketinggian yang sama. Daebak.

Untuk pemberhentian ini kami istirahat cukup lama, bahkan terkesan terlalu santai. Sambil makan kacang kulit di atas tebing, kami bicara banyak hal. Entahlah, ada-ada saja topik pembicaraannya dari yang sangat penting sampai sangat tidak penting. Bahkan saya cenderung malas untuk turun, toh pun kalo ingin turun pengennya udah langsung nyampe basecamp, males nurunin anak tangganya satu per satu *yen ngunu mah, kabeh yo gelem Ri *

Pemberhentian selanjutnya adalah 2532 mdpl untuk sampling Lichenes milik Cenul, lokasinya di bawah pohon yang tumbang dan penuh semak belukar jadi sedikit susah. Apalagi sampel Lichenes dijumpai menempel pada pepohonan. Berdasar hasil pengamatan kemarin, semakin tinggi lokasinya maka letak Lichenes juga semakin tinggi menempel pada pohon.

Dari ketinggian 2532 mdpl, saya ingat betul trek yang kami lalui menurun curam manakala pendakian kemarin tapi karena sekarang kami posisi turun gunung, maka trek tersebut menjadi menanjak tajam. Bebatuan yang disusun benar2 tidak mengeri kondisi wanita, sangat tinggi dan sempit sehingga saya kepayahan untuk menaikinya. Tapi view-nya setelah sampai di atas dari trek ini sungguh luar biasa, awan biru cerah menjadi sangat dekat. Kita bisa memandang jauh ke depan maupun ke belakang. Bukan puncak tertinggi, hanya saja lokasinya seperti berada di atas bukit. Mulai dari trek ini pula lah kami kehilangan jejak si Alan yang sudah berada jauh di depan seorang diri.

Kami berjalan santai dengan sesekali istirahat untuk sekedar meregangkan otot pundak dan kaki. Yanuar dan Ika mendahului beberapa meter di depan. Saya, Ophi, Nisa, Cenul dan Burhan berada di belakang. Di tengah jalan Nisa melihat LuxMeter (alat untuk mengukur intensitas cahaya) tergeletak *tak berdaya* begitu saja di trek pendakian. Kaget, kami pun segera memungut benda malang tersebut *hhaha*. Ternyata eh ternyata, LuxMeter ini yang dibawa Alan, asumsi kami sih benda ini terjatuh manakal si Alan istirahat. Dari LuxMeter ini kami diyakinkan bahwa Alan masih hidup, mungkin dia menjatuhkan LuxMeter untuk memberi tahu kami bahwa ia baik2 saja *halah, opo to yo😀 *

Dari insiden LuxMeter ini, hikmah yang bisa saya ambil adalah *alan bukan sherina yang menjatuhkan permen chacha* kalo naik gunung bareng2 lah sama temen biar kalo ada yang jatuh ada yang menolong dan mengingatkan, dan lagi tidak disalahkan seorang diri karena menjadi tanggungjawab bersama *cmiiw* juga si Alan jadi nemplok terus sama kita2 dan tidak berjalan galau sendirian lagi di hutan.

Pemberhentian selanjutnya 2331 mdpl untuk mengoleksi Bryophyta, di sini si Ika tiba2 diam seribu bahasa, padahal sebelumnya paling cerewet dan paling cepet responnya kalo dibully. Eh kok ternyata jadi ekstra pendiem. Ditanya kadang nggak jawab. Ngambek rupanya dan yang tahu persis alasannya adalah Yanuar *hhahaha* kami yang tadinya mau ngegodain Ika, jadi mikir2 karena ini bocah jadi super nggak asyik kalo udah ngambek diam seribu bahasa. Ditanya pun jawabannya pelit banget. Saya dan teman2 hanya bisa memaklumi dan mencoba memahami😀

Selanjutnya tak terasa *boong, kerasa banget sebenernya* kami sudah sampai Pos 1, dan seperti ketika mendaki kemarin, kami pun berhenti dan istirahat di warung depan Pos 1. Alhamdulillah langsung dapat aba-aba dari Ophi buat pesen minum dan camilan *hip.hip.horeee *. saya yang memang ketika sarapan tadi pagi hanya makan mie belum makan nasi, segera mengambil roti tawar ketika di sodori oleh Alan. Jadilah sandwich lapis coklat saya makan di atas gunung, berasa hidup di luar negeri. Ah iya, di Pos 1 ini juga sudah mulai berkabut, padahal belum ada pukul 12.00 WIB jadinya ketika kita berbicara akan tampak hembusan nafas yang keluar. Saya, Alan dan Burhan memanfaatkan perbedaan suhu ini sambil akting sedang merokok. Yang surprisingly emang kelihatan sedang merokok beneran *lol*

Pos 1 ini juga pos terakhir bagi Cenul, di sini kamu sampling Usnea dan Parmilia di antara ladang wortel milik Bapak pemilik warung. Cepat saja kami ambil sampel, lalu cus menuju basecamp. Perjalanan ini terasa panjang, karena trek yang dilalui tidak menganak tangga tapi sudah landai sehingga perlu kehati2an agar tidak terpeleset dan terjatuh. Alan, Cenul dan Ika berada jauh di depan, saya-Ophi-Nisa-Yanuar-Burhan berjalan beriringan di belakang sambil mengamati lokasi memungkinkan untuk sampling, karena Ophi masih kurang 1 stasiun pengamatan lagi.

Akhirnya pada ketinggian 2026 mdpl pada pukul 12.45 WIB kami menemukan lokasi sampling yang sesuai. Nah mulai dari sini pulalah hujan mengguyur, kami yang berada di wilayah Hutan Cemara bukannya cepet2 merampungkan sampling ini malah pada berlari kesana kemari persis bocah yang tidak diawasi ibunya ketika hujan turun. *jan ngetarani masa kecil ra entuk udan2*

Setelah selesai, Alan-Burhan-Ika berada di depan menuju basecamp. Emm, di sini ika sudah ndak ngambek lagi lho. Udah mau difoto2 juga.😀 saya, ophi, cenul dan yanuar ada di belakang. Pukul 13.20 WIB kami semua sudah sampai di Basecamp Jalur Pendakian Cemoro Sewu. Alhamdulillah.

Sambil rehat, Yanuar-Nisa dan Ika makan penthol *bakso kuah* di basecamp. Ophi-Cenul mendata ulang sampel mereka, saya dan yang lain merebahkan badan di lantai basecamp. Beberapa saat kemudian, Ophi dan Cenul mengajak kami semua makan di warung sebelah. Alhamdulillah. Selanjutnya setelah ishoma, sembari meregangkan otot dan sendi yang kaku akibat berjalan terlalu lama kami menunggu Bapak Ophi. Tak lama berselang, Bapak Ophi pun muncul kami segera packing dan memasukkan tas maupun perkap ke dalam mobil. Pukul 15.00an WIB kami bertolak dari Lawu menuju Solo dalam kondisi hujan deras sepanjang perjalanan dan dikepung kabut tebal manakala berada di sekitar Lawu.

Finally, sampai di kost Ophi pukul 17an WIB. *yeaaaaa* Alhamdulillah. Ekspedisi kali ini diberi keselamatan hingga kami dapat pulang di rumah masing2. semoga apa yang diharapkan oleh Ophi dan Cenul menagenai INA bacteria dapat sesuai harapan. Amiin.

Semoga pula ini bukan ekpedisi terakhir, semoga masih ada ekspedisi2 lain yang menyenangkan bersama teman2 sekalian. Amiin. Ekspedisi kali ini sangat menyenangkan. Thx Ophi dan Cenul yang sudah mengajak saya, Nisa, Ika, Yanuar, Burhan dan Alan dalam ekpedisi sarat pengetahuan kali ini . Thx Burhan, Yanuar, Alan yang sudah super sabar mengawal para Putri2 ini. Thx utk Nisa yang selalu menularkan semangatnya setiap kali berpetualang . Dan Thx utk Ika yang sudah bersedia menjadi pelipur lara, dan lain kali jangan ngambek lagi ya


-END-

2 thoughts on “[Moving Class] #7 : Ice-Nucleation Active (INA) Bacteria Expedition (II-end)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s