[Moving Class] #6 : Ice-Nucleation Active (INA) Bacteria Expedition (I)

Gunung Lawu dari ketinggian 2560 mdpl

Ekspedisi Ice-nucleation active atau sebut saja Ekspedisi INA (mengambil istilah Burhan) merupakan ekspedisi yang dilakukan di Gunung Lawu guna mencari bakteri yang memiliki kemampuan “membekukan” air, bahasa internationalnya Ice-nucleating Bacteria. Di Indonesia sendiri, bakteri ini pernah ditemukan dan diisolasi dari Gunung Gede Pangrango. Kalo menurut Cenul dan Ophi, Tim Leader, harapannya di Gunung Lawu juga dijumpai hal yang serupa seperti yang dijumpai di Gunung Gede Pangarango. Manfaat nyata dari peneilitian teman saya ini, di akhir penelitian mereka ini (setelah follow up beberapa penelitian lanjutan) nantinya dapat dimanfaatkan untuk menciptakan hujan buatan. Menarik.

Sebelumnya Ophi dan Cenul telah melakukan penelitian pendahuluan, dengan mengambil beberapa sampel Lichenes, Bryophyta dan tanaman Paku-pakuan di ketinggian kurang dari 1800 mdpl di Gunung Lawu. Namun, hasilnya nihil. Sehingga pada ekspedisi kali ini Ophi dan Cenul menaikkan range ketinggian penelitiannya. Rencana awal sih hingga ketinggian 2700 mdpl, yang ini artinya berada di sekitar Pos 3 Gunung Lawu. Akan tetapi menurut Ophi dan Cenul, karena spesies Lichenes dan Bryophyta semakin sedikit dijumpai pada ketinggian lebih dari 2500 mdpl, maka range penelitian hanya sampai ketinggian 2500an mdpl yang berlokasi di sekitar Pos 2 Gunung Lawu.

Kick off dari Kost Ophi setelah packing ulang sekitar pukul 09.00 WIB. Semua boncengan naek motor kecuali Ophi yang naeik mobil bersama sang Bapak karena membawa barang2 serta perkap pendakian. Dalam perjalanan menuju Lawu, kami melalui jalan alternatif yang saya sendiri pun baru pertama kali melewatinya. Yanuar-Burhan berada di depan sebagai penunjuk jalan, sedangkan Alan mengawal kami (Nisa-Cenul, Saya-Ika) di belakang. Beuh, berasa jadi orang penting dikawal begini

Perjalanan memakan waktu sekitar 2 jam, sesampainya di Cemoro Sewu ternyata Ophi sudah menunggu. Kami menyempatkan diri makan penthol atau bakso kuah sembari rehat akibat jetlag naik motor *halah😀 *

Sekitar pukul 11.00 WIB, setelah berdoa agar diberi kelancaran dalam pendakian dan sampling kami pun menjejakkan kaki meninggalkan basecamp Cemowo Sewu, mendaki Lawu. Hal terberat dari suatu pendakiaan ialah ketika harus beradaptasi dengan langkah kaki dan pengaturan nafas pada menit2 awal. Seringkali saya terlalu merasa capek, mata mulai berkunang2, kepala mulai pusing, dan langkah menjadi terasa berat. Sekuat tenaga mengangkat kaki untuk sekedar melangkah ke depan. Peluh di dahi tidak menetes namun sanggup membuat mata perih karena berhasil lolos dari alis masuk ke mata. Tak ada gunanya menyeka, toh mata sudah terlanjur perih.

Meski demikian, hebatnya rekan2 pria, Burhan, Yanuar dan Alan dengan sabar menunggu kami para perempuan yang berjalan lambat. Tidak memaksa kami berjalan cepat, tidak pula menganjurkan kami untuk berjalan pelan. Mereka hanya mengingatkan dan mencoba memberi beberapa gurauan agar kami terlupa sejenak akan rasa letih yang menggelayut di kaki *berasa sesuatu *

Kami rehat sejenak di banyak titik sebelum Pos 1, salah satu di sekitar wilayah ladang miliki warga. Cukup lama kami rehat, hingga kami didahului oleh rombongan adek2 SMK yang mendakinya jauh di belakang kami. Sembari melepas penat, si Cenul dan Ophi minta minum namun langsung dilarang oleh Burhan karena stok minum yang sedikit. Padahal sih stok minum ada 16 botol ukuran 1,5 Liter dan kami ada ber-8 .

Bener sih, karena sekali nya minum walau sekedar melepas dahaga, nantinya rasa haus akan menyergap dan menuntut kita untuk terus minum. Jadi ya lebih baik tahan haus dulu sebelum sampe pos 1.

Setelah dirasa cukup tenaga, kami pun melanjutkan perjalanan. Ophi dan Alan ada jauh di depan, diikuti Ika-Yanuar, dan saya, Nisa dan Burhan ada di belakang. Kenapa saya selalu berada di Belakang ? bukan karena sudah expert ato begimane, Cuma kalo di depan kan artinya saya harus berjalan lebih cepat dari teman di belakang saya, ini pun artinya saya tidak bisa berjalan terlalu santai walopun kalo berjalan di depan terasa tidak terlalu lelah karena suatu sugesti (?). Jadinya ya pilih di belakang saja, walopun kalo di belakang perasaan capek menjadi 2 kali lebih berat karena adanya tuntutan moril untuk segera mengikuti teman di depan apalagi kalo teman yang di depan itu berjalan jauh lebih cepat dari yang kita bayangkan *seperti si Alan*. Capek woy…

Hampir 1,5 jam kami habiskan berjalan dengan sesekali mengobrol dan mengatur nafas sebelum mencapai Pos 1. Eh, ternyata si Ophi udah rebahan duluan di warung depan Pos 1, Alan tampak sumringah di depan warung menyambut kami yang berjalan jauh di belakangnya. Kami pun break sesaat di Pos 1 sambil Ishoma dan makan siang yang sudah disediakan Ophi dan Cenul. Kering tempe dan telur goreng spesial, terasa semakin spesial tatkala dimakan bareng2 di atas gunung *Sedaaaappp*. Tambah spesial karena saya dapet 2 telur goreng *uhuuuyyy* hibah dari Yanuar yang katanya ndak makan telur. Alhamdulillah, n thanks Yance marince

Setelah ishoma, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Pos 2 dan menajamkan pandangan terhadap sekitar guna mengamati keberadaan Lichenes dan Bryophyta yang dicari Ophi dan Cenul. Semakin jauh dan tinggi kami mendaki, udara pun berubah perlahan2. Awalnya berkabut lalu titik2 air pun mulai turun, kami pun menyiapkan jas hujan *antisipasi*. Eh, lha kok setelah melewati ketinggian 2300mdpl hujan mulai turun. Tidak begitu deras tapi cukup membuat kami basah kuyup padahal kami sudah memakai jas hujan. Hal yang bikin ngeri dari hujan di gunung adalah bila kita salah memijak, karena ada beberapa pijakan yang goyah dan licin apalagi kalo pas bagian turunan. Ah iya, hujan kemarin juga disertai petir dan kilat. Jadinya ya Cuma bisa berdzikir dalam hati semoga bisa melalui dan sampai tujuan dengan selamat.

Dalam perjalanan kami berpapasan dengan dua orang mas-mas yang memikul plastik kresek besar sarat akan barang.

“Mari mas. Bawa apaan mas ?” tanya saya SKSD

“oleh2 dari gunung mbak. Sampah.” Jawab mas-nya

Dari situ si Nisa pun geleng2 kepala, prihatin dan miris. Katanya, di Gunung ngga semestinya buang sampah sembarangan. Bukankah naik gunung itu untuk kembali ke alam, mencintai alam dengan lebih dalam. Jadi ngga sepantasnya mereka yang naik gunung buang sampah sembarangan. Bikin kotor. Saya terdiam, membenarkan ucapan Nisa.

Karena hujan yang turun dan medan yang jauh lebih “menantang” dibanding trek dari basecamp ke Pos 1, kami menjadi lebih sering berhenti. Tak jarang kami berhenti di tanjakan, saking capek dan ngos-ngos-an susah payah menghimpun Oksigen untuk sekedar memasukkan ke dalam paru2 yang kembang-kempis. Akibat sering berhenti sembarangan Nisa dan saya pun tanpa sadar menduduki kubangan air, jadilah rok kami basah oleh air. Bawahan yang tadinya basah karena percikan air hujan, kini menjadi benar2 basah karena ulah kami sendiri **

Sekitar Pukul 15.00 WIB kami pun sampai di Pos 2, yang ternyata atapnya sudah rombeng hanya tertutupi seng pada salah satu sisi. Berasa sudah sampai rumah kami meletakkan tas di bagian yang teduh dan mlipir diantara pendaki yang sudah sampai duluan di bawah atap Pos 2. Lama kami di sana, ngobrol ngga penting, bercanda konyol dan sesekali tersenyum nakal karena ikut-ikutan candaan khas anak gunung yang cenderung frontal dan tabu untuk sebagian orang *halah*. Semakin lama di bawah atap rombeng pos 2, kami mulai merasa dingin karena angin dan hujan yang tak kunjung reda, pas menengok ke sisi lain, eh ini si Burhan-Yanuar dan Alan malah sudah mengaitkan tangan untuk menghangatkan diri. Karena dirasa ampuh mengusir rasa dingin, saya dan yang lain pun mengaitkan tangan. Bukannya hangat, tapi seolah langsung tersengat dingin karena tangan Ophi-Cenul sudah sangat dingin. Mau nggak mau, daripada dingin sendirian. Suasana lagi dingin2 begini, si Nisa dan Yanuar malah memberi sugesti aneh kalo panas membara sedang melanda. Yah mungkin ada efek untuk yang lain, tapi saya malah ngrasa makin dingin *lol*

Manakala hujan sudah mulai reda, kami pun mendirikan dome di bawah tebing Pos 2. Baju yang basah dan dingin tak menjadi halangan untuk mendirikan dome, ya karena pengen cepet2 masuk dome dan menghindari hembusan angin dingin. Tak berapa lama pun 2 dome berdiri, dan dipisahkan berdasar jenis kelamin *yaiyalah*. Setelah dome berdiri Burhan dan Nisa masak air, si Alan malah udah tidur duluan. Saya dan yang lain seringnya bercanda nggak jelas di dalam dome yang memang sengaja dibuat berhadapan supaya hembusan angin tidak “menyergap” dome.

Masak air, done. Selanjutnya rehat dan ishoma karena ternyata sudah mulai memasuki waktu maghrib. Suasana gunung kala itu sepi, tak tampak ada pendaki yang melewati pos 2. Angin gunung semakin kencang menerpa dome kami menerbangkan jas hujan yang kami jemur di atas dome. Ika sms-an, seoalah2 dapet anugrah karena Cuma HP nya diantara kami berlima yang ada sinyalnya. Burhan dan Yanuar istirahat, dan si Alan malah bangun jadinya kami yang belum tidur pun ngobrol ngalor-ngidul sampai rasa penat melanda. Pukul 20.30 WIB kami pun menutup dome masing2 dan berusaha untuk tidur.

(Bersambung Part II-end)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s