si Kunang

Ibu berkata, “Le, kok adiknya digegem gitu kakinya ?”

Kunang yang baru berumur 5 tahun itu pun menjawab sambil mengerjapkan matanya yang sipit, “kalo ndak digegem nanti adek jatuh Bu”.

Ibu hanya tersenyum melihat tingkah anak pertamanya tersebut manakala akan difoto bareng si adik yang sengaja ditidurkan diatas meja supaya si adek tidak jatuh.


Tahun pun berganti, Kunang sudah semakin besar. Tiap hari pulang sekolah ada saja yang dilakukannya bersama sang adik. Hari itu adalah hari minggu, Kunang bersama teman-teman sebaya hendak pergi bersepeda keliling kampung. Padahal hari sudah tak lagi pagi, matahari pun sudah mulai tinggi namun si Kunang bersama temannya tetap saja hendak pergi bersepeda. Sang adik yang mengetahui niatan sang kakak pun merengek minta diajak, walhasil si Kunang pun memboncengkan adiknya di sepeda kecil berwarna hijau-orange miliknya. Hujan yang mengguyur malam sebelumnya meninggalkan jejak kubangan di berbagai tempat yang aspalnya sudah mulai aus. Kunang dengan sigap berusaha mencari jalan yang tidak tergenang air, tapi karena kubangannya terlalu banyak maka sang adik yang membonceng menjadi korbannya. Rok sang adik pun basah. Karena merasa tak nyaman, kunang mengajak teman-temannya berhenti di jembatan irigasi terdekat. Sambil menjemur rok si adik, kunang pun bercanda dengan teman2nya. Tiba-tiba candaan berhenti manakala ada orang gila yang datang mendekat, kunang dan teman-temannya pun buru2 pergi takut dikejar orang gila. Sang adik yang kepayahan mengenakan roknya diangkat oleh teman kunang dan dinaikkan diatas sepeda, dan kelima bocah kecil pun pntang-pantng mengayuh sepeda menghindari kejaran orang gila.


Sesampainya dirumah perasaan lega tidak serta merta hilang begitu saja, ibu yang tahu rok si bungsu basah menanyakan dari mana si Kunang mengajak adiknya bermain. Ketika tahu bahwa mereka baru saja bermain dari irigasi, si Ibu pun marah besar karena sudah mewanti2 anak-anaknya untuk tidak bermain di dekat irigasi. Bukan tanpa alasan memang si Ibu marah, karena beberapa waktu yang lalu terdapat korban meninggal akibat terseret arus irigasi. Kunang melihat sang adik yang hendak pecah tangisnya, dan hanya terdiam menunduk.


Lain hari, kunang bermain korek api. Karena penasaran si adik pun mendekat, bertanya ini itu, cerewet sekali, si kunang yang lambat laun merasa terganggu mengingatkan sang adik untuk tidak bertanya, namun si adik tetap bandel meskipun tahu sang kakak mulai merasa sebal akan pertanyaanya. Menit berselang, sang adik pun merasa kan sang kakak diam saja, takut dimarahin sang kakak, sang adik pun merayu kakaknya untuk diperbolehkan meniup korek api yang dinyalakan oleh sang kakak, entah karena gemas atau apa, sang kakak pun menyodorkan korek api tanpa memperhitungkan jarak dirinya dengan si adik yang berusaha meniup apinya, walhasil korek api yang menyala tersebut melukai mata si adik. Dan pecahlah tangis si adik. Hingga 2 minggu lamanya, mata si adik terluka. Kunang pun hanya terdiam, merasa bersalah mungkin.


Ketika Kunang SMP, ia yang masih berbagai kamar tidur dengan si adik membuat perjanjian dengan si adik, siapa yang bangun terlebih dahulu memiliki kewenangan sebagai “pemerintah” artinya yang bangun telat harus menuruti dan melakukan kemauan si pemenang. Hari pertama Kunang lah yang menang, hingga dia pun memiliki hak untuk memerintah si adik. Tapi hari kedua si adik yang tak mau kalah, berusaha bangun dari tidur nya lebih awal. Dan yay, si adik pun menang. Ia sangat senang, karena memiliki kesempatan untuk memerintah sang kakak. Tapi apa mau dibilang, dari bayi si adik sudah kalah lahir (karena lahir setelah kakaknya) maka si Kunang hanya mengacuhkan perintah si adik. (haha, kasihan si Adik)


Si Kunang itu lah yang paling pandai membuat saya marah, sebel, ketawa, nangis, takut dan berbagai ekspresi lainnya, si Kunang the only guy that give me the true motivation. Si Kunang itu adalah my closest friend, si Kunang is my brother.


Yang ketika saya diejek karena nama saya, dia lah yang “maju” dan “melawan” mereka yang mengejek saya. Ketika saya sakit, dia lah yang kebingungan mencarikan obat. Ketika saya terlambat sekolah, walaupun diperjalanan dia ngomel-ngomel karena harus mengantar saya, tapi tetap saja ketika saya turun dari motor butut itu dia selalu berpesan “belajar yang bener”.

Yah, meskipun semuanya dilakukakan dengan muring-muring dulu, tapi tetap saja dia lah yang ada di sana, mendampingi saya, yang mengambil rapor saya selama 3 tahun SMA, yang menghadiri wisuda kelulusan SMA, yang membelikan motor pertama saya, yang membelikan laptop pertama saya, yang mengajarkan saya fisika, kimia, matematika, satu-satunya orang yang paling sering marah-marah sama saya, teman duel saya, teman berantem, teman makan bareng, teman rebutan remote televisi.


Dan tanpa saya sadari, 21 tahun kehidupan saya (hingga saat ini) instead of my parents, dia lah yang paling sering melihat saya, melihat kelakuan saya, melihat pendewasaan saya, mengingatkan saya, memarahi saya, my “Mario Teguh”, menjaga saya dan pemberi solusi yang seringkali harus bikin saya marah-marah dulu sebelum memberi wejangan.


Ah, meskipun saya bukanlah adik yang sempurna dan dia bukanlah kakak yang sempurna, tapi saya, yang saat ini, tidak akan seperti ini bila tidak ada sosok kakak seperti, mas Nanang. (hhuhuhu)

“yo kalo kamu pengen dihargai orang lain, ya kamu harus memperlakukan orang lain itu seperti kamu memperlakukan dirimu. Jangan smenana2 sama orang lain. toh kamu juga nggak suka kan kalo orang lain semena2 sama kamu” – Mas Nanang


Selamat menempuh umur baru mas Nanang, smoga umurnya senantiasa barokah dan semoga rencana bulan Desember nanti berjalan lancar. Saya pasti akan merasa kehilangan ketika dirimu “direbut” wanita lain -,- #eaaa


Nunung Ria, 27 September 2012

5 thoughts on “si Kunang

  1. Ah, di beberapa alinea cerita, saya sebal dengan tokoh si adik yang cerewet dan ngotot-an.
    Dan di akhir rasanya saya jadi ingin punya kakak laki-laki huaaaaa

    Happy belated b’day for your lovely brother, siiist🙂

    • hhahah:mrgreen: itu kan dulu,, namanya juga bocah :p

      btw, aku juga pengen punya adek majeee…🙂
      *yah, intinya semua ada enak+nggak nya. yuk sama2 bersyukur atas apa yang jadi jatah kita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s