Saya dan Oknum X : Pilih 70 atau 100 ?

 ekspresi kalo pada lagi nyontek *lmao

 

Saya dan Oknum X

Saya : *habis ujian* Nyebelin.  Soalnya masyaAlloh bikin frustasi. Pertanyaanya emang mudah, tapi jawabannya itu lho. Susahnya minta ampun. Perasaan Ibu nya nggak pernah ngejelasin kek gitu deh. *masih berapi2*

Oknum X : *senyum* lhah kan kemarin ibunya juga uda pernah njelasin. Di materi juga ada kok.

Saya : iya po ?? kok aku nya nggak baca yo ?? *bolak-balik kertas materi ujian*

*hening sejenak*

Saya : walah iya, ternyata emang ada. Pantes tadi ada yang buka catetan. Bikin sebel, muntab, pengen aku jotos tuh orang yang buka catetan. Seenaknya aja mengotori ujian hari ini dengan nyontek dan pake buka copy-an materi pula. Udah buka copy-an materi, berani2nya tanya jawaban ke aku .

Oknum X : halah..halah. istilah mu itu lho, mengotori ujian segala.😀 lhah, kamu kasih jawabannya ??

Saya : yo nggak lah, enak aja. Pas aku liat Jelas-jelas dia buka catetan, eh pura-pura nggak buka belagak tanya jawabannya ke aku. Pengen aku tebas !

Oknum X : *tertawa lebar* hhahaha…. sabar bu, sabar. Ya udahlah, nggak usah sewot gitu. Toh kan kamu nya nggak ikut-ikutan nyontek. Kalo pun temen2 kita ada yang nyontek catetan ato berbuat kecurangan lainnya kalo mau ya diingatkan, daripada uring-uringan nggak jelas kek gini.

Saya : tapi kan yo tetep aja, bikin sebel. Dia dapet nilai 90 karena nyontek, lha aku nggak nyontek dapet 70.

Oknum X : yowis, besok kamu ikutan nyontek aja gimana ? biar dapet nilai 100 ??

Saya : idih, ogah. Pengennya dapet nilai bagus karena nggak nyontek. Karena usaha sendiri dan halal.

Oknum X : ya udah, lain kali kalo ujian belajar bener2 biar dapet nilai bagus. Dan kalo emang belajarnya masih sekenanya yo kalo dapet nilai jelek nggak usah sewot dan mengkambinghitamkan mereka yang nyontek atau berbuat curang.  Toh juga kan temen2 kita uda pada gede2 semua, dosa mereka juga mereka sendiri yang nanggung. Kalo kamu ikutan nanggung, nah itu baru boleh sewot. Lagipula masih ada juga kan diantara temen2 kita yang masih jujur dan dapet nilai bagus. Mending mana coba ? dapet nilai 70 karena nyontek, ato dapet nilai 100 karena jujur ?

Saya : yah, kebalik kali. Nilai 100 karena nyontek, ato nilai 70 karena jujur

Oknum X : nah ini nih, paradigma di masyarakat. Sedari kecil itu seringnya kita mendengar istilah “dapet nilai 100 karena nyontek, atau nilai 70 karena jujur ?” jadinya di otak itu tertanam seolah2 diperbolehkan mendapat nilai bagus meski dilakukan dengan curang. Sekarang itu saatnya mengubah paradigma, “dapet nilai 70 karena nyontek atau 100 karena jujur ?” supaya di otak ini berupaya bersikap untuk tidak curang dan tetap memperoleh nilai bagus. Bukankah kebanggaan tersendiri kalo kamu dapet nilai 100 karena memang itu usaha kamu. Dan juga kan apa yang kamu usahakan sekarang ini juga merupakan rangkaian dari hasil yang akan kamu peroleh nantinya, dan nantinya disini bukan Cuma masalah duniawi semata, kamu dapet kerja, kamu dapet gaji kamu dapet beli rumah, kamu punya banyak uang, tapi juga merembet ke masalah ukhrowi. Dan kalo orangtua belum menerapkan kepada kita betapa berharga suatu proses itu, maka saatnya bagi kita untuk menerapkan mulai dari diri sendiri untuk menghargai suatu proses dalam meraih impian.

oops.. ketauan :))

Saya : *manggut-manggut* tapi tetep aja sebel kalo liat ada temen yang berbuat curang, dilain pihak aku juga kecewa karena tindakan temen tersebut. Aaaarrgggg…. bikin senewen

Oknum X : halah, ya sudahlah. Biarkan saja. mereka juga tau baik-buruknya, yang penting nggak usah ikut2an kalo itu ndak bener. kalo berani yo ditegur aja. dan lagi pastinya juga di dunia yang bunder ini masih ada orang yang menghargai kejujuran dan daripada uring-uringan bukan pada tempatnya kita nikmati saja proses yang kita lakukan ini. anggap saja ini adalah dinamika hidup, dimana ada yang jadi antagonis, protagonis dan mereka orang yang setengah2 diantaranya. school life always like that, sweety. nggak usah terlalu kaku menghadapinya.

Saya : iyelah *pasrah*

Dari percakapan imaji tersebut saya menjadi teringat dengan artikel mengenai pertanyaan seseorang kepada Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin,

Ada orang yang bekerja dengan sebab ijazah sarjana yang palsu. Ada juga yang memiliki ijazah sarjana yang asli namun pernah menyontek pada salah satu ujian semesteran. Ada juga yang melengkapi persyaratan kerja berupa ijazah ketrampilan atau profesi palsu. Mereka semua telah bekerja dan menguasai pekerjaannya dengan baik. Apa yang harus dilakukan mereka bertiga setelah mereka bertaubat? Perlu diketahui bahwa sebagian di antara mereka PNS namun ada juga yang bekerja di perusahaan swasta.

Ibnu Utsaimin menjawab,  “Jika pondasi rusak maka bangunannya tentu rusak. Kewajiban tiga jenis orang di atas adalah mengulang ujian untuk mendapatkan ijazah yang dengan sebab ijazah tersebut mereka bisa mendapatkan gaji. Namun seandainya saat ujian semester terakhir orang tersebut tidak menyontek dan menyontek hanya dilakukan pada semester-semester sebelumnya maka aku berharap orang tersebut tidak berdosa disebabkan gaji yang didapatkan dengan ijazah semacam itu”.

Pertanyaan, “Namun nilai yang diberikan di ijazah atau di transkip nilai adalah nilai untuk semua mata kuliah yang diajarkan selama masa belajar”.

Ibnu Utsaimin menjawab, “Jika demikian orang tersebut tidak boleh menerima gajinya sehingga dia mengulang semua ujian tanpa contekkan”.

Pertanyaan, “Namun realitanya, andai orang tersebut menghadap ke pihak universitas dan menyampaikan keinginannya untuk melakukan ujian ulang maka pihak universitas akan mengatakan bahwa sistem pembelajaran yang ada tidak mengizinkan hal semacam itu”.

Ibnu Utsaimin menjawab, “Jika demikian hendaknya orang tersebut keluar dari tempat kerjanya kemudian mencari pekerjaan baru sesuai dengan ijazah sekolah yang tidak tercemar dengan menyontek atau melakukan kecurangan ketika ujian semisal ijazah SMA-nya”.

من غشنا فليس منا

Siapa saja yang mencurangi kami maka bukan termasuk golongan kami,” [Hadits Riwayat Muslim, kitab Al-Iman no 101] shahih.

Hadits tersebut berlaku umum mencakup kecurangan dalam jual beli, memberi nasihat, perjanjian, akad, amanah, ujian di sekolah atau ma’had, dan yang sejenisnya, baik berupa menyalin dari buku atau bertanya kepada murid lain atau memberitahukan jawaban baik melalui ucapan ataupun tulisan yang mereka edarkan di antara mereka.

Pernyataan ini mungkin terdengar klise, tapi Bukankah Kejujuran akan selalu Berarti ?? yah mungkin saat ini belum berarti tapi suatu saat nanti dan di akhirat pastilah sangat berarti.

Disarikan dari berbagai sumber, diantaranya

Almanhaj.or.id , Muslimah.or.id , Ustadzaris.com 

credit pic [here] and [here]

13 thoughts on “Saya dan Oknum X : Pilih 70 atau 100 ?

  1. nyesek emang klau liat kenyataan yg seperti itu.. namun nggak ada perjuangan yang akan sia”, insyaAllah berbuah manis di akhirnya, ndak di dunia pasti di akhirat nyunyung.. yang penting alhamdulillah nggak remed kaaan, nilaiku jg mepet sebenernya -..- ..

  2. nyesek emang klau liat kenyataan yg seperti itu.. namun nggak ada perjuangan yang akan sia”, insyaAllah berbuah manis di akhirnya, ndak di dunia pasti di akhirat nyunyung.. yang penting alhamdulillah nggak remed kaaan, nilaiku jg mepet sebenernya -..- ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s