mBolang #4 : Lagi-lagi Jogja

[ini story dari Jogja kemaren… edisi mBolang dadakan. enjoy😉 ]
Photobucket

Jadi ceritanya setelah dibuat mumet, deg-degan, pikiran semrawut sama sleeping late night hampir tiap malam karena ujian, tugas dan responsi, kemarin saya dan empat teman traveling-bahasa sederhananya MBOLANG– ke Jogja. Ini sih kepaksa gara2 nggak ada tempat lain yang aduhai untuk dikunjungi dengan budget minim. Planning yang kami buat memang tidak benar2 matang, karena minggu depan kami sudah digempur ujian lagi jadi untuk melepas penat 1 bulan terakhir kami putuskanlah pergi ke Jogja.

Rencana : Berangkat jam 9 naik Prameks dari Stasiun Jebres dilanjutkan naik TransJogja menuju Taman Sari, ke kolam pemandian pulang jalan kaki sambil cuci mata melewati jalan Malioboro. Hmm, What a wonderful plan.

Namun sekali lg Manusia berencana Alloh yang menentukan.

Yang awalnya mau berangkat jam 9, ini berangkat jam 11.30 pm via Stasiun Solo Balapan. Yang awalnya Cuma 4 orang bertambah menjadi 5 orang. Yang awalnya mau naik TransJogja akhirnya jalan kaki. Yang awalnya mau ke Taman Sari, ini malah ke Taman Pintar. Yang awalnya pulang mau jalan kaki, karena kaki tepar akhirnya naik becak.

Lhah kok bisa ?

Begini lho, namanya juga perjalanan Gemolong-Solo itu lumayan jauh (25 Km), saya yang jam 7.30 udah ready mau berangkat karena urusan keluarga jam 8.00 baru on the way ke Solo padahal semestinya jam 8.00 kami udah kumpul di Kost-nya Cenul. Walhasil sampe Solo jam 8.50, padahal kereta berangkat jam 8.30. *mianhe, teman2 *. Tapi ternyata seteah SMS my Brother yang di stasiun ternyata kereta Prameks berangkatnya jam 9.10, dan setelah saya telusur ternyata jadwal kereta yang saya lihat jadwal tahun 2010 . Namun berdasarkan estimasi waktu yang tersisa, tampaknya kereta prameks jadwal jam 9.10 tak akan terkejar, so kami putuskan berangkat dengan kereta jam 10.00wib. Dan karena berdasar anjuran my brother, kami pun merubah dari stasiun Jebres ke Stasiun Solo Balapan sebagai start naik prameks.

Karena waktu yang tersisa ada 1 jam, saya, Cenul, Ipunk dan Ophi pun meluncurkan segenap rayuan maut kepada Hanni untuk ikut ke Jogja. Awalnya sih kurang berhasil, butuh waktu lama dan kegigihan merayu hingga akhirnya berhasil. Waktu 1 jam pun digunakan untuk menunggu Hanni dan Ipunk balek kost untuk ambil helm *heran, ambil helm sampe 1 jam *

Pukul 9.45 kami take off dari kost Cenul menuju Stasiun Balapan. Setelah tiba, ehhh… keretanya udah jalan padahal kami terlambat 4 menit dari jam Stasiun. Jadilah kami gelandangan baru di Stasiun Solo Balapan, duduk ngesot di depan Stasiun nunggu jam 11.30 untuk kereta selanjutnya.

Singkat cerita 11.30 kami langsung masuk kereta dari jalur 5 Stasiun Solo Balapan, alhamdulillah dapet tempat duduk. Dalam kereta kami berevolusi dari mahasiswa menjadi komentator dan pengamat lingkungan selama 60 menit . Pukul 12.34 kami sampai di Stasiun Tugu, langsung menuju mushola stasiun dan sedikit kaget karena adanya renovasi di Stasiun Tugu. Dulu tak ada pendopo tapi sekarang ada pendopo, yang terpenting dulu toiletnya bayar dan sekarang GRATIS  kesempatan langka di Indonesia ada toilet umum gratis

Setelah recharge tenaga batiniah, kami melanjutkan perjalanan. Berjalan menyusuri jalan Malioboro yang penuh sesak wisatawan dan penjaja pakaian serta souvenir khas Jogja menuju halte TransJogja terdekat. Dan ternyata penuuuh sessaaaak ma meeeen…. ga jadi lah kami ambil antrian. Selanjutnya berjalan tanpa arah tujuan, berhenti sejenak di Matarahari Malioboro lihat orang yang lagi milih2 baju naik lantai 3, turun ke lantai 2, jalan lagi menyusuri jalan Malioboro. Bener2 dah ga punya arah tujuan.

Tug..tug..tug… jalan lagi ketemu dengan halte transJogja lagi. Lumayan sepi, akhirnya kami tanya2 sama Ibu nya yang bertugas di Halte tersebut rute ke Taman Sari. Si Ibu pun menjelaskan kami harus naik TransJogja nomer 3A, namun masih perlu berjalan lagi. Dengan penuh semangat kami mengiyakan untuk naik TransJogja, namun si Ibu sekali lagi memberitahukan bahwa jalan yang ditempuh masih jauh dan bus 3A pada saat itu penuh antrian. Kami pun jadi bimbang, si Ibu tampaknya menangkap kebimbangan kami, dengan baik hatinya si Ibu memanggilkan abang tukang becak sebagai alternatif menuju Taman Sari. Tapi karena kami yang minim pengetahuan mengenai dunia perbecakan menolak tawaran si Abang Tukang Becak, karena kami pikir itu terlalu mahal. Si Ibu tampaknya prihatin, dan menunjukkan lokasi Taman Sari di Peta yang tertempel di Halte *menunjukkan betapa jauhnya bila berjalan kaki* dan menginfokan bahwa Taman Sari tutup pukul 15.30 wib. Padahal saat itu sudah pukul 14.00 wib, waaaaa…. to limit…. waktunya terlalu sempit untuk mengeksplorasi Taman Sari. Dengan berjalan gontai dan menelan kekecewaan kami berlima meninggalkan halte kedua kembali menyusuri jalan Malioboro yang ramai.

“Ayo ke Bringharjo ”, Ipunk mengusulkan dengan mata berbinar.

Walau tak langsung kami iyakan, tapi kami pun akhirnya menuju Bringharjo daripada menelan pil pahit kehidupan gagal ke taman sari .

Di Bringharjo, hal yang paling mengesankan adalah ketika kamu memasuki pintu masuknya. WOOOOWW…. amazing. Hanya mereka yang penuh kegigihan lah yang mampu memasuki pasar tersebut, bagaimana tidak ?? Wong pintu masuk dari Malioboro yang strategis Cuma 1, dan itu juga digunakan sebagai pintu keluar. Saya dan Hanni tertinggal di belakang, sementara Cenul dan Ophi ada di depan, dan saya dibikin ternganga karena teman kami Ipunk sudah berada jauuuuuuh di depan.

Ini bocah kalo dapet uang kaget mesti menang. MasyaAlloh. Gesit banget.” Pikir saya saat itu.

Singkat cerita setelah satu jam di Bringharjo, kami kelaparan . Berjalan dengan tanpa semangat dan muka kucel penuh keringat, kami kembali melanjutkan perjalanan mengambil kitab suci  dan memutuskan duduk-duduk di trotoar dekat Alun-alun. Buka bekal, makan roti-coklat, minum, lalu tergoda beli Bakso Kawi dengan harga Rp 5000,00 *harga awal Rp 6000,00*. Makan di siang hari dengan langit sebagai atapnya tak akan lengkap tanpa minum yang seger2, saya, Ipunk dan Hanni pun beli es teh rasa Cola dan es sirup jeruk yang berwarna sangat Orange😆 Rp 3000,00 per gelas.

Tiba-tiba langit yang cerah berubah kelabu, padahal Bakso yang kami pesan baru ready dan siap dimakan. Sedang asyik-asyikny makan bakso gorengnya, gerimis turun. BEUWH, kami sedikit panik karena beberap penjaja jajanan juga panik demikian pula pengunjung lainnya, namun kami tetap melanjutkan prosesi makan siang. Jadilah Bakso Kawi kuah air Hujan yang kami santap.

Selesai makan, kami segera mencari tempat berteduh. Dan hujan yang sebenarnya pun turun. Sambil makan roti coklat yang tersisa kami menikmati hujan yang mengguyur kota Jogja *so sweet😀 *.

Daripada nggak ngapa-ngapaen dan karena belum ingin pulang, kami pun melanjutkan ekspedisi menuju Taman Pintar yang lokasinya memang dekat dengan lokasi berteduh kami sekalian numpang Sholat Ashar di masjid di Taman Pintar. Karena sudah pukul 16.06 wib, loket Taman Pintar sudah ditutup, kami pun tak bisa masuk ke gedung2 di Taman Pintar Cuma bisa bermain di area halamannya yang penuh dengan permainan mendidik yang sudah dipenuhi oleh adik-adik kecil.

Selesai sholat, awalnya ingin memutuskan jalan kaki untuk kembali ke Stasiun Tugu. Tapi tampaknya kaki sudah tak kuasa menahan sakit, kami pun memutuskan naik becak walaupun tak begitu tahu dengan tarif per becakan. Sedikit tawar menawar, akhirnya deal Rp 10.000,00 per becak dari taman pintar menuju Stasiun Tugu melewati RS. PKU Muhammadiyah, karena kami 5 orang jadi kami menggunakan 2 becak.

Dalam perjalanan menuju stasiun, Bapak kemudi becak bercerita banyak hal, memberikan banyak info mengenai Taman Sari, oleh-oleh khas Jogja dan tarif becak. Yang bikin heran, si Bapak malah ngasih info mengenai Pasar Kembang di Jogja yang ternyata Taman Lawangnya Jogja. Ketika mengayuh becak, si Bapak kemudi becak membantu mendorong becak temannya yang di depan dengan menempelkan bibir depan becak dengan slebor belakang becak yang berada di depannya ketika kami sampai pada tanjakan dekat Toko Bakpia 25 padahal si Bapak itu sendiri tampak kepayahan. OOOOoo….. saya dan teman2 merasa terenyuh ketika melihat hal tersebut . Ketika saya amati, kaki si Bapak kemudi becak tampak kencang dan kekar menandakan telah bertahun2 mengayuh becak. Beberapa saat si Bapak kemudi becak mengelap peluh di dahi dan leher menggunakan handuk kecil yang sengaja dikalungkan di lehernya. Huuuuu…. karena tak tega, kami sepakat membayar lebih seperti kesepakatan awal sebelum kami tawar.

Pukul 17.00 kami tiba di Stasiun Tugu, sedikit melepas lelah dan menunggu kereta pukul 17.30 wib yang ternyata datang lebih awal sehingga kami adalah 5 diantara sekian banyak penumpang wanita yang berkesempatan menikmati nyamannya Gerbong khusus Wanita. Saat berada di dalamnya, berasa nyaman dan berada di Dunia wanita. Karena sepanjang mata memandang hanya ada Wanita dan anak2 kecil sehingga kami pun nyaman sekali untuk berkelakar dan saling menggoda satu sama lain sambil melihat gambar2 unik yang berhasil kami abadikan hari itu.

Pukul 18.30 wib, kami tiba di Stasiun Solo Balapan kembali lalu pulang ke kost dan rumah masing2. Hmm, perjalanan hari Jum’at (30/12/2011) di Jogja kemarin memberikan cerita mengesankan penutup tahun 2011.

*Thanks to Ipunk, Hanni, Khusnul and Ophi telah menemani ke Jogja dan memberi pengalaman seru walo gagal ke Taman Sari. Next time again maybe😉
*Special for Hanni, udah aku tulis di Blog sesuai request.

Photobucket

4 thoughts on “mBolang #4 : Lagi-lagi Jogja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s