mBolang #3 Lawu Expedition : Sleep Walking and The Lessons

[PERJALANAN MENUJU POS 2 :  2,00 KM dari POS 1, 3 KM dari basecamp dan 2589 mdpl. sesuatu bangeeet …. ]

View dari Pos 2Setelah saya merengek di Pos 1, perjalanan tetap dilakukan. Saya berusaha meyakinkan diri bahwa saya mampu, kadang dalam perjalanan di gelap gulita saya berbicara sendiri untuk mengalihkan perhatian dari rasa capek, thanks untuk annisa yang dalam perjalanan menuju pos 2 slalu membantu saya, bernyanyi tampaknya salah satu hal yang bisa dilakukan untuk mengusir rasa letih.

Trek menuju pos 2 lebih menantang dibandin trek menuju pos 1, dari basecamp ke pos 1 jalanan relatif lebar dan tidak menganak tangga. Tapi perjalanan menuju pos 2 ini jalanan sempit, menganak tangga, dan lagi menanjaknya subhanalloh sekaliii… *curaaaaaam*. Kalau mengarahkan senter ke depan rasanya putus asa sekali,

“ini tangga kapan berakhir”

Jadi saya cenderung jarang melihat ke depan, seringnya melihat ke bawah. Melihat di mana pijakan yang mantab untuk melangkah selanjutnya. Mengingat perjalanan menuju pos 2 didominasi anak tangga bebatuan yang disusun sedemikian rupa, sehingga ada bagian yang curam dan tidak stabil.

Kata mas Mbahe *pemandu dari Lawu*, tangga batu tersebut disusun oleh masyarakat sekitar cemoro sewu. *awesome* Saya tak habis pikir, bawa batu dari atas atao bawah kemudian dibuat anak tangga. Mana batu nya ada yang guede banget…

Lanjut ke perjalanan. Padahal sudah jam 2, dan kami masih dalam perjalanan menuju pos 2. Padahal capeknya minta ampun. Tapi kami berusaha untuk tidak mengeluh, karena apa yang kita ucapkan bisa menjadi suatu sugesti bagi diri kita sendiri.

Tips #1 : naek gunung jangan mengeluh. Selain apa yang kamu ucapkan bisa di-amin-i malaikat juga hal tersebut akan mendorong pikirang kamu, dari pikiran akhirnya organ tubuh kamu akan mengamalkan apa yang dipikiran kamu.😉

Mulai pertengahan perjalanan, saya dan Anisa bergantian mengambil posisi di depan *cenderung saya terus dink :p *. Karena kami merasa kalo berada di depan tim, ada motivasi tersendiri untuk segera sampai pos 2 yang kami sendiri belum tahu di mana dan kapan kami akan sampai. *ciyeeeh*

Tips #2 : kalo tidak yaqin mampu, berjalanlah di depan tim. Karena akan muncul motivasi tersendiri untuk segera sampai tujuan

Desingan peluru *coret* angin benar2 terasa, saya merapatkan jaket, suaranya seperti air terjun padahal hanya angin yang melewati kami. Tenaga semakin terkuras, apalagi pagi hingga sore sebelumnya kami kuliah full. Seolah tak ada tenaga, akhirnya sebentar-bentar kami berhenti. Lucunya, antara berjalan sama berhenti seringan-dan-lama berhentinya.😀

Saya yang sudah mulai bisa beradaptasi memilih berdiri di saat berhenti, bagaimana mau duduk coba. Wong jalannya bebatuan, dan kalo terpaksa berhenti di daratan yang tidak datar harus siap2 “menyamankan” diri dengan bebatuan. Untungnya pake tas carier, jadinya kalo mau rebahan lebih enak karena ada penopangnya. Selain itu, biasanya kalo sudah duduk akan malas rasanya kalo mau berdiri. Anginnya sepoi-sepoi ma meeeen !!! seperti AC, hanya saja ini di alam terbuka. *Angin Cepoi-cepoi*. Itu masih mending Cuma malas untuk berdiri, Bahkan 2 menit pemberhentian bisa melelapkan kami *Serius*. Bahkan teman saya sedikit susah dibangunkan gara-gara kami berhenti sekitar 5 menit.

Dari perjalanan menuju pos 2 ini, pemandangan dari Lawu subhanalloh sekali. Lampu2 kota di bawah benar2 terlihat kecil, bahkan bulan yang kalo di Solo terlihat jauh di Lawu seolah benar2 dekat. Nggak nyesel naek menuju POS 2. Sukaaaaa….

Tips #3 : kalau berhenti, jangan terlalu sering duduk. Bisa-bisa kamu ketiduran di gunung😆

Sambil menikmati pemandangan di bawah, dan silirnya angin malam gunung, kami terus berjalan walau semangat tak lagi membara. Yang kami semua harapkan hanyalah ingin segera membangun tenda, dan tiduuuur:mrgreen:. Dan alhamdulillah setelah berjalan hampir 2jam-an lebih, sampai juga kami di POS 2.

Jarak antara pos 1 hingga pos 2, tergolong jarak yang panjang namun trek yang dilalui juga cenderung mirip. Bebatuan, menanjak, dan sedikit jalan menurun *bisa diitung pake jari jalan menurunnya* dan juga sempit.

Ah iya, kalau di Lawu nggak boleh pakae baju warna hijau. Kurang tahu pasti alasannya apa, tapi kata mas-mas-nya, kalau tiba2 hilang susah dicari. Karena warna hijau serupa dengan warna daun. Selain itu ada beberapa pantangan lain, dan ada baiknya untuk dipatuhi mengingat pendaki hanyalah pendatanga, bukankah bukan tindakan tercela untuk menghormati tuan rumah ??

Bersambung lagi deh InsyaAlloh:mrgreen:

4 thoughts on “mBolang #3 Lawu Expedition : Sleep Walking and The Lessons

  1. Pingback: [Random Thought] #6 « Areeavicenna | Ex libris

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s