Catatan Ramadhan #2 : Ayam Simalakama dan Syukur

Chicken Crossing the Road Pictures, Images and Photos

Terinspirasi oleh note teman di FB nya mengenai Ayam. Jadi teringat kemarin malam makan ayam goreng tepung crispy. Jadi Ibu saya beli ayam ½ KG, dapet paha ayam 5 potong. Harganya Rp 10.500,00. Ukurannya guedhe2. Ketika lagi transaksi sama penjual, saya mendengar seorang Ibu2 dengan tatapan mata sinis, menye2 megang paha ayam dengan gaya jijik sambil ngomong,

 “Ini ntar nggak bakal kempes kan kalo digoreng ? Saya ndak mau kalo kempes, wong saya beli ayam sampeyan karena ukurannya yang gedhe. Ntar digoreng kempes saya yang rugi, beli sekilo tapi nyatanya malah Cuma sekilo kurang banyak”

Saya diam saja. *EGP* Sampe rumah langsung digoreng, tapi ketika digoreng malah jadi “kempes”, . Jadi inget ibu2 di pasar tadi.

Terus kemarin saya nonton TV, beritanya juga mengenai ayam. Disebutkan bahwa harga ayam turun gara2 banyak diketemukan ayam TIREN. Kontradiksi dengan sebuah warta online, yang menyatakan kalau harga pakan ayam naik. Pedagang dan peternak ayam yang resah, menjual ayamnya sambil curcol soal mahalnya harga pakan tapi harga ayam yang dijual malah turun.

Ini kalau dipikir2 lagi, manusia itu banyak maunya. Penjual ayam pengen ayamnya laku keras harga tinggi, pembeli pengennya ukurannya gedhe harga murah. Penjual pun tak kurang akal, si ayam pun disuntik air biar ukurannya jadi gedhe.  Tapi pas ukuran ayamnya besar, pembeli meragukan orisinalitas si ayam walaupun itu ayam emang dari sononya gedhe.

Mungkin kebanyakan kita lebih suka dan lebih sering menyebut-nyebut kesulitan/keresahan/kegalauan yang kita hadapi dan mengeluhkannya kepada orang-orang. Padahal sebenarnya telah banyak nikmat yang kita rasakan. Banyak uang, bingung. Nggak punya uang, uring-ringan. Kurus, resah. Gemuk apalagi. Diberi kesehatan, sombong. Diberi rasa sakit, keluhannya minta ampun. Bener2 banyak maunya.

Coba deh kalo kita sejenak memikirkan perasaan si ayam, karena sesungguhnya si ayam lebih punya banyak alasan untuk resah dan mengeluh. Harga ayam tinggi, mereka dijagal. Harga ayam rendah, mereka juga dipotong. Harga makanan rendah, pisau senantiasa diasah. Harga pakan tinggi, pisau pedagang juga selalu mampir di leher ayam. Malu kan sama ayam? Mau dalam kondisi apapun si ayam tetap tewas.

Jadi kalau sempat baca mengenai karakter asal manusia yang sering tak berpuas diri, rasanya memang benar. Seperti yang disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berbagai haditsnya. Ibnu Az Zubair pernah berkhutab di Makkah, lalu ia mengatakan,

Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya manusia diberi lembah penuh dengan emas, maka ia masih menginginkan lembah yang kedua semisal itu. Jika diberi lembah kedua, ia pun masih menginginkan lembah ketiga. Perut manusia tidaklah akan penuh melainkan dengan tanah. Allah tentu menerima taubat bagi siapa saja yang bertaubat.” (HR. Bukhari no. 6438)

Ada begitu banyak cerita untuk mengeluh. Ayam pun punya banyak pembelaan untuk membenarkan dia untuk mengeluh. Lalu, kenapa kita selalu mencoba mencari pembenaran atas keluhan yang seringkali bahkan kita tahu betul kita tidak harus mengeluh? Bukankah mensyukuri nikmat yang telah diberikan oleh-Nya lebih mulia dibanding mengeluh ?

Pandai-pandailah mensyukuri nikmat Allah apa pun itu. Karena keutamaan orang yang bersyukur itu luar biasa. Allah Ta’ala berfirman,

 “Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imron: 145)

 “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.” (QS. Ibrahim: 7)

Ya Allah, anugerahkanlah kami sebagai hamba -Mu yang pandai bersyukur pada-Mu dan selalu merasa cukup dengan segala apa yang engkau beri.

***

credit picture : [here]

Terimakasih untuk para penulis muslim.or.id dan buletin.muslim.or.id atas sitenya yang full manfaat.

6 thoughts on “Catatan Ramadhan #2 : Ayam Simalakama dan Syukur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s