[Review Buku] Si Camar Jonathan Livingston

Si Camar Jonathan Livingston

Judul : Si Camar Jonathan Livingston

Judul Asli : Jonathan Livingston Seagull

Penulis : Richard Bach ; Alih Bahasa : Ina Minasaroh

Tahun Terbit : Cetakan pertama, 2011

Halaman : x + 98 halaman

Penerbit : ONCOR Semesta Ilmu

“Jika engkau mencintai seseorang, biarkanlah ia bebas. Jika suatu saat ia kembali, maka ia milikmu. Namun jika tidak, ia bukan lagi milikmu.” -Richard Bach

Awalnya saya itu nDak tahu menahu mengenai buku ini, hingga seorang teman mengirim sms ke HP saya menanyakan perihal “Camar Jonathan”. Awal baca sms sedikit bingung, setelah googling *walaupun hasilnya tidak 100% jelas* dan baca2 tampaknya ini mengenai sebuah buku.

Dan ternyata benar. Jonathan adalah tokoh utama dalam buku dengan judul asli “Jonathan Livingston seagull”. Yang berbeda dari buku yang sering saya baca adalah tokoh utama dalam buku ini adalah seekor burung camar.

Informasi mengenai buku ini di google indonesia sangat minim, padahal buku ini masuk dalam daftar “Most Read Book” di goodreads, juga merupakan best seller dunia. Buku “Si Camar Jonathan Livingston” bergenre novel pengembangan diri atau bahasa kerennya novel Psikologi. Kalau saya pribadi menyebut buku ini sebagai sebuah fabel modern, karena berkisah mengenai  kehidupan seekor burung camar bernama Jonathan Livingston yang “berbeda” dari burung camar pada umumnya.

Burung Camar adalah burung pemakan ikan, dapat kita jumpai di pelabuhan atau daerah sekitar pantai dengan kondisi perairan yang tidak terlalu dalam. Dalam buku ini, Jonathan Livingston adalah seekor camar yang tidak ingin hidupnya seperti burung camar kebanyakan yang rutinitas hidupnya hanya berkompetisi untuk mencari ikan antar sesama camar. Untuk itu Jonathan berpikir “out of the box”, menentang kodrat dan aturan yang berada dalam lingkungannya bahwa Burung Camar terbang untuk makan. Dia ingin terbang dengan cepat, sehingga tidak perlu berebut makan dengan burung camar lain. Dia ingin bisa terbang di malam hari, sehingga bisa mencari makanan selain ikan.

Namun nyatanya “ketidakwajaran” yang dilakukan Jonathan dianggap mengganggu dan merusak tata kehidupan koloni camar. Maka oleh para tetua, Jonathan dikucilkan-dibuang-dan dilarang kembali masuk dalam koloninya. Dalam pengasingan diri ini Jonathan bertemu dengan sekelompok burung camar yang satu visi dan senasib dengannya. Dalam kelompok baru ini, Jonathan belajar hal baru mengenai cara terbang dengan cepat bahkan hanya dengan membayangkan dia bisa berpindah tempat.

Buku ini menarik untuk dibaca. Meskipun tipis, namun tidak membosankan untuk dibaca. Nilai tambah dari buku ini adalah adanya ilustrasi burung camar, sehingga pembaca dibantu untuk membayangkan kondisi dalam kehidupan Jonathan. Karena ini adalah buku hasil terjemahan, maka terdapat beberapa susunan kata yang sedikit membingungkan untuk dibayangkan. Meski demikian, ini bukan masalah besar untuk melahap habis si buku.

Dalam akhir halaman, teman-teman sekalian akan diberitahu sedikit informasi singkat bahwa Jonathan Livingston ternyata adalah nama seorang pilot yang menginspirasi Richard Bach untuk menulis kisah “Si Camar Jonathan Livingston”

 “Most gulls don’t bother to learn more than the simplest facts of flight – how to get from shore to food and back again. For most gulls, it is not flying that matters, but eating.” – Richard Bach

Overall, 4/5 stars for this book.

———

Review By Nung Ria

3 thoughts on “[Review Buku] Si Camar Jonathan Livingston

  1. ada yang punya buku ini dan berniat jual? karena stok penerbit kosong dan sudah tidak mengeluarkan lagi😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s