[Moving Class] #2 : Ayo ke Museum Etnobotani!


Masih di hari yang sama dengan kunjungan di LIPI, pukul 11.00 WIB rombongan kami meninggalkan LIPI menuju Istana Bogor museum yang terletak di depan Istana Kepresidenan.  Museum ini lain dari pada yang lain, kalo biasanya museum itu kan berisi benda2 purbakala atau sesuatu yang berbau tempo dulu, nah kalo di museum ini artefak2 yang ada selain juga berbau tempo dulu tapi juga sangat2 go green alias artefak yang dipamerkan adalah artefak yang bahan asalnya dari tetumbuhan.

Museum etnobotani tampak depan

Namanya MUSEUM ETNOBOTANI.

Posisinya menurut sumber ini, sebenarnya mudah dijangkau. Bila kawan2 orang Bogor atau sedang berada di sekitar Bogor dengan menggunakan angkutan umum dari Terminal Baranang Siang dibutuhkan waktu sekitar lima menit, kalo dari Stasiun Bogor cuma butuh tiga menit. Pintu masuk museum ini sebenarnya terletak di Jalan Kantor Batu. Akan tetapi, karena pintu gerbangnya ditutup, pengujung harus masuk melalui pintu Puslitbang Biologi LIPI di Jalan Djuanda No.22-24. Itupun harus menyusuri jalan kecil sepanjang 50 meter dari bangunan utama. Dari situ kita akan menemukan sebuah gedung berlantai lima, di mana museum ini terletak  di lantai dasar.

Karena kami sama sekali newbie di sini, alhasil kami lewat melalui pintu belakang.😆 dan keluar lewat pintu masuk.

Untuk tiket masuknya saya masih belum pasti, antara Rp 1000 – Rp 2000,00 kalo nggak salah. Murah kan ??? padahal kalo di museum lainnya tiket masuk bisa lebih dari Rp 5000. Dengan murahnya tiket masuk bukan berarti barang atau artefak yang dipamerkan adalah artefak biasa2 saja.

Di Museum Etnobotani ini, artefak yang dipamerkan adalah arterfak2 yang digunakan oleh nenek moyang Indonesia berupa benda2 dari tumbuhan. Sehingga aspek go green benar2 tampak. Dari sini kita bisa mengetahui berbagai macam tumbuhan, seperti pohon Labu yang biasa di buat kolak atau makanan-minuman ternyata adalah bahan asal dari pembuatan koteka yang dibuat oleh teman kita di wilayah Timur Indonesia sana.

dolanan tradisional

Artefak favorit saya adalah mengenai mainan anak2. Di sini mainan anak2 benar2 masih tradisional, terbuat dari alam, dan kreatifitasnya benar2 tampak. Dengan melihat “dolanan” saya jadi teringat masa kecil saya dulu.

Selain rombongan kami juga ada beberapa bapak-ibu paruh baya yang berkumpul di belakang etalase souvenir, ternyata beliau2 ini lah yang berdiri di belakang museum etnobotani sekarang. Ketika kami disuruh berkumpul dan diberi sedikit informasi dengan suasana yang informal *duduk melingkar di lantai museum* sambil mendengarkan seorang Ibu yang berbicara dengan bantuan megaphone. Saya benar2 disihir oleh kata2 beliau, saya kagum dengan pengalaman hidupnya yang saya rasa tidak biasa. Beliau bukan Butet Manurung, namun pengalamannya juga tak jauh2 dari kehidupan Butet Manurung yang bergelut dengan suku dalam. Beliau ini malah mengaku sudah pernah keliling Indonesia, observasi suku2 yang ada di Indonesia. Beliau juga mampu bertahan selama lebih dari 30 hari kala masih lajang berada di luar jawa untuk observasi suku bangsa Indonesia, bertahan hidup diantara suku asli. Mulai dari suku yang dapat dengan mudah di masuki, hingga suku yang pada era milenium ini masih susah diajak berkomunikasi akibat ketidakpahaman akan Bahasa Indonesia dan kehidupan yang masih primitif.

Saya lupa nama sukunya, tapi seingat saya suku ini berada di wilayah Timur Indonesia. Kehidupan suku ini masih primitif, hak milik tidak ada dalam kehidupan suku ini. Tak ada yang namanya “pohon kelapa itu milik saya”, sehingga semua orang bebas mengambil apapun yang ada di alam. Mereka bertahan hidup dengan berburu, setiap berburu seluruh keluarga akan diajak karena Pencurian Istri bisa saja terjadi.

Benar, bukan barang yang dicuri. Tapi istri. Dan suku ini ada di Negara Indonesia kawan, tak jauh dari kita. Dengan kondisi seperti itu, bisa dianalisa kalo kehidupan suku ini nomaden.

Lalu beliau juga bercerita salah satu suku di wilayah Barat Indonesia, pada tahun 1980-an suku ini tidak tahu menahu mengenai jual-beli. Tahun 1990-an ketika beliau kembali berkunjung ke sana, suku ini sudah mulai tahu cara mengelola lahan. Berjual-beli, komunikasi sudah semakin lancar. Namun di akhir tahun ’90-an akibat ada nya pembukaan lahan hutan menjadi perkebunan, juga banyak masuknya pengusaha2 dari Singapura membuat suku ini bergaul dengan orang2 asing tersebut. Sehingga pemerkosaan terhadap perempuan suku sering terjadi. Tahun 2000-an ketika beliau kembali ke sana, suku ini turun ke jalan untuk meminta2. Merendahkan harga diri mereka dengan menjadi pengemis di jalan. Dari situ kita bisa tahu, hanya dalam kurang dari 2 dekade sebuah suku kehilangan kemampuan bertahan hidup dari memanfaatkan barang2 di sekitarnya sehingga menggantungkan diri mereka kepada pihak lain dengan jalan mengemis seperti yang dilakukan oleh suku ini.

Ibu yang bercerita ini sangat ramah teman, Sayangnya pula saya tak tahu nama Ibu yang hebat ini. saya benar2 ingin mendengar cerita lain dari beliau.  Karena keterbatasan waktu, pukul 13.00 WIB kami pun berpamitan untuk selanjutnya melanujutkan ekspedisi ke Kebun Raya Bogor.

 

peralatan dari pohon labu

Pembatas Buku : buah tangan dari Museum Etnobotani



*Gambar shoot museum diambil dari sini. gambar lainnya milik pribadi

5 thoughts on “[Moving Class] #2 : Ayo ke Museum Etnobotani!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s