July is yours, mom

Sekarang aku merasa cukup pandai untuk menyusun huruf demi huruf, merangkainya menjadi suatu kata yang memiliki arti. Menyusunnya menjadi sebuah kalimat yang indah, dan merangkainya dalam suatu paragraf yang mengandung banyak makna.

Sekarang aku mengatahui apa itu angka, bagaimana angka itu digunakan. Aku juga tahu apa yang mesti ku lakukan bila melihat simbol menyilang, garis miring, garis yang berada di antara angka-angka tersebut. Aku tahu bila simbol menyilang yang berada di antara angka, maka aku harus mengkalikan angka tersebut. Bila ada garis miring, maka harus aku bagi angka-angka tersebut. Aku menjadi tahu operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian itu seperti apa.

Aku sekarang juga tahu bilamana harus menyebutkan keindahan warna-warna pelangi. Aku tahu bagaimana membuat warna oranje, yaitu dengan mencapur warna merah dengan warna kuning.

Ketika aku melihat ke langit pada malam hari tampak lingkaran bundar yang berukuran besar daripada benda langit lainnya dan memancarkan cahaya, aku sekarang tahu kalau itu adalah bulan.

Kala aku berjalan, dan melihat suatu benda dengan warna kecoklatan dan bagian atasnya tertutup benda-benda berwarna hijau yang banyak. Aku tahu benda coklat itu disebut kayu, sedang yang berwarna hijau lebat itu disebut daun.

Aku, 18 Tahun 10 bulan. 2 bulan lagi umurku 19 tahun, setahun lagi umurku 20 tahun, 2021 nanti umurku akan 30 tahun.  Aku bersyukur mampu hidup selama ini, sampai detik aku menyusun kalimat2 ini sehingga terangkai menjadi sebuah cerita mengenai kehidupanku. Aku bersyukur karena aku dilahirkan ke dunia ini.  Aku bersyukur karena pembelajaran hidup ku berasal dari sosok luar biasa yang sederhana dan lugu. Dan lebih bersyukur ketika sosok itu adalah orang yang melahirkanku. Seorang ibu yang tangguh, pekerja keras, dan pandai matematika.

Ia yang dengan kepayahannya mengandung ku selama 10 bulan, padahal bayi-bayi lain akan menyapa dunia setelah berumur 9 bulan 10 hari di dalam rahim ibu. Namun aku, masih menyusahkan ia 20 hari. Aku yakin, aku sungguh sudah merepotkannya dalam waktu 20 hari tersebut.

Ketika aku terlahir, aku menyusahkannya sekali lagi. Aku yakin dengan postur tubuh kecilnya  20 tahun yang lalu, ia kepayahan mengejang dihadapkan kelelahan dan hidup-mati demi membuatku keluar dari rahimnya. Aku yaqin sudah merepotkannya lebih dari yang ku duga. Apalagi ketika mendengar cerita bahwa berat badanku ketika itu adalah lebih dari 4 Kg lebih dengan panjang lebih dari 50cm, lebih besar dibanding kehamilan pertamanya, Mamas ku yang berat badannya tak lebih dari 3 Kg.

Ketika umurku 16 bulan, aku kembali menyusahkannya karena tidak mau minum ASI. Seorang bayi yang dengan kemauannya sendiri tidak mau minum ASI dari sang Ibu. Pasti kala itu Ibu benar2 kebingungan dengan tingkah ku.

Otomatis dengan berhentinya aku minum ASI, ia akan berupaya mengganti gizi yang berada pada ASI dengan susu formula. Padahal aku adalah anak kedua susu formula pastilah tidak murah, sedang Mamasku kala itu tengah duduk di bangku SD. Aku yakin, Ibu dan Bapak bercucur peluh mencari rezeki demi susu formula ku dan kelanjutan pendidikan Mamas.

Aku malu, ketika Ibu menceritakan aku ini bayi yang tidak mau minum susu encer. Kaleng susu bubuk ukuran 1 Kg, kata nya mampu aku habiskan dalam waktu tak sampai 12  hari. Ah, pasti aku benar2 bayi yang bandel. Pasti berjuta-juta uang yang dikeluarkannya demi susu formula ku hingga umur ku 5 tahun.

Ketika berumur 3 tahun, tangan ku terkilir. Dengan sabarnya engkau meniupi ubun-ubun ku demi kenyamanan tidurku. Hal tersebut berarti aku mengurangi waktu tidurmu, padahal pukul 4 pagi kau harus sudah bangun untuk membuat jamu untuk kau jual dari kampung ke kampung.

Aku kembali membuat ulah dengan membuat mu marah ketika melanggar aturan mu. Aku ingat sekali, kala itu aku melanggar aturan yang kau buat dengan bermain ke irigasi. Dulu aku menangis ketika kau marahi, karena aku tidak tahu bahwa laranganmu demi keselamatanku, karena kau khawatir kalau2 aku hanyut di irigasi itu.

Aku merasa bodoh, ketika mengingat aksi ku di masa kecil. Aku yang selalu merasa bahwa kau lebih menyayangi Mamas dibanding aku, karena foto2 masa kecil Mamas jauh lebih banyak dari foto2 ku. Aku cemburu ketika hanya suara masa kecil Mamas yang kalian rekam, sehingga ia bisa tahu suara masa kecilnya. Sedang aku, lupa sama sekali bagaimana suara mas kecilku. Padahal hal tersebut karena kau sibuk bekerja demi kehidupan keluarga, sehingga waktu mu bersantai menjadi berkurang.

Aku menyesal ketika dulu selalu berpikir bahwa kau ibu yang selalu membentak anaknya, bahwa kau Ibu yang tak bisa membuat anaknya bahagia, bahwa kau adalah Ibu yang tidak menghargai hasil kerja keras ku. Namun, belakangan aku menyadari bahwa kau adalah Ibu yang penuh pengertian.

Aku kecewa ketika teman ku yang mendapat ranking 1 mendapat hadiah ice cream dari orangtuanya, sementara aku yang lebih sering mendapat ranking 1 tak pernah mendapat hadiah spesial dari mu. Bahkan ucapan selamat juga tak ku dapat. Sekarang aku sadar, dengan sikap itu kau membentuk kepribadian ku agar tidak gampang berpuas diri akan suatu keberhasilan. Kau hendak membentuk pribadi yang ulet dalam diriku.

Aku benar2 menyesal membuat mu menangis di hari kau pulang dari rantau 5 tahun yang  lalu. Hanya karena aku dengan egoisnya marah sebab tak kau perbolehkan tidur usai sahur, sementara Mamas kau perbolehkan tidur. Padahal maksudmu adalah agar aku sholat shubuh terlebih dahulu, dan karena aku ini seorang wanita yang tak sepantasnya bermalas-malasan.

Aku merasa sangat egois, ketika mengingat peristiwa 3 tahun yang lalu. Dengan merajuk aku meminta handphone baru karena HP yang kecopetan sesaat sebelumnya, sampai2 aku mengacuhkan telepon mu. Padahal kau dan Bapak di rantau sana mencemaskanku hanya karena aku tidak mengangkat telepon.

Aku sangat menyesal, ketika awalnya tidak sepenuh hati masuk SMA karena tak ada yang ku kenal di SMA baru ku itu. Aku menyesal karena membuatmu kesusahan, sampai2 membuat mu jatuh sakit karena memikirkan teleponku yang meminta dipindahkan sekolah.

Ibu, aku tahu kau tak pernah meminta imbalan dari apa yang kau lakukan selama ini untukku. Aku tahu harapan mu kepada anak-anak mu ini hanyalah dapat menempuh pendidikan setinggi-tingginya, tidak seperti dirimu yang hanya lulus SD karena musti putus sekolah akibat faktor kekolotan orang-orang era itu. Karena harapan mu kami mendapat pekejaan yang layak, sehingga kau dapat memastikan kami mampu berdiri di kaki kami sendiri sehingga kau bisa bernapas lega menikmati masa tua, setelah kerja keras ditanah rantau selama puluhan tahun.

Ibu, aku bangga walaupun kau lulusan SD namun kau berhasil memecahkan soal matematika SMA yang aku padahal notabenenya “lebih pintar” dari mu putus asa hanya karena tak mampu memecahkan soal itu.

Ibu, aku bangga pada mu karena kau pandai berhitung. Walaupun kepandaianmu itu tak kau turunkan kepadaku.

Ibu, aku bangga karena kau adalah seorang pekerja keras. Sehingga kau adalah role model paling sempurna untukku yang pemalas ini.

Ibu, aku bahagia karena kau selalu mengupayakan apapun yang kau janjikan untukku meski itu berarti kau harus bekerja ekstra keras bahkan sampai mengurangi jatah tidurmu.

Ibu, dengan canggung aku ingin meminta maaf dengan tulisan ini karena selama ini menyusahkanmu, menjadi beban pikiran mu.

Kau tahu aku bukan anak yang pandai meluapkan perasaan secara langsung, kau tahu benar bahwa ku bukan orang yang ekspresif mengenai perasaan, bahkan Mamas pun berpendapat bahwa aku ini orang yang tidak peduli sekitar, tidak mau tahu perasaaa orang lain. Tapi sebenarnya aku Cuma tak tahu bagaimana mengekspresikannya, karena aku merasa canggung untuk mengucapkannya.

Terimakasih. Ana uhibbuki fillah, ummi…

itu yang ingin aku ucapkan padamu, walau hanya sebuah ucapan singkat. Walaupun aku tidak yaqin dapat selalu membuat mu bahagia, namun aku akan terus berupaya semaksimal mungkin untuk membuat bangga terhadap ku. Membuat mu bahagia, karena aku adalah putri mu.
Terimakasih Ibu.

-By Nung Ria Nursanti,

dedicated for my lovely mother yang selalu kami nanti kedatangannya. July is yours, mom…😉


Credit : picture [here]

6 thoughts on “July is yours, mom

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s