Wong Jawa Tulen : 100 % Tanpa Formalin

.d.e.k.l.a.r.a.s.i.
Saya, -Ria- dengan penuh kesadaran dan penuh kejujuran menyatakan bahwa sesungguhnya saya benar-benar orang Jawa Tulen. Asli Sragen, dan berdomisili di Sragen jua.
Bahwa saya terlahir dari orangtua yg mana Bapak saya dari Sragen dan Ibu yg dari Sragen jua.
Kakek-nenek dari kedua belah pihak orangtua saya adalah penduduk Indonesia dgn garis keturunan Murni Indonesia.

Ini hanya sekedar cuap2 belaka yg dilatar belakangi oleh beberapa pendapat kawan yg pernah berdialog, bertemu ato berkenalan dengan diriku yg selalu meragukan dan menanyakan asal-usul ku. *Nasib*.

Aku rasa bermula dari mata sipit yg secara ‘tidak sengaja’ diturunkan Bapak kepada diriku dan my brother. Dan kulit kami yg kuning, bukan nya sawo matang. Padahal tidak ada garis keturunan dari etnis China ato Indocina di keluarga *setau ku tidak ada*.
Jadi ingat sejarah my brother dan ‘mata sipit’ nya,🙂
Hari itu, my brother dgn sepeda nya berangkat mengaji. Dengan pakaian koko berwarna putih, mengayuh sepeda menuju rumah Tengku *istilah bagi Ustadz*.
Belum sampai di rumah sang guru mengaji, seseorang meneriakinya,
“Cina masuk Islam. . . Cina masuk Islam. . . Cina masuk Islam!!!” .
eNtah karena bingung, marah atau bagaimana, my brother yg saat itu masih kecil, malah menangis pulang tak jadi berangkat mengaji. * Hhehe.. Selalu tersenyum bila mendengar cerita ini. Meski aku tak tau apakah aku sudah eksis di dunia waktu itu. *

Nah, itu dari segi fisik. Yg memang sudah Qodarulloh seperti ini. Yg insyaAlloh kami sekeluarga selalu bersyukur atas apa yg ada dan diberikan oleh Sang Pencipta.

Dari cara bicara -aksen bicara- kami, banyak orang yg salah duga jua. Beberapa di antaranya mengatakan, kami dari Sumatera. Oke, itu bisa diterima dan karena kami sekeluarga pernah tinggal untuk waktu yg lama di Pulau yg bentuknya lonjong seperti ujung pena, mungkin kami sedikit terpengaruh. Jadi, bagi yg menganggap kami Orang Sumatera, kami maklumi.
Tapi yg aneh, beberapa dari orang2 yg bertemu daku, bertanya,
“Orang Sunda ya, mbak ?”

Wuik ??? Kok bisa? Sempet heran kalo ada orang yg mengira diri ku orang Sunda. Dan itu tidak sekali ato dua kali. Tapi berkali2, sampai tak terhitung.
Tinggal di wilayah mayoritas orang Sunda saja belum pernah, lha kok bisa2 nya disangka orang Sunda.

“Soalnya aksen bicara kamu seperti orang Sunda.”

“Eh, Wong Jowo tow?? Kok ngomongnya kayak orang Sunda”

“Masak seh? Ga keliatan aksen medoknya. Malah seperti orang Sunda”

“Seperti mantan saya yg orang Sunda.”
*walah, pernyataan yg aneh*.

Hmm, kalo dipikir2 kok daku jadi bingung sendiri. Kok bisa2nya mereka mengira diriku orang Sunda hanya karena aksen bicara ku yg nggak ‘nJawani’. Jangan2 nanti kalo daku pergi ke daerah mayoritas orang Sunda tak akan ada yg menanyakan asal kepada ku, ya karena itu tadi, aksen bicara. *Memangnya ciri2 dari aksen Sunda itu seperti apa?? Truz, kalo aksen nJawani seperti apa ??*

Gara2 pertanyaan sama itu sering muncul, kadang ngrasa capek juga bilang kalo daku ini Wong Jowo Tulen. 100% tanpa formalin.hffh…

“Yo ez lah. Yen podho ngira aku wong Sunda. Sing penting ora ana sing ngiro aku wong Edan.:mrgreen:
.
.
.
#ditulis ketika ada Dini (kimia) mengira aku orang Sunda.
13 November 2009, dirampungkan di malam hari ditemani rintikan air hujan#

8 thoughts on “Wong Jawa Tulen : 100 % Tanpa Formalin

  1. Yen sundo i dbanding jowo. Ngomonge rada cepet, trus enteng. Sok kata2 t’akhre didhuwurke sithik.

    Penak dirungokne jane, tapi sok yo nganyeli. Bso sundo yo ono 3 tibakno, tapi mbuh rag mudeng ba2r pisan.

    Mulane yen ning kampus i ngmong go bs jowo wae. Aku we go bs jowo og.. (sak wayah2). Knca2mu yen gak iso bso jowo kon mulih wae.

    Jawalah Indonesiaku..🙂

  2. Percaya, tapi kok bisa yakin sekali? memang tau pasti siapa kakek dan nenek moyangnya? Saya juga hanya tau sampai Mbah Buyut, sedang Bapaknya Mbah Buyut itu saya tidak tau, Mbah saya juga sudah lupa. Tapi insya Allah saya orang Jawa dan memang seperti orang Jawa, lahir di Jawa, tinggal di Jawa, jadi ga ada yang aneh ya🙂. Tapi saya terima kok kamu itu orang Jawa, dan sepertinya memang orang Jawa ada yang seperti itu. Dan sebenarnya tidak begitu penting. Karena yang penting adalah kita bertaqwa kepada Allah, dari manapun suku kita, karena kita tak pernah memilih tuk dilahirkan sebagai suku apa.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s