Anak Rantau, Mudik dan Lebaran

Kalau bicara mengenai mudik jadi teringat masa lalu.
Kira2 10tahun yg lalu *beuwh,lama bener*, ketika diriku yg waktu itu berstatus sbg anak rantau. Tradisi mudik utk ikud menyemarakkan kemeriahan Idul Fitri di kampung pastilah kami lakukan. Biasanya persiapan sebelum mudik adalah membeli oleh2. Waktu itu aku masih amat sangat kecil, umur 5 tahun ato 6 tahun lah, jadi hal yg ku ingat adalah aku membeli sekotak besar lilin2 kecil dan kembang api. Belinya di dekat Pendopo pusat kota Bireun, di sekitar Jalan Ramai. *Ah, aku benar2 jd bernostalgia*. Lilin2 dan kembang api ini seolah2 sbg syarat mutlak waktu itu utk merayakan malam takbiran di Kampung.

Biasanya H-10 aku dan keluarga brangkat mudik dr Terminal Bireun. Naik bus, krn waktu itu tiket pesawat amat sangat mahal sekali, lagipula barang bawaan kami juga berkardus2 ukuran bigsize. Perjalanan jalan darat membutuhkan waktu 4 hari 5 malam utk sampai di Terminal Tirtonadi, Solo *itu kalu lancar.* Namanya juga masih anak2, ketika dlm perjalanan ya ngrasa hepy2 aja. Berimajinasi dgn benda2 di pinggir jalan. Dr api yg keluar dr cerobong asap pabrik di Lhokseumawe yg aku imajinasikan sbg monster ala ultraman, gemerlapny lampu di Padang yg aku imajinasikan sbg Negeri Dongeng ala Nirmala, hutan karet yg aku bayangkan sbg hutan lebat, jalan berkelok2 sepanjang lintas timur sbg jalanan utk F1. Ah, semuanya tampak mengasyikkan. Dan yg paling tak terlupakan, adalah moment di Kapal Fery ketika menyebrang Selat Sunda dan aku melihat lampu2 Jakarta yg berwarna-warni. Wah, waktu itu rasanya menakjubkan bisa melewati Jakarta. Bisa digunakan utk alat menyombongkan diri dgn anak2 sebaya ku waktu itu.

Tetapi semenjak insiden REFERENDUM ato GAM, kami orang2 Jawa yg merantau di Aceh “terusir” dr Tanah Rencong itu. Dan hal tsb membuatku menjadi meninggalkan tradisi mudik lebaran.

Sebagai anak kecil yg memiliki dunianya sendiri, aku tidak memperdulikan dgn nama kota2 yg aku lewati masa itu. Dan hal tsb menjadi penyesalan terbesar ku saat ini. Krn kecil kemungkinan aku dapat pergi ke Aceh lagi, tanah rantau kami. Dan walaupun aku bisa pergi ke Pulau Sumatera, paling2 mentog hanya bisa sampai Riau *krn Riau tanah rantau orangtua ku skarang*.

Skarang tak ada lagi tradisi mudik, tak ada lagi ritual penyalaan lilin di malam Takbiran. Dan suasana lebaran hanya menjadi suasana yg biasa2 saja.

Closing statement

Kangen Jd anak rantau, kangen mudik lebaran, kangen temen2 kecil di Aceh.

12 thoughts on “Anak Rantau, Mudik dan Lebaran

  1. I don’t know If I said it already but …Hey good stuff…keep up the good work!๐Ÿ™‚ I read a lot of blogs on a daily basis and for the most part, people lack substance but, I just wanted to make a quick comment to say I’m glad I found your blog. Thanks,)

    A definite great read..Tony Brown

  2. iya sy sangat ingin ke aceh udah lama banget.
    Makassar bener yg ada pantai losarinya apalagi sekarang baru2 aja dibangun sebuah theme park indoor terbesar di dunia dgn nama Trans Studio World. hihihih *Ikut promosiin jg daerahku yak*

    Oh iya mbak, maap mbak Ria kalau boleh link aku yg dipasang jgn yg itu yak, yg ini aja mbak. Please….

    teks : Kenali dan Kunjungi Objek Wisata di Pandeglang
    url : http://pancallok.blogspot.com/2009/08/kenali-dan-kunjungi-objek-wisata-di.html

    *Persahabatan tidak mengenal pagerank and nasi gorenk, hihiih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s