0

Puasa, Pemuda, dan Mengenai Menikah

Tulisan ini mungkin sudah sangat sering dibaca, di re-blog, re-post dan tentu saja menjadi “light on” utk banyak orang. jadi saya merasa tak pernah ada salahnya untuk me-reblog tulisan ini. karena sudah seyogyanya menyebarkan tulisan baik yang memberi efek baik🙂

Sekitar tujuh tahun yang lalu, ketika hendak menikah, saya mendatangi guru saya untuk meminta nasihat tentang pernikahan.

Sebagai seorang laki-laki, ada sejumlah kebimbangan dalam hati saya. Di satu sisi, saya ingin segera menikah karena saya merasa sudah menemukan ‘jodoh’ saya. Di sisi lain, saya masih merasa belum mampu menjalani pernikahan tersebut—terkait kesiapan mental, kesiapan batin, terlebih kesiapan materi karena barangkali kelak saya yang akan memegang tanggung jawab finansial lebih besar dalam rumah tangga.

“Kalau kamu belum mampu menikah, berpuasalah!” Kalimat itulah yang pertama kali diucapkan guru saya setelah saya menceritakan semuanya. Dingin dan datar.

Rasanya saya ingin bertanya, apakah puasa akan menyelesaikan masalah-masalah yang saya keluhkan? Apakah puasa akan membuat saya siap secara fisik, mental, batin, bahkan finansial? Namun, saya tak berani mempertanyakan semua itu kepada guru saya, hingga saya menanyakan hal lainnya—

“Saya mengerti tentang bahwa kita harus menahan diri, Kiai, menjaga pandangan dan kehormatan,” ujar saya, berusaha memberanikan diri, “Tapi saya ingin menikah bukan karena saya tidak bisa menahan nafsu seksual saya…”

Guru saya mendelik, “Kamu belum siap untuk menikah, Nak,” ujar guru saya, “Maka berpuasalah!”

Ada yang berontak dalam diri saya. “Ini soal lain, Kiai. Lebih ke soal bahwa saya khawatir saya belum siap membimbing istri saya atau menafkahinya secara materi. Bukan tentang hasrat seksual yang tak bisa saya tahan. Mengapa saya harus berpuasa juga?”

“Jangan remehkan perkataan nabimu!” Kata guru saya lagi, kali ini dengan suara agak meninggi. Saya tahu nasihat itu beliau ambil dari hadits Nabi. Tapi, saya bukan sedang ingin meremehkannya. “Berpuasalah!” Guru saya tetap pada perkataannya.

Saya tak ingin mendebat lagi. Maka saya menjalankan nasihatnya.

Bulan demi bulan, berganti tahun, saya tak kunjung menemukan solusi dari kecemasan saya selama ini. Niat menikah saya justru makin kendur karena kian tak yakin apakah saya siap menjadi imam untuk istri saya, apakah saya siap bertanggungjawab pada seluruh aspek kehidupan keluarga saya nanti?

Maka saya mendatangi guru saya lagi.

“Saya sudah berpuasa, Kiai,” ujar saya, “Tapi tak ada perubahan!”

Guru saya menatap mata saya, “Perbaiki kualitas puasamu,” ujarnya, “Kamu hanya berpuasa untuk menahan nafsu makan dan nafsu seksualmu!”

Deg! Tiba-tiba saya menyadari bahwa selama ini saya hanya menjalani puasa yang kekanak-kanakan tanpa benar-benar menghayati apa sesungguhnya pelajaran di balik semua itu.

“Jadi, apa yang harus saya lakukan dengan perintah itu, Kiai?”

 “Berpuasalah seperti kamu menjalani puasa Ramadhan,” jawab guru saya, “Berpuasalah seperti seseorang yang kamu memperbaiki kualitas-kualitas dirimu selama menjalani puasa itu. Berpuasalah seperti seseorang yang ingin mengubah dirinya dari seekor ulat menjadi kupu-kupu.

Saya terdiam. Tak bisa berkata apa-apa selain menyadari bahwa selama ini saya berpuasa tetapi tak memperbaiki kualitas diri saya.

“Apa yang perlu kamu lakukan untuk kuat berpuasa, Nak?” Tanya guru saya.

“Saya sahur, Kiai,” jawab saya.

Guru saya mengangguk-angguk, “Sahur mengajarimu tentang persiapan dan perencanaan. Mungkin kamu akan kuat berpuasa seharian tanpa sahur. Tetapi dengan bangun sahur, kamu melatih dirimu menjadi pribadi yang bertanggung jawab. Kamu mempersiapkan dirimu untuk menjalani puasa sebaik mungkin. Kamu menghitung apa yang perlu kamu makan saat sahur sehingga kamu kuat menjalani aktivitas terberat sekalipun saat berpuasa. Jika sahurmu baik, maka kamu akan siap melakukan yang terbaik dalam puasamu.”

Saya mendengarkan perkataan guru saya dengan seksama, rasanya ingin mencatat semuanya—

“Puasa bukan hanya melatihmu tentang kesabaran. Ia juga melatihmu tentang kejujuran dan rasa hormat. Nilai-nilai itulah yang penting kau miliki saat berumah tangga. Apa gunanya berpuasa tetapi kamu tak menjalani puasa itu? Apa gunanya menahan haus dan lapar tetapi kamu hanya tidur seharian? Itulah mengapa semua aktivitas yang kau lakukan selama puasa memiliki nilai yang berlipat ganda, jika kau menyadari betapa penting semuanya untuk meningkatkan kualitas dirimu sebagai seorang manusia.”

Saya tak bisa berkata-kata lagi.

 “Kelak jika sudah saatnya, kau akan berbuka. Itu bukan tentang melampiaskan nafsumu. Bukan tentang membayar semua lapar yang kau tahan seharian. Buka puasa mengajari kita dua hal. Pertama, ia adalah tentang menyadari bahwa diri kita punya batas-batasnya. Kita tak bisa terus-menerus menahan lapar dan haus, kan? Maka kita perlu makan. Batas itu mengajari kita sikap mawas diri. Kedua, buka puasa juga mengajari kita tentang merayakan kebahagiaan. Percuma saja kualitas dirimu meningkat selama puasa jika kamu tak memberi ruang pada dirimu sendiri untuk berbahagia. Dua hal itu kelak penting untukmu saat kau berumah tangga.”

Saya tertegun. Ada yang tertahan di tenggorokan. “Rupanya saya harus memperbaiki puasa saya, Kiai. Agar saya siap.”

Guru saya tersenyum. “Kau kira anjuran berpuasa saat kau belum siap menikah tak berhubungan dengan semua aspek yang selama ini kau keluhkan, termasuk soal kemapanan hartamu? Nak, cobalah terapkan prinsip sahur-puas-buka dalam usahamu seperti yang sudah aku jelaskan tadi. Jika tak ada perubahan apa-apa dalam hidupmu, baru kau bisa mempertanyakan perkataan nabimu!”

Seketika, ada yang bergemuruh dalam hati dan pikiran saya. Jika saya ingin siap menikah, saya harus memperbaiki semuanya. Saya baru menyadari bahwa puasa memang akan menjaga ‘pandangan’ dan ‘kehormatan’ saya, seperti sabda Nabi. Tetapi jika saya menggali nasihat itu lebih dalam lagi, puasa akan menjadi penjaga yang membuat saya menjadi pribadi yang ‘terpandang’ dan ‘terhormat’.

 ‘Wahai sekalian para pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu untuk menikah, maka hendaknya ia menikah, karena menikah dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga kehormatan. Barangsiapa yang belum mampu menikah, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa adalah penjaga baginya.’ (HR Bukhari-Muslim)

Melbourne, 8 Ramadhan 1436 H

 FAHD PAHDEPIE

0

[Review Buku] Hercule Poirot and the Greenshore Folly

Hercule Poirot and the Greenshore Folly -  Hercule Poirot & Pesta Pembunuhan (Hercule Poirot Mysteries) by Agatha Christie

My rating: 4 of 5 stars

Disebutkan bahwa ini adalah satu-satunya setting cerita Agtaha Christie yang mengambil lokasi yang real. Tempat favorit Agatha Christie semasa hidupnya, meskipun disana tidak ada Folly yang kerap disebut-sebut dalam buku ini.

Cerita pendek yang kepanjangan, yang awalnya diterbitkan dalam sebuah majalah namun kemudian akhirnya dibuat buku nya.

saya sudah menduga dari awal …

itu frasa umum yang kerap saya lontarkan ketika sudah mencapai akhir buku Agatha Christie. Dan untuk buku ini, saya sudah yaqin dari awal bahwa apa yang dilontarkan Kakek itu merupakan clue utama.

Tidak tertipu, tapi ini seru.

View all my reviews

0

[mBolang] #15 Berdua ke Lawu

[Memang syahdu ketika menulis di malam hari, di luar hujan, dingin merasuk, dan segelas besar kopi pekat Aceh panas yang diracik sendiri.]

September, 3rd 2016. Ba’da Dhuhur, setelah singgah di Masjid pinggir jalan wilayah Jaten-Karanganyar, kami melanjutkan perjalanan menuju Gunung Lawu. Hanya berdua, menggunakan motor matic dengan bahagia saya dibonceng Fitri melalui Matesih.

Menulis ini serasa nostalgia sekali, saya ingat benar memori pada setiap jalan yang dilalui. Berkali-kali saya berbicara pada Fitri, cerita2 lalu yang pernah saya lalui dengan rekan2 saya menggunung. Mungkin Fitri jengah, namun ia tampak mendengarkan dan merespon dengan baik setiap memori yang saya lontarkan. *thanks Fit🙂 *

Solo kala itu benar2 panas menyengat, beberapa kali Fitri mengeluh akan teriknya matahari di Solo. Namun sekejap berubah komentar ketika memasuki Matesih, langit perlahan tapi pasti menjadi gelap. Sampai di kaki gunung Lawu, hujan rintik2.

Kami memutuskan dari awal untuk melalui jalur pendakian Cemoro Sewu dengan asumsi track yang relatif mudah karena kami hanya berdua. Target adalah puncak, tapi tidak menutup kemungkinan utk tidak merealisasikan hal tersebut. USai sholat Ashar, karena masih hujan rintik, kami mengenakan mantol kresek. Memastikan tas carier tidak akan basah dan membungkusnya dengan trashbagbesar. Ternyata sekarang untuk melakukan kegiatan pendakian harus membayar 15 ribu per orang, mengisi kolom pendaftaran, dan meninggalkan identitas. Berbeda dengan 3 tahun lalu. Ah iya, parkir motor 10 ribu ya.

Kami berjalan sangat santai, perjanjian dari awal adalah tidak boleh sungkan bilang “break” kalo memang butuh istirahat. Selama perjalanan saya dan Fitri ngobrol banyak hal. Cenderungnya saya yang bercerita sih *hahaha, dasar cerewet*. Ini pun kali pertama saya melakukan pendakian dengan Fitri, tapi jam terbang menggunung Fitri jauh di atas saya. Jadi saya tak pernah merasa khawatir akan kenapa2 walopun kami hanya berdua, karena saya sangat percaya dengan teman saya satu itu🙂

Selama perjalanan, saya selalu [sok] tahu memberi panduan. Sebentar lagi kira akan melewati ini lah, akan bisa melihat batu ini lah, dulu di sebelah sini saya beginilah. Dan sok tau lainnya. Fitri tampak ikhlas merespon setiap kata yg saya lontarkan.

Mendekati adzan maghrib, playlist lagu yang tadi nya musik, berubah menjadi rentetan murotal. Mungkin Alloh tahu kami butuh siraman rohani, atau mungkin Alloh sengaja melindungi kami. Yang jelas kami sama2 malas mengganti playlist nya. Jadinya murotal sampe pos 3, sampel pukul 7 malam.

Sesekali berhenti sekedar mengistirahatkan kaki, menyapa pendaki yang turun. Atau Fitri minta minum. Saya jarang minum, karena saya tahu kalo saya minum maka nantinya saaya akan terus2an minta break untuk minum.

Perjalanan sampai pos 1, kami memutuskan rehat bebarapa lama. Belum terlalu gelap, jadi saya beli secangkir kopi akibat rasa dingin yang mulai merasuk tubuh sambil beramah tamah dengan bapak dan Ibu yang dari beliau lah kami tahu kalo warung ini buka hari Sabtu dan Minggu, waktu dimana banyak pendaki melakukan ekspedisinya.

Setelah dirasa cukup,kami melanjutkan perjalanan. Carier 60 Liter yang saya bawa, belum berkurang bebannya. Tak terbongkar sama sekali.

Santai namun pasti. Perjalanan dari Pos 1 hingga Pos 2 adalah perjalanan penuh cerita bagi saya, sempet ingin menangis haru ketika mengingat masa2 kuliah dulu bersama teman2 se-angkatan, melakukan perjalanan pendakian gunung. Hampir setiap spot memiliki ceritanya sendiri2. Dan karena ga kuat kalo ga cerita, akhirnya saya cerita ngalor ngidul sambil sesekali bilang ke Fitri,

“Fit aku pengen Nangis.”

Lalu akan dijawab dengan tawa oleh Fitri.
Hari semakin gelap. Langkah kaki kami masih mantab. Pijakan batu demi batu kami lalui, cerita seperti tak pernah habis. Tak ada keheningan, karena obrolan kami sesekali membuat kami tertawa geli. Sebelum jam 9 kalo bisa kami sudah mendirikan tenda di Pos terakhir.

Ba’da Maghrib, kami menyiapkan headlamp masing2. Setelah melewati Watu Jago, jalan sudah susah dilihat kalau headlamp tidak dinyalakan. Tanda2 keriuhan pos 2 belum terdengar. Kami pun terus berjalan. Gerimis mengguyur kembali, alhamdulillah mantol nya belum dilepas, jadi kami masih berjalan santai saja.

Setelah melewati Pos 2, hujan semakin deras. Kami masih terus berjalan. Namun paru-paru semakin terasa terbakar setiap tarikan napas yang diambil. Break semakin sering. dan kelakar kalo kami semakin menua menjadi hal mendasar obrolan kala itu,

“Ya, kita wes tuwek ternyata.”

kelakar Fitri kepada saya. Hahaha…

Jalan menuju pos 3 relatif menanjak, yang penting sampe pos 3 dulu, dome harus segera dibangun sebelum hujan semakin deras.

Dan pos 3 masih belum berpenghuni ketika kami sampai sana, kami pun segera mendirikan dome. Kami membuat omelete *iya, bukan saya yang buat, tapi Fitri. saya yang makan😀 *.

Kami segera sholat dan masuk dalam sleeping bag masing2. diluar hujan amat deras, sedikit demi sedikit banyak pendaki yang mulai berteduh di bawah shelter. dan disini akan saya skip ceritanya karena bikin sedih untuk diceritakan.

Walhasil kami pagi hari nya setelah dome-yang dbangun-namun-dipaksa-bongkar, segera turun karena mood untuk melanjutkan perjalanan hingga puncak telah pupus. Sebelum adzan dhuhur, kami sudah di bawah. dan perjalanan naik maupun turun kemarin, mendung menjadi teman kami. Matahari tampak enggan berbagi kehangatannya hingga kami sampai ke Solo.

0

[Review Buku] Sehidup Sesurga

Sehidup SesurgaMy rating: 5 of 5 stars

Paperback, 210 pages
Published June 9th 2016 by Panda Media
Original Title : Sehidup Sesurga
ISBN13 : 9789797808457
Edition Language : Indonesian

saya suka judul yg dipilih. Sehidup sesurga. benar2 menekankan bahwa sekedar sehidup semati itu tidak cukup, membangun keluarga merupakan satu investasi untuk menimbun pahala sebanyak2nya demi kehidupan yg disebut lebih abadi. Tak hanya merasakan manis getirnya kehidupan saja, tapi indah nya surga pun harus merupakan tujuan utama dalam berkeluarga.

kontennya sederhana namun sangat mengena dengan.kehidupan berkeluarga. saya manggut2 juga menitikkan air mata. saya senyum2 utk beberapa bab.

sangaaat sukaaaa.

View all my reviews

0

[Review Buku] The Naked Traveler #7

The Naked Traveler 7My rating: 5 of 5 stars

Original Title : The Naked Traveler 7
ISBN13 : 9786021246986
Edition Language : Indonesian

Saya langsung terpikat dengan cover blue elektrik nya. Sangat eye catching dan seperti minta segera habis dibaca.
Buku pinjaman dari Mbak Pipit ini pun segera saya lahap.

Gaya penulisan. Saya selalu suka dengan cara Trinity menyampaikan ceritanya, diksi kata nya enak dibaca, tidak perlu mengkerutkan dahi untuk meng-intepretasi-kan kalimat-kalimatnya. Detail travelingnya pun membuat saya dapat bebas berimajinasi seperti apa lokasi yang ia kunjungi.
Dan saya suka bahwa ada pesan yg disampaikan Trinity dalam setiap ceritanya.

Tak pernah bosan membaca buku yang menceritakan bumi ini.🙂

View all my reviews

0

[Review Buku] Milea : Suara dari Dilan

Milea: Suara Dari DilanMilea: Suara Dari Dilan by Pidi Baiq

My rating: 4 of 5 stars

Paperback, 360 pages
Published August 31st 2016 by Pastel Books
Original Title : Milea: Suara dari Dilan
ISBN13 : 9786020851563
Edition Language : Indonesian
Series : Dilan #3

 

prasangka betul-betul bisa memengaruhi keyakinan. Memengaruhi persepsi dan menimbulkan pikiran negatif yang aku dan Lia alami. -hal. 316

bertemu kembali dengan Dilan setelah setahun lebih, melihat Lia dari kacamata Dilan dan mendapat banyak pengakuan dari Dilan merupakan keadilan. iya adil, karena jadi bisa tahu bagaimana Dilan melihat Lia setelah sebelumnya kita tahu bagaimana Lia melihat Dilan.

perspektifnya berbeda. Lebih mengandalkan rasional dibandingkan perasaan. karena Dilan adalah lelaki tulen, kata Remi Moore.

View all my reviews

1

[Review Buku] The Naked Traveler : 1 st Year Round The World Trip Part 2

The Naked Traveler: 1 Year Round The World Trip Part 2 (1 Year Round The World Trip, #2)The Naked Traveler: 1 Year Round The World Trip Part 2 by Trinity

Paperback, 272 pages
Published September 2014 by B-First
Original Title :The Naked Traveler: 1 Year Round The World Trip Part 2
ISBN13 : 9786021246153
Edition Language :Indonesian

 

If you want to go fast, go Alone. If you want to go far, go together. -African Proverb

Saya benar-benar menjadi kranjingan membaca buku Trinity ini. Walau sekedar buku pinjaman, tapi ini buku bikin saya ingin memiliki copy-nya sendiri.
Benar-benar bisa membayangkan yang dijalani Trinity saat berada di Peru, saat bertemu dengan traveler lain, membayangkan saya berada di antara nya dengan Jasmine.

Bab favorite saya dalam buku ini adalh ketika Trinity menceritakan kebersamaannya dengan Jasmine. Saya tersentuh, envy dan salut dengan mereka berdua. Memang demikian, tenggangrasa luar biasa.

View all my reviews

0

[mBolang] #14 baluran ijen

[Draft tulisan ini minta segera dirampungkan. Mending cepat2 saya selesaikan, mumpung ingatan belum begitu memudar][dan ternyata sudah satu tahun yang lalu 😭] 

Lama rasanya tidak berinteraksi secara intim dengan alam, alhamdulillah kemarin ada kesempatan libur 3 hari yang akan sangat sayang bila disia-siakan begitu saja. Melupakan sejenak rutinitas pekerjaan untuk bercengkerama dengan alam. Still at Indonesia, saya pun memutuskan untuk pergi mbolang ke Taman Nasional Baluran yang berada di Situbondo, lalu dilanjutkan tracking Gunung Ijen di Banyuwangi. Lokasi keduanya relatif berdekatan, masih dalam satu provinsi dan bisa ditempuh selama kurang dari 1,5 jam.

***

Planing sudah disusun 2 minggu sebelum keberangkatan, Grup Whatsapp menjadi fasilitator penghubung antara saya dengan teman2 kuliah yang memang sudah “menyebar” di berbagai daerah. Fix kami memutuskan untuk pergi ke Taman Nasional Baluran dan Kawah Ijen. Skenario perjalanan disusun berdasar studi blog *tsaah :LOL: *, info dari Hipo, sohib yang telah duluan melakukan backpacking ke dua lokasi tersebut pun menjadi referensi kuat itinerary yang kami buat.

Ini adalah Itinerary awal Taman Nasional yang fix H-1 sebelum keberangkatan,

No Hari, tanggal Jam Planning Estimasi
1 Jum’at, 14 Agustus 2015 10 pm Meeting point di Terminal Bungurasih Meet up maks jam 11 pm, lanjut cari bis
11 pm-1.30 am Naik bus jurusan Surabaya-Probolinggo, turun Terminal Probolinggo Rp 30.000,00 perjalanan 2 jam
2 Sabtu, 15 Agust 2015 1.35 – 6.30 am Terminal Probolinggo,
pindah bus jurusan Probolinggo-Ketapang,
minta turun di Taman Nasional Baluran
Rp 30.000,00 perjalanan 4-5 jam

 

6.30 – 8 am Cari info homestay “Forest Ranger:
Cari info Jeep ke Kawah Ijen
ISHOMA
Registrasi masuk Baluran
Homestay Rp 75.000,00/malam/kamar. Sewa 2 Kamar
Sarapan Rp 10.000,00
8 am – 5 pm Explore Baluran (Savana Bekol, Gua Jepang, Pantai Bama, Mangrove, Menara Pandang) Sewa mobil pick up Rp 150.000,00-Rp 200.000,00 sekali jalan (PP up to Rp 400000,00)
Tiket masuk baluran Rp 15000,00/orang
5 pm – 10 pm ISHOMA di homestay Makan x2 Rp 10000,00
10 pm – 1 am Go to Ijen Tiket masuk Rp 10.000,00 / orang
Parker mobil Rp 10.000,00
Sewa mobil Rp 800.000,00
3 Minggu, 16 Agust 2015 1 am – 6 am Tracking Ijen
6 am Turun pulang menuju Terminal Ketapang Makan Rp 10000,00
Tiket pulang Rp 90.000,00

Tapi yang namanya estimasi, bisa saja tidak sesuai dengan realitanya.:mrgreen: Yang semula direncanakan berangkat midnight demi mengeksplore total Baluran, kami baru bisa berangkat usai sholat shubuh Sabtu pagi hari setelah rombongan dari Jogja tiba, alhamdulillahnya ada kesempatan untuk sholat shubuh dahulu, tapi ya itu tadi, eksplore balurannya jadi terbatas dan saya bersama 6 orang teman lain terpaksa bermalam di Terminal Bungurasih.

Usai sholat shubuh kami langsung berangkat naik bus Tjipto rekomendasi Bapak “Calo” di Terminal Bungurasih. Si Bapak yang semula bilang bis nya ini akan langsung menuju Ketapang dengan harga murah yakni Rp 55.000,00 nyatanya saat kami sudah di atas bus, oleh kondektur Bus TJIPTO (please noted it Guys!) diminta Rp 70.000,00. Oh meeen… ini si Bapak bener2 malak kita2 yang memang kelihatan seperti rombongan orang linglung. Sempat sedikit berdebat dengan Pak kondektur, akhirnya dengan berat hati kami menggelontorkan uang tambahan daripada diturunkan tidak hormat di jalan dan harus cari bus lain, mengingat posisi kami waktu itu sudah di luar terminal dan tengah berada di Jalan Tol.

Belum berhenti disitu rasa was-was kami, saat saya bertanya kepada penumpang lain mengenai ongkos standar bus malah terkuaklah bahwa bis yang kami naiki ini bukan jurusan Banyuwangi seperti yang tertulis di kaca depan bus (di kaca nya tertulis, Surabaya langsung Banyuwangi), namun malah menuju Jember. Saya lemes, speechless dan sepanjang perjalanan terus berdoa semoga si Bapak Kondektur masih ada rasa welas asih.

“Udah Nung, tidur dulu aja. Perjalanan masih jauh.” ucap Mbak Def yang duduk di samping saya.

Tapi bagaimana mau tidur, rasa khawatir masih menggelayut bebas di pikiran mengalahkan rasa kantuk yang melanda.😦

***

Sebelum pukul 9 pagi, kami sudah sampai di Terminal Probolinggo (saya lupa nama terminalnya), kondektur bus dengan tidak sopan berteriak mengejutkan kami secara tiba-tiba, meminta kami turun bus untuk pindah bus menuju Baluran. Saya yang baru terlelap sontak kaget dalam kondisi bingung menuju bus yang dimaksud sang kondektur, hampir saja satu plastik logistik tertinggal dalam bus. Thanks to Mbak Def for saving it😀

Kami oper bus Indonesia Abadi. meskipun bus ekonomi, namun ukuran bus jauh lebih besar dan longgar dari bus Tjipto yang kami tumpangi sebelumnya, sehingga ada sedikit space untuk meregangkan badan. Perjalanan dilanjutkan, ada sedikit rasa tenang setelah dipastikan bahwa kami tidak perlu membayar kembali ongkos bus menuju Situbondo karena telah dibayarkan oleh kondektur bus sebelumnya. Alhamdulillah.

Probolinggo menuju Situbondo adalah perjalanan yang menyenangkan karena kami senantiasa berada di sisi utara Pulau Jawa dimana bibir pantai menjadi pemandangan yang mengiringi perjalanan kami. That was something new for us. Beberapa ada yang terlelap karena menahan rasa kantuk yang luar biasa. Sesekali saya pun tertidur, namun segera terbangun karena sayang jika tidak menikmati perjalanan tersebut dengan melihat kanan kiri. Bus yang memang tidak ramai itu mengizinkan kami untuk berpindah-pindah posisi duduk, semakin membuat kami leluasa menikmati pemandangan. 

Sebelum dhuhur, kami sudah tiba di Situbondo perbatasan Banyuwangi, di kawasan Baluran. Alhamdulillah di sana kami berkenalan dengan Mas Dani, penduduk lokal yang bersedia mengantar kami mencari penginapan. Oleh Hipo, saya diberi info utk menginap di Forest Ranger, jadilah saya dan teman2 di antar Mas Dani ke Forest Ranger, namun sayangnya semua kamar sudah full booked. Well yeah, ya sudah. Mas Dani pun mencarikan info penginapan lainnya sambil kami istirahat makan siang dan sholat dhuhur. 
[to be continued]