0

Re-write 

Gatel pengen nulis.

Seorang grafologist menyampaikan bahwa saya seorang yang ambisius. Namun disisi lain, saya adalah orang yang ragu akan kapasitas diri sendiri. Jadinya saya lebih cenderung menetap dengan kondisi sekarang.

Kecewa? Iya kecewa dengan diri sendiri, I have a (big) dream, tapi dengan amat memalukan saya tak berani merealisasikannya. Takut akan kegagalan yang bisa saja dihadapi di depan. Takut sama rasa kecewa yang akan dirasakan nantinya. 

What a coward, right?

Saya kurang insist, kurang bulat tekad yang dibuat, dan kurang nekat. Baru amat sadar ketika menyadari hidup itu pelik. Ahahah.

Jadi, dengan bismillahirrahmanirrahim, I want to re-write my plans. Saya ingin mencoba mewujudkan mimpi itu, membangkitkannya kembali itu penuh air mata, jadi akan sangat sayang kalau mimpi itu menguap begitu saja. 

I just need more motivation than before. More pray than before. More focus than before. And having more encourage that I can make it come true. 

Katanya, never too late for doing something good. 

*well, actually its some escape plan. I avoid reality with an alibi to achieve that dream. Semoga ini membawa ke hal yang lebih baik. Terimakasih Alloh for giving me this kind of roller-coaster life. And for make me realize that everyone have their own life issues, yang ngga bisa secara bijaksana kita bandingkan satu sama lain. 

0

[Random Thought] #16 Intervention Thing

Are we only married our couple? Or are we also married his/her family?

***

Isu yang hangat diperbincangkan beberapa bulan belakangan. Bukan saya, tapi oleh teman2 saya, yang artinya saya juga ikut mengikuti isu ini.  😁

Well yeah, saya belum bisa bijak untuk menyikapi hal ini. Saya juga tak pandai berteori atau secara lantang mengungkapkan pendapat, but based on cerita teman2 saya, nyatanya intervensi keluarga akan ada (hampir dalam banyak kasus) sebelum atau bahkan sesudah menikah.

Yang akan menikah, intervensi (sorry for using this kind of word) dapar berupa setuju atau tidak setujua nya pihak keluarga dengan kita atau calon pasangan. Ini macam2 kasusnya, mulai dari morfologi hingga fisiologi. Dari hal prinsipil sampai hal yang terkesan di-ada-ada-kan. Ada keluarga yang nggak ditanya pendapatnya, ikut nyumbang pendapat juga ada, yang awalnya hangat malah jadi topik memanas juga ada. Macem-macem lah.

Yang sudah menikah, intervensi juga masih ada. Mulai dari masalah ngasuh anak, mertua, rumah, atau masalah intern inti pasangan (yang biasanya sih *katanya* bermula dari masalah sepele).

Intervensi atau bahasa sederhananya keikutsertaan pihak luar dalam memberi ide/pendapat/usul/saran kepada pihak dalam. Bahasa kasarnya, ikut campur urusan orang. 😈

Based on my friends experienced, this kind of intervention will menguras tenaga (hahaha… Sorry bahasanya campur2. Lagi belajar bahasa inggris, harap maklum 😁). Mungkin bermula dari musyawarah, atau yang awalnya diniatkan untuk musyawarah, eh malah menjadikan bibit2 intervensi. Bukan musyawarah mufakat yang didapat.

Oleh teman, solusi yang diberikannya bilamana berhadapan dengan hal ini, be like oil and water. Berdampingan namun tidak menyatu. Entah lah, apakah hal ini bijak atau tidak, tapi dianggap menjadi solusi di mana hal urgent intervensi itu melanda. Daripada jadi drama queen menghadapi intervensi, mending realistis aja.

Cuma mau ng-share itu ajah. Very welcome with any suggestions and comments 😁

0

Doa dan Abang

image

Kemarin seorang sahabat yang telah lama kenal, yang senantiasa menasehati (ngasih tausiyah yang jelas 😁).  Mengirim sebuah tulisan panjang, seperti ini tulisnya

Abang, aku mau kerja!”

“Jangan, lah. Kamu di rumah saja. Istri itu di rumah tugasnya :)”

“Itu, tetangga kita, dia kerja!”

“Hehe …, dia itu guru, sayaang. Dia dibutuhkan banyak orang. Yang membutuhkan kamu tidak banyak. Hanya Abang dan anak kita. Di rumah saja, ya.”

“Itu…, tetangga kita yang satunya, yang sekarang sudah pindah ke kampung sebelah, aku lihat dia kerja. Bukan guru. Tidak dibutuhkan banyak orang.”

“Nanti, tunggu Abang meninggal dunia.”

“Apa-apaan sih?”

“Dia itu janda, sayaaaang. Suaminya meninggal satu setengah bulan yang lalu. Makanya dia kerja.”

“Tapi kebutuhan kita makin banyak, Bang”

“Kan Abang masih kerja, Abang masih sehat, aku masih kuat. Akan Abang usahakan, InsyaAllah.”

“Iya, aku tahu. Tapi penghasilan Abang untuk saat ini tidaklah cukup.”

“Bukannya tidak cukup, tapi belum lebih. Mengapa Abang bilang begitu? Karena Allah pasti mencukupi. Lagi pula, kalau kamu kerja siapa yang jaga anak kita?”

“Kan ada Ibu! Pasti beliau tidak akan keberatan. Malah dengan sangat senang hati.”

“Istri Abang yang Abang cintai, dari perut sampai lahir, sampai sebelum Abang bisa mengerjakan pekerjaan Abang sendiri, segalanya menggunakan tenaga Ibu. Abang belum ada pemberian yang sebanding dengan itu semua. Sedikit pun belum terbalas jasanya. Dan Abang yakin itu tak akan bisa. Setelah itu semua, apakah sekarang Abang akan meminta Ibu untuk mengurus anak Abang juga?”

“Bukan Ibumu, tapi Ibuku, Bang?”

“Apa bedanya? Mereka berdua sama, Ibu kita. Mereka memang tidak akan keberatan. Tapi kita, kita ini akan jadi anak yang tegaan. Seolah-olah, kita ini tidak punya perasaan.”

“Jadi, kita harus bagaimana?”

“Istriku, takut tidak tercukupi akan rezeki adalah penghinaan kepada Allah. Jangan khawatir! Mintalah pada-Nya. Atau begini saja, Abang ada ide! Tapi Abang mau tanya dulu.”

“Apa, Bang?”

“Apa alasan paling mendasar, yang membuat kamu ingin bekerja?”

“Ya untuk memperbaiki perekonomian kita, Bang. Aku ingin membantumu dalam penghasilan. Untuk kita, keluarga kita.”

“Kalau memang begitu, kita buka usaha kecil saja di rumah. Misal sarapan pagi. Bubur ayam misalnya? Atau, bisnis online saja. Kamu yang jalani. Bagaimana? anak terurus, rumah terurus, Abang terlayani, uang masuk terus, InsyaAllah. Keren, kan?”

“Suamiku sayang, aku tidak pandai berbisnis, tidak bisa jualan. Aku ini karyawati. Bakatku di sana. Aku harus keluar kalau ingin menambah penghasilan.”

“Tidak harus keluar. Tenang, masih ada solusi!”

“Apa?”

“Bukankah ada yang lima waktu? Bukankah ada Tahajud? Bukankah ada Dhuha? Bukankah ada sedekah? Bukankah ada puasa? Bukankah ada amalan-amalan lainnya? Allah itu Maha Kaya. Minta saja pada-Nya.”

“Iya, Bang, aku tahu. Tapi itu semua harus ada ikhtiar nyata.”

“Kita ini partner, sayang. Abanglah pelaksana ikhtiarnya. Tugas kamu cukup itu. InsyaAllah jika menurut Allah baik, menurut-Nya kita pantas, kehidupan kita pasti akan berubah.”

“Tapi, Bang?!”

“Abang tanya lagi…, kamu ingin kita hidup kaya, apa berkah?”

“Aku ingin kita hidup kaya dan berkah.”

“Kalau begitu lakukan amalan-amalan tadi. InsyaAllah kaya dan berkah.”

“Kalau tidak kaya?”

“Kan masih berkah? Dan…, tahu apa yang terjadi padamu jika tetap istiqomah dengan itu?”

“Apa, Bang?

“Pilihlah pintu surga yang mana saja yang kamu suka. Dan kamu, menjadi sebenar-benarnya perhiasan dunia.”

***

Rasulullah SAW bersabda, “Apabila seorang wanita (istri) itu telah melakukan shalat lima waktu, puasa bulan Ramadhan, menjaga harga dirinya dan mentaati perintah suaminya, maka ia diundang di akhirat supaya masuk surga berdasarkan pintunya mana yang ia suka (sesuai pilihannya),” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan Thabrani).

“Dunia adalah
perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita sholehah” [H.R. Muslim]

Judulnya menarik, langsung saya baca tulisannya. Segera saya respon tulisannya, dan segera dibalas olehnya.

Dan lalu, langsung mantab segera cari Abang buat diterikai, “Abang nikahi adeeek”😆

Semoga Bermanfaat 😇:)

0

[Random Thought] #15

Tanpa bermaksud apa-apa, atau bagaimana. Saya hanya tak habis pikir ada teman yang berpendapat seperti ini, karena pada kenyataannya saya merasa kalo saya ini bukan pribadi yang dekat dengan watak sabar, mungkin sabar yang dimaksud teman saya ini, adalah suka berleha-leha dalam menunaikan kewajiban. Yang artinya procrastinator bangeeet. 😈

Mau syukur alhamdulillah ada yang bilang sabar, tapi kok saya malu sendiri.  Ahahahaha…

Yah semoga perkataan teman karib ini menjadi doa yang diijabah Alloh Ta’ala yang berbuah Surga-Nya. Amiin.

image

0

Dokter Gigi

Sore 17.14 wib saya dan Bapak pergi ke dokter gigi di dekat rumah. Ini kunjungan kedua sebagai tindak lanjut kunjungan minggu lalu.

Ceritanya minggu lalu, gusi bapak mengalami pembengkakan. Bapak sih bilangnya nggak sakit, tapi saya yang melihatnya merasa sakit. Kasihan bapak. Setelah dipaksa2 akhirnya beliau berkenan diajak ke dokter gigi.

Kunjungan ke dokter gigi memang sewajarnya dilakukan 2 kali dalam setahun, tapi kami yang orang awam (orang kampung)  ke dokter ya kalau sedang sakit saja. Hehe.. Bukan lah hal. Yang patut dicontoh, tapi kenyataannya demikian.

Nah, saat masuk ke ruang praktek dokter, diperiksa sebentar dan keluar lah hasil diagnosanya. Gusi bapak mengalami pembengkakan akibat infeksi, rasa sakit yang tidak beliau rasakan karena obat metaflam yang bapak konsumsi.

Oleh dokter, bapak diberi antibiotik, obat anti inflamasi, dan obat penghilang nyeri. 10 butir dan dikonsumsi 3 kali dalam sehari.

Masalah nya ya setelah obat habis, bapak sudah dipesan untuk kembali ke dokter untuk cabut gigi, eh si Bapak ndak mau dengan dalih gigi sudah tidak sakit. Sudah dipaksa dengan halus tetap ndak mau. Ya sudah.

Selang sehari, gigi mulai terasa sakit. Bapak bilang seolah2 gigi nya seperti lepas dari akar gigi nya. Jadi, sore hari nya bersama bapak kembali lah saya ke dokter gigi.

Singkat cerita setelah masuk ruang praktek, saya ditegur karena tidak mengajak bapak kembali ke dokter sesudah obat habis. Karena seyogyanya gigi bapak memang perlu dicabut, sebab ada masalah dengan akar gigi yang menyebabkan infeksi.

Tapi karena sudah terlanjur sakit, jadi diobati terlebih dahulu. Setelah obat habis, gigi harus dicabut.

Cuma bisa mendesah, setelah keluar dr ruang praktek.

“nanti obat nya habis kesini lagi ya Bapak. Gigi nya dicabut. ”
Bapak hanya mengangguk mengiyakan.:)

0

Throwback #3

Pukul 3.20 am, sudah memasuki wilayah Kendal. Beberapa jam lagi menuju rumah. Rasa untuk pulang kali ini tak sebahagia pulang-pulang sebelumnya. Excited, namun terasa hambar. Ada banyak rasa yang tertinggal, seolah2 ada banyak hal yang belum dituntaskan.

Enggan mengucapkan selamat tinggal.

Sembilan bulan akan sepuluh bulan yang luar biasa, sembilan bulan akan sepuluh bulan yang saya sendiri tak pernah menyangka menjadi seperti sekarang. Banyak hal besar yang sudah diambil. Banyak pengalaman yang saya dapat. Dan banyak hikmah yang dipetik.

Bertemu teman-teman yang bisa menjadi sangat akrab walau hanya sesaat berjumpa, bertemu dengan orang2 asing yang membuat saya nervous what to say, what to ask. 😁

Terimakasih karena selalu dikelilingi orang2 baik, terimakasih karena semua pinta sudah dikabulkan, terimakasih untuk diberi kesempatan merasakan banyak hal, terimakasih sudah menjadikan saya sedikit lebih aware dengan usia. Terimakasih sudah menjadikan saya tahu seperti apa meninggalkan rumah. Semoga kita semya menjadi pribadi yang lebih banyak bersyukur lagi. Aamiin.

[2 April 2016 perjalanan pulang menuju tempat yang disebut rumah]

0

Throwback #2

Februari ini saya sudah pulang ke rumah [lagi]. Waktu yang singkat untuk berada di rumah tak menjadi alasan untuk malas pulang. Enam belas jam di jalan, dengan bus, terjebak macet di Ibukota hingga berjam-jam sehingga akhirnya lega bisa keluar dari Ibukota.

Entah, semakin bertambah bulan semakin merasa tidak nyaman di perantauan. Semakin banyak hal yang dipikirkan, semakin banyak alasan untuk segera pulang ke rumah. Bertemu keluarga, berceloteh bersama keponakan. Walau nanti pastilah ada rasa jemu yang lembali melanda saat pulang kampung.

Aku ingin pulang… 😷

2

Throwback #1

Ketika mulai lelah dengan rutinitas, ketika mulai jemu dengan pekerjaan “cleaning”, dan saat2 rawan mengeluh akibat Micro Lab yang tak kunjung selesai “direnovasi”, tak ada salahnya kembali mengingat perjuangan 7 bulan lalu. Supaya tak lupa untuk bersyukur, supaya ingat, bahwa manisnya hidup kadangkala didahului dengan getirnya dulu.

Cikande. asing kali pertama mendengarnya. Tak biasanya saya pergi ke suatu tempat tanpa info lengkap, berbekal sebuah email yang saya printout, saya masukkan hati2 ke dalam map, dan benar2 memastikan kalo tidak akan hilang. Maklum, kala itu saya tidak sedang menggunakan smartphone yang kata orang “memudahkan” dalam segala hal.

Tiket pesawat pulang pergi sudah saya simpan. Pagi2 dengan antusias, diantar Bapak dan Mas Nanang ke Bandara Adi Soemarmo. H-1 sebelum puasa Ramadhan tahun 2015. Saya ingat betul. Pesawat take off pukul 6 pagi, namun pukul 4.30 pagi saya sudah berada di mushola Bandara, berjamaah dengan Bapak dan Mas Nanang. Sepagi itu dan se-excited itu di Kota Solo yang tanpa macet.

Naik pesawat, tak pernah terduga akan terjadi secepat itu. Dan gratis pula.

Sampai di Jakarta, saya berpisah dengan Aken yang tanpa terduga ternyata satu penerbangan. Sebelum mendapat Taksi, Aken mengirim banyak sms, memastikan saya sudah dapat taksi dan diantar sampai lokasi.

Iyah, Cikande. Perjalanan melalui tol, selama 2 jam tak sedikit pun membuat saya mengantuk. Kanan kiri taksi yang saya tumpangi adalah hal menarik yang bisa saya nikmati. Sopir taksi yang juga tak tahu alamat tujuan, beberapa kali bertanya kepada Juru parkir, satpam dan penjaga pintu loket tol.

Sekitar pukul 9 saya sampai di depan Pabrik yang katanya milik Cargill Indonesia. Sempat bingung, yaqin tidak yaqin. Bayangan mengenai pabrik dengan gedung office di depan, bangunan kecil untuk satpam dan pagar besi mengelilingi pabrik tersebut runtuh seketika.
“ini beneran pabrik nya? Baru dibangun gini. ”

Secepat mungkin saya menghubungi Bapak HRD yang belakangan intens menelpon dan meng-arrange waktu utk wawancara.
Saya diminta menunggu sebentar dalam kontainer yang sudah dimodifikasi menjadi office lengkap dengan kursi, meja dan AC.

Lama saya menunggu dan mengikuti prosesnya, hingga pukul 2 siang baru dinyatakan acara selesai. Cepat2 saya menghubungi bapak sopir taksi yang memang diminta standby untuk kembali mengantar ke Bandara Soetta.

Halang tak dapat dihindar, macet terjadi di mana2. Harap2 cemas menuju Soetta. Dan ternyata yang namanya macet itu memang bikin geregetan.

Alhamdulillah, sampai di Bandara Soetta tepat sebelum waktu keberangkatan. Sedikit berlari2 saya check-in, buru2 melewati pos security. Dan alhamdulillah lagi, pesawat delay. Harus disyukuri.

Penerbangan singkat selama satu jam Jakarta-Solo berjalan lancar dan sekitar pukul 7.30 pm, Bapak dan Mas Nanang sudah menunggu di pintu kedatangan. Tanpa babibu, sederetan pertanyaan dilontarkan Bapak dan Mas, tak kalah antusiasnya selama perjalanan 40 menit menuju rumah, banyak hal saya ceritakan memastikan tidak ada pengalaman yang saya alami sehari itu terlewatkan untuk dibagi.

1

[Lab Note] #3 Kerja Kerja Ayo Kita Kerja

Menuju bulan ke-6 jauh dari keluarga. Rasanya campur aduk. Seringkali rindu yang mengendap muncul ke permukaan secara tiba2. Memunculkan riak-riak kecil. Rindu keluarga yang jelas.

15 tahun ditinggalkan, tak serta merta membuat saya belajar bagaimana merasakan rasa sendiri itu. Karena meninggalkan dan ditinggalkan adalah dua perkara yang nyatanya sangat berbeda rasanya. Jauh lebih pahit untuk berujar selamat jalan, daripada menyampaikan pesan hati-hati di jalan.

6 bulan mengajarkan banyak hal. Bahwa bekerja tak sebercanda yang saya bayangkan. Bahwa memang ada kerja keras di dalamnya. Bahwa rasa lelah hati perasaan jiwa dan raga bisa melebur menjadi satu rasa. Bahwa bekerja juga tak melulu soal berapa uang upah yang akan kita dapat.

Ah, bekerja dan keluarga…

[sedang meracau, maaf]