0

[mBolang] #14 baluran ijen

[Draft tulisan ini minta segera dirampungkan. Mending cepat2 saya selesaikan, mumpung ingatan belum begitu memudar][dan ternyata sudah satu tahun yang lalu 😭] 

Lama rasanya tidak berinteraksi secara intim dengan alam, alhamdulillah kemarin ada kesempatan libur 3 hari yang akan sangat sayang bila disia-siakan begitu saja. Melupakan sejenak rutinitas pekerjaan untuk bercengkerama dengan alam. Still at Indonesia, saya pun memutuskan untuk pergi mbolang ke Taman Nasional Baluran yang berada di Situbondo, lalu dilanjutkan tracking Gunung Ijen di Banyuwangi. Lokasi keduanya relatif berdekatan, masih dalam satu provinsi dan bisa ditempuh selama kurang dari 1,5 jam.

***

Planing sudah disusun 2 minggu sebelum keberangkatan, Grup Whatsapp menjadi fasilitator penghubung antara saya dengan teman2 kuliah yang memang sudah “menyebar” di berbagai daerah. Fix kami memutuskan untuk pergi ke Taman Nasional Baluran dan Kawah Ijen. Skenario perjalanan disusun berdasar studi blog *tsaah :LOL: *, info dari Hipo, sohib yang telah duluan melakukan backpacking ke dua lokasi tersebut pun menjadi referensi kuat itinerary yang kami buat.

Ini adalah Itinerary awal Taman Nasional yang fix H-1 sebelum keberangkatan,

No Hari, tanggal Jam Planning Estimasi
1 Jum’at, 14 Agustus 2015 10 pm Meeting point di Terminal Bungurasih Meet up maks jam 11 pm, lanjut cari bis
11 pm-1.30 am Naik bus jurusan Surabaya-Probolinggo, turun Terminal Probolinggo Rp 30.000,00 perjalanan 2 jam
2 Sabtu, 15 Agust 2015 1.35 – 6.30 am Terminal Probolinggo,
pindah bus jurusan Probolinggo-Ketapang,
minta turun di Taman Nasional Baluran
Rp 30.000,00 perjalanan 4-5 jam

 

6.30 – 8 am Cari info homestay “Forest Ranger:
Cari info Jeep ke Kawah Ijen
ISHOMA
Registrasi masuk Baluran
Homestay Rp 75.000,00/malam/kamar. Sewa 2 Kamar
Sarapan Rp 10.000,00
8 am – 5 pm Explore Baluran (Savana Bekol, Gua Jepang, Pantai Bama, Mangrove, Menara Pandang) Sewa mobil pick up Rp 150.000,00-Rp 200.000,00 sekali jalan (PP up to Rp 400000,00)
Tiket masuk baluran Rp 15000,00/orang
5 pm – 10 pm ISHOMA di homestay Makan x2 Rp 10000,00
10 pm – 1 am Go to Ijen Tiket masuk Rp 10.000,00 / orang
Parker mobil Rp 10.000,00
Sewa mobil Rp 800.000,00
3 Minggu, 16 Agust 2015 1 am – 6 am Tracking Ijen
6 am Turun pulang menuju Terminal Ketapang Makan Rp 10000,00
Tiket pulang Rp 90.000,00

Tapi yang namanya estimasi, bisa saja tidak sesuai dengan realitanya.:mrgreen: Yang semula direncanakan berangkat midnight demi mengeksplore total Baluran, kami baru bisa berangkat usai sholat shubuh Sabtu pagi hari setelah rombongan dari Jogja tiba, alhamdulillahnya ada kesempatan untuk sholat shubuh dahulu, tapi ya itu tadi, eksplore balurannya jadi terbatas dan saya bersama 6 orang teman lain terpaksa bermalam di Terminal Bungurasih.

Usai sholat shubuh kami langsung berangkat naik bus Tjipto rekomendasi Bapak “Calo” di Terminal Bungurasih. Si Bapak yang semula bilang bis nya ini akan langsung menuju Ketapang dengan harga murah yakni Rp 55.000,00 nyatanya saat kami sudah di atas bus, oleh kondektur Bus TJIPTO (please noted it Guys!) diminta Rp 70.000,00. Oh meeen… ini si Bapak bener2 malak kita2 yang memang kelihatan seperti rombongan orang linglung. Sempat sedikit berdebat dengan Pak kondektur, akhirnya dengan berat hati kami menggelontorkan uang tambahan daripada diturunkan tidak hormat di jalan dan harus cari bus lain, mengingat posisi kami waktu itu sudah di luar terminal dan tengah berada di Jalan Tol.

Belum berhenti disitu rasa was-was kami, saat saya bertanya kepada penumpang lain mengenai ongkos standar bus malah terkuaklah bahwa bis yang kami naiki ini bukan jurusan Banyuwangi seperti yang tertulis di kaca depan bus (di kaca nya tertulis, Surabaya langsung Banyuwangi), namun malah menuju Jember. Saya lemes, speechless dan sepanjang perjalanan terus berdoa semoga si Bapak Kondektur masih ada rasa welas asih.

“Udah Nung, tidur dulu aja. Perjalanan masih jauh.” ucap Mbak Def yang duduk di samping saya.

Tapi bagaimana mau tidur, rasa khawatir masih menggelayut bebas di pikiran mengalahkan rasa kantuk yang melanda.😦

***

Sebelum pukul 9 pagi, kami sudah sampai di Terminal Probolinggo (saya lupa nama terminalnya), kondektur bus dengan tidak sopan berteriak mengejutkan kami secara tiba-tiba, meminta kami turun bus untuk pindah bus menuju Baluran. Saya yang baru terlelap sontak kaget dalam kondisi bingung menuju bus yang dimaksud sang kondektur, hampir saja satu plastik logistik tertinggal dalam bus. Thanks to Mbak Def for saving it😀

Kami oper bus Indonesia Abadi. meskipun bus ekonomi, namun ukuran bus jauh lebih besar dan longgar dari bus Tjipto yang kami tumpangi sebelumnya, sehingga ada sedikit space untuk meregangkan badan. Perjalanan dilanjutkan, ada sedikit rasa tenang setelah dipastikan bahwa kami tidak perlu membayar kembali ongkos bus menuju Situbondo karena telah dibayarkan oleh kondektur bus sebelumnya. Alhamdulillah.

Probolinggo menuju Situbondo adalah perjalanan yang menyenangkan karena kami senantiasa berada di sisi utara Pulau Jawa dimana bibir pantai menjadi pemandangan yang mengiringi perjalanan kami. That was something new for us. Beberapa ada yang terlelap karena menahan rasa kantuk yang luar biasa. Sesekali saya pun tertidur, namun segera terbangun karena sayang jika tidak menikmati perjalanan tersebut dengan melihat kanan kiri. Bus yang memang tidak ramai itu mengizinkan kami untuk berpindah-pindah posisi duduk, semakin membuat kami leluasa menikmati pemandangan. 

Sebelum dhuhur, kami sudah tiba di Situbondo perbatasan Banyuwangi, di kawasan Baluran. Alhamdulillah di sana kami berkenalan dengan Mas Dani, penduduk lokal yang bersedia mengantar kami mencari penginapan. Oleh Hipo, saya diberi info utk menginap di Forest Ranger, jadilah saya dan teman2 di antar Mas Dani ke Forest Ranger, namun sayangnya semua kamar sudah full booked. Well yeah, ya sudah. Mas Dani pun mencarikan info penginapan lainnya sambil kami istirahat makan siang dan sholat dhuhur. 
[to be continued] 

 

0

Mo(o) ney

[menulis sebagai manifestasi mengingatkan diri sendiri. Noted to myself ]

 Membahas mengenai uang adalah hal yang paling saya hindari. Mengenai uang, gaji, upah, tunjangan, warisan, sebisa mungkin menghindari topik2 seperti itu. Uang benar2 bisa menjelma menjadi hal paling menakutkan. 

24 going on 25, hampir 3 tahun saya berusaha mencukupi diri saya dengan hasil yang saya peroleh. Alhamdulillah cukup, malu sama Alloh kalo bilang kurang. alhamdulillah. Lalu Apa iya saya masih dianggap naif bila mengatakan, “yaa… We need money for our life, but is that the most important thing we should achieve?” 

Saya berkali2 mengingatkan diri saya sendiri,

“ri, rejeki jodoh dan mati sudah diatur. Nothing to lose with everything, tetep berusaha merealisasikan mimpi, tetep usaha dan doa. Jangan khawatir, karena rasa khawatir itu yang menjatuhkanmu. Percaya sama Alloh ri ”

Iya, seperti itu. Untuk saya sendiri. Tapi anehnya tetap sedih, pengen nangis manakala ada saja orang yang melakukan apa saja based on money. Mereka yang demikian, beranggapan bahwa I know nothing about life, mereka akan berujar,” just see, when you already have your own family later. You will understand that money really important. ” *jangan ya Alloh

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR. Muslim no. 2653, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash)

Dalam hadits lainnya disebutkan,

إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ فَقَالَ اكْتُبْ. فَقَالَ مَا أَكْتُبُ قَالَ اكْتُبِ الْقَدَرَ مَا كَانَ وَمَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى الأَبَدِ

Sesungguhnya awal yang Allah ciptakan (setelah ‘arsy, air dan angin) adalah qalam (pena), kemudian Allah berfirman, “Tulislah”. Pena berkata, “Apa yang harus aku tulis”. Allah berfirman, “Tulislah takdir berbagai kejadian dan yang terjadi selamanya.” (HR. Tirmidzi no. 2155. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Ibnul Qayyim berkata,

“Fokuskanlah pikiranmu untuk memikirkan apapun yang diperintahkan Allah kepadamu. Jangan menyibukkannya dengan rezeki yang sudah dijamin untukmu. Karena rezeki dan ajal adalah dua hal yang sudah dijamin, selama masih ada sisa ajal, rezeki pasti datang. Jika Allah -dengan hikmahNya- berkehendak menutup salah satu jalan rezekimu, Dia pasti –dengan rahmatNya- membukan jalan lain yang lebih bermanfaat bagimu.

Renungkanlah keadaan janin, makanan datang kepadanya, berupa darah dari satu jalan, yaitu pusar.

Lalu ketika dia keluar dari perut ibunya dan terputus jalan rezeki itu, Allah membuka untuknya DUA JALAN REZEKI yang lain [yakni dua puting susu ibunya], dan Allah mengalirkan untuknya di dua jalan itu; rezeki yang lebih baik dan lebih lezat dari rezeki yang pertama, itulah rezeki susu murni yang lezat.

Lalu ketika masa menyusui habis, dan terputus dua jalan rezeki itu dengan sapihan, Allah membuka EMPAT JALAN REZEKI lain yang lebih sempurna dari yang sebelumnya; yaitu dua makanan dan dua minuman. Dua makanan = dari hewan dan tumbuhan. Dan dua minuman = dari air dan susu serta segala manfaat dan kelezatan yang ditambahkan kepadanya.

Lalu ketika dia meninggal, terputuslah empat jalan rezeki ini, Namun Allah –Ta’ala- membuka baginya -jika dia hamba yang beruntung- DELAPAN JALAN REZEKI, itulah pintu-pintu surga yang berjumlah delapan, dia boleh masuk surga dari mana saja dia kehendaki.

Dan begitulah Allah Ta’ala, Dia tidak menghalangi hamba-Nya untuk mendapatkan sesuatu, kecuali Dia berikan sesuatu yang lebih afdhol dan lebih bermanfaat baginya. Dan itu tidak diberikan kepada selain orang mukmin, karenanya Dia menghalanginya dari bagian yang rendahan dan murah, dan Dia tidak rela hal tersebut untuknya, untuk memberinya bagian yang mulia dan berharga.” (Al Fawaid, hal. 94, terbitan Maktabah Ar Rusyd, tahqiq: Salim bin ‘Ied Al Hilali)

Sumber: https://rumaysho.com/10276-tak-perlu-khawatir-dengan-rezeki.html

Ya Alloh,  semoga senantiasa bisa ikhlas. Semoga senantiasa qona’ah. Semoga dapat istiqomah. Semoga semua bisa ikhlas. Semoga rasa malu mengeluhkan rejeki senantiasa ada dalam diri ini. Aamiiin 

0

First Trip with New Teams

[menulis sebagai manifestasi mengingatkan diri sendiri. Noted to myself ]
Sudah 3 hari di Slawi, ada lebih dari 150 fosil yang sudah diidentifikasi dan entah ada berapa lagi fosil yang menunggu diidentifikasi. 

Ini adalah first trip saya bersama rekan2 kerja yang baru, Kiki said that I’m very lucky for being able part of them at my 2nd month here. Well jika memang demikian, alhamdulillah. Tapi saya benar2 no idea what should I do, what role should I play in team. Mbak Pipit yang seperti nya tahu kekhawatiran itu, bijak berkata, “nanti kamu ikut apa yang aku lakuin aja Nung.” (tengkyu mbaak 😭) 

I tried to enjoy this kind of mission, mencoba berbaur dengan rasa awkward yang luar biasa. I trust mbak pipit very much pokoknya, beliau kemana saya ngintil, asking not so important questions everytime everywhere. Hanya senyum canggung kalo diajak ngobrol. 

Yah, jadi ini berawal dari saya yang nekat iseng ngirim lamaran ke Museum Sangiran Februari 2016 lalu, dikirim dari kantor pos Cikande saat sebelum jam masuk kerja. Pake acara nitipin surat (juga uang) di kantor pos karena petugas yang mengakomodir pengiriman surat belum datang. 

Jadinya saat istirahat makan siang, saya ijin Bapak supervisor utk keluar kantor demi mengurus surat yang saya titipkan sebelumnya.

Maret hari Jumat, saya mendapat surat panggilan untuk interview di Museum yang diterima Ibuk di rumah (dan diterima dengan sangat excited oleh Ibuk) . Saya kira hanya saya seorang, jadi saya menelpon Museum dan bertanya apakah memungkinkan untuk reschedule. Nyatanya itu tak mungkin. Ibuk yang sangat berharap saya menghadiri test interview akhirnya mempercayakan semua keputusan kepada saya. 

Sebenarnya tidak akan menjadi hal yang mebingungkan, hanya saja 2 minggu sebelumnya saya sudah pulang ke rumah. Ketika diminta untuk pulang lagi pada hari efektif kerja, tentunya saya pikir2 lagi. 

Nah, akhirnya saya pun nekat beli tiket pesawat. Malam2 hampir jam 10, saya keluar dari kosan, pergi ke depan Kawasan Modern, menuju alfamart dan bayar biaya tiket traveloka.

Minggu siang dengan naik angkot, saya menuju Terminal Pakupatan. Berjalan masuk Terminal, bertanya kepada petugas tempat menunggu Bus Damri arah Bandara Soetta. Menunggu beberapa saat dan saya pun sudah di dalam bus, berdampingan dengan seorang ibu muda yang hendak pulang ke jogja.

Perjalanan dari Serang ke Soetta kurang lebih 2 jam. Penerbangan menjelang maghrib, jadi saya tidak tergesa2.

Dan hwalaaa… Setelah tes hari Selasa, seminggu kemudian pengumuman via telepon dan alhamdulillah diterima. Segera bikin surat resign setelah tanya pendapat sana sini, apakah harus resign atau bagaimana. 

Dan per 4 April 2016, berpindahlah saya ke Museum Sangiran klaster Krikilan. Dan sebulan kemudian, diajak keluar yg mereka sebut sebagai Dinas Luar ke Semedo. Everything was my first time, semuanya ilmu baru. Bersinggungan dengan arkeologi dan segala serba serbi nya. 

Bodoh, itu hal yang saya rasakan. Hahaha… Saking banyaknya ilmu yang didapat. Seminggu di Semedo, alhamdulillah saya dapat survive. Mendapat ilmu baru, new team mates, dan tentu saja new amazing experiences. Alhamdulillah ya, dijalani saja.. 😁

Ketika singgah di Bumi Ayu, perjalanan pulang dari Semedo. 

*Foto diambil dari website resmi museum sangiran http://sangiranmuseum.com

0

Re-write 

Gatel pengen nulis.

Seorang grafologist menyampaikan bahwa saya seorang yang ambisius. Namun disisi lain, saya adalah orang yang ragu akan kapasitas diri sendiri. Jadinya saya lebih cenderung menetap dengan kondisi sekarang.

Kecewa? Iya kecewa dengan diri sendiri, I have a (big) dream, tapi dengan amat memalukan saya tak berani merealisasikannya. Takut akan kegagalan yang bisa saja dihadapi di depan. Takut sama rasa kecewa yang akan dirasakan nantinya. 

What a coward, right?

Saya kurang insist, kurang bulat tekad yang dibuat, dan kurang nekat. Baru amat sadar ketika menyadari hidup itu pelik. Ahahah.

Jadi, dengan bismillahirrahmanirrahim, I want to re-write my plans. Saya ingin mencoba mewujudkan mimpi itu, membangkitkannya kembali itu penuh air mata, jadi akan sangat sayang kalau mimpi itu menguap begitu saja. 

I just need more motivation than before. More pray than before. More focus than before. And having more encourage that I can make it come true. 

Katanya, never too late for doing something good. 

*well, actually its some escape plan. I avoid reality with an alibi to achieve that dream. Semoga ini membawa ke hal yang lebih baik. Terimakasih Alloh for giving me this kind of roller-coaster life. And for make me realize that everyone have their own life issues, yang ngga bisa secara bijaksana kita bandingkan satu sama lain. 

0

[Random Thought] #16 Intervention Thing

Are we only married our couple? Or are we also married his/her family?

***

Isu yang hangat diperbincangkan beberapa bulan belakangan. Bukan saya, tapi oleh teman2 saya, yang artinya saya juga ikut mengikuti isu ini.  😁

Well yeah, saya belum bisa bijak untuk menyikapi hal ini. Saya juga tak pandai berteori atau secara lantang mengungkapkan pendapat, but based on cerita teman2 saya, nyatanya intervensi keluarga akan ada (hampir dalam banyak kasus) sebelum atau bahkan sesudah menikah.

Yang akan menikah, intervensi (sorry for using this kind of word) dapar berupa setuju atau tidak setujua nya pihak keluarga dengan kita atau calon pasangan. Ini macam2 kasusnya, mulai dari morfologi hingga fisiologi. Dari hal prinsipil sampai hal yang terkesan di-ada-ada-kan. Ada keluarga yang nggak ditanya pendapatnya, ikut nyumbang pendapat juga ada, yang awalnya hangat malah jadi topik memanas juga ada. Macem-macem lah.

Yang sudah menikah, intervensi juga masih ada. Mulai dari masalah ngasuh anak, mertua, rumah, atau masalah intern inti pasangan (yang biasanya sih *katanya* bermula dari masalah sepele).

Intervensi atau bahasa sederhananya keikutsertaan pihak luar dalam memberi ide/pendapat/usul/saran kepada pihak dalam. Bahasa kasarnya, ikut campur urusan orang. 😈

Based on my friends experienced, this kind of intervention will menguras tenaga (hahaha… Sorry bahasanya campur2. Lagi belajar bahasa inggris, harap maklum 😁). Mungkin bermula dari musyawarah, atau yang awalnya diniatkan untuk musyawarah, eh malah menjadikan bibit2 intervensi. Bukan musyawarah mufakat yang didapat.

Oleh teman, solusi yang diberikannya bilamana berhadapan dengan hal ini, be like oil and water. Berdampingan namun tidak menyatu. Entah lah, apakah hal ini bijak atau tidak, tapi dianggap menjadi solusi di mana hal urgent intervensi itu melanda. Daripada jadi drama queen menghadapi intervensi, mending realistis aja.

Cuma mau ng-share itu ajah. Very welcome with any suggestions and comments 😁

0

Doa dan Abang

image

Kemarin seorang sahabat yang telah lama kenal, yang senantiasa menasehati (ngasih tausiyah yang jelas 😁).  Mengirim sebuah tulisan panjang, seperti ini tulisnya

Abang, aku mau kerja!”

“Jangan, lah. Kamu di rumah saja. Istri itu di rumah tugasnya :)”

“Itu, tetangga kita, dia kerja!”

“Hehe …, dia itu guru, sayaang. Dia dibutuhkan banyak orang. Yang membutuhkan kamu tidak banyak. Hanya Abang dan anak kita. Di rumah saja, ya.”

“Itu…, tetangga kita yang satunya, yang sekarang sudah pindah ke kampung sebelah, aku lihat dia kerja. Bukan guru. Tidak dibutuhkan banyak orang.”

“Nanti, tunggu Abang meninggal dunia.”

“Apa-apaan sih?”

“Dia itu janda, sayaaaang. Suaminya meninggal satu setengah bulan yang lalu. Makanya dia kerja.”

“Tapi kebutuhan kita makin banyak, Bang”

“Kan Abang masih kerja, Abang masih sehat, aku masih kuat. Akan Abang usahakan, InsyaAllah.”

“Iya, aku tahu. Tapi penghasilan Abang untuk saat ini tidaklah cukup.”

“Bukannya tidak cukup, tapi belum lebih. Mengapa Abang bilang begitu? Karena Allah pasti mencukupi. Lagi pula, kalau kamu kerja siapa yang jaga anak kita?”

“Kan ada Ibu! Pasti beliau tidak akan keberatan. Malah dengan sangat senang hati.”

“Istri Abang yang Abang cintai, dari perut sampai lahir, sampai sebelum Abang bisa mengerjakan pekerjaan Abang sendiri, segalanya menggunakan tenaga Ibu. Abang belum ada pemberian yang sebanding dengan itu semua. Sedikit pun belum terbalas jasanya. Dan Abang yakin itu tak akan bisa. Setelah itu semua, apakah sekarang Abang akan meminta Ibu untuk mengurus anak Abang juga?”

“Bukan Ibumu, tapi Ibuku, Bang?”

“Apa bedanya? Mereka berdua sama, Ibu kita. Mereka memang tidak akan keberatan. Tapi kita, kita ini akan jadi anak yang tegaan. Seolah-olah, kita ini tidak punya perasaan.”

“Jadi, kita harus bagaimana?”

“Istriku, takut tidak tercukupi akan rezeki adalah penghinaan kepada Allah. Jangan khawatir! Mintalah pada-Nya. Atau begini saja, Abang ada ide! Tapi Abang mau tanya dulu.”

“Apa, Bang?”

“Apa alasan paling mendasar, yang membuat kamu ingin bekerja?”

“Ya untuk memperbaiki perekonomian kita, Bang. Aku ingin membantumu dalam penghasilan. Untuk kita, keluarga kita.”

“Kalau memang begitu, kita buka usaha kecil saja di rumah. Misal sarapan pagi. Bubur ayam misalnya? Atau, bisnis online saja. Kamu yang jalani. Bagaimana? anak terurus, rumah terurus, Abang terlayani, uang masuk terus, InsyaAllah. Keren, kan?”

“Suamiku sayang, aku tidak pandai berbisnis, tidak bisa jualan. Aku ini karyawati. Bakatku di sana. Aku harus keluar kalau ingin menambah penghasilan.”

“Tidak harus keluar. Tenang, masih ada solusi!”

“Apa?”

“Bukankah ada yang lima waktu? Bukankah ada Tahajud? Bukankah ada Dhuha? Bukankah ada sedekah? Bukankah ada puasa? Bukankah ada amalan-amalan lainnya? Allah itu Maha Kaya. Minta saja pada-Nya.”

“Iya, Bang, aku tahu. Tapi itu semua harus ada ikhtiar nyata.”

“Kita ini partner, sayang. Abanglah pelaksana ikhtiarnya. Tugas kamu cukup itu. InsyaAllah jika menurut Allah baik, menurut-Nya kita pantas, kehidupan kita pasti akan berubah.”

“Tapi, Bang?!”

“Abang tanya lagi…, kamu ingin kita hidup kaya, apa berkah?”

“Aku ingin kita hidup kaya dan berkah.”

“Kalau begitu lakukan amalan-amalan tadi. InsyaAllah kaya dan berkah.”

“Kalau tidak kaya?”

“Kan masih berkah? Dan…, tahu apa yang terjadi padamu jika tetap istiqomah dengan itu?”

“Apa, Bang?

“Pilihlah pintu surga yang mana saja yang kamu suka. Dan kamu, menjadi sebenar-benarnya perhiasan dunia.”

***

Rasulullah SAW bersabda, “Apabila seorang wanita (istri) itu telah melakukan shalat lima waktu, puasa bulan Ramadhan, menjaga harga dirinya dan mentaati perintah suaminya, maka ia diundang di akhirat supaya masuk surga berdasarkan pintunya mana yang ia suka (sesuai pilihannya),” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan Thabrani).

“Dunia adalah
perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita sholehah” [H.R. Muslim]

Judulnya menarik, langsung saya baca tulisannya. Segera saya respon tulisannya, dan segera dibalas olehnya.

Dan lalu, langsung mantab segera cari Abang buat diterikai, “Abang nikahi adeeek”😆

Semoga Bermanfaat 😇:)

0

[Random Thought] #15

Tanpa bermaksud apa-apa, atau bagaimana. Saya hanya tak habis pikir ada teman yang berpendapat seperti ini, karena pada kenyataannya saya merasa kalo saya ini bukan pribadi yang dekat dengan watak sabar, mungkin sabar yang dimaksud teman saya ini, adalah suka berleha-leha dalam menunaikan kewajiban. Yang artinya procrastinator bangeeet. 😈

Mau syukur alhamdulillah ada yang bilang sabar, tapi kok saya malu sendiri.  Ahahahaha…

Yah semoga perkataan teman karib ini menjadi doa yang diijabah Alloh Ta’ala yang berbuah Surga-Nya. Amiin.

image

0

Dokter Gigi

Sore 17.14 wib saya dan Bapak pergi ke dokter gigi di dekat rumah. Ini kunjungan kedua sebagai tindak lanjut kunjungan minggu lalu.

Ceritanya minggu lalu, gusi bapak mengalami pembengkakan. Bapak sih bilangnya nggak sakit, tapi saya yang melihatnya merasa sakit. Kasihan bapak. Setelah dipaksa2 akhirnya beliau berkenan diajak ke dokter gigi.

Kunjungan ke dokter gigi memang sewajarnya dilakukan 2 kali dalam setahun, tapi kami yang orang awam (orang kampung)  ke dokter ya kalau sedang sakit saja. Hehe.. Bukan lah hal. Yang patut dicontoh, tapi kenyataannya demikian.

Nah, saat masuk ke ruang praktek dokter, diperiksa sebentar dan keluar lah hasil diagnosanya. Gusi bapak mengalami pembengkakan akibat infeksi, rasa sakit yang tidak beliau rasakan karena obat metaflam yang bapak konsumsi.

Oleh dokter, bapak diberi antibiotik, obat anti inflamasi, dan obat penghilang nyeri. 10 butir dan dikonsumsi 3 kali dalam sehari.

Masalah nya ya setelah obat habis, bapak sudah dipesan untuk kembali ke dokter untuk cabut gigi, eh si Bapak ndak mau dengan dalih gigi sudah tidak sakit. Sudah dipaksa dengan halus tetap ndak mau. Ya sudah.

Selang sehari, gigi mulai terasa sakit. Bapak bilang seolah2 gigi nya seperti lepas dari akar gigi nya. Jadi, sore hari nya bersama bapak kembali lah saya ke dokter gigi.

Singkat cerita setelah masuk ruang praktek, saya ditegur karena tidak mengajak bapak kembali ke dokter sesudah obat habis. Karena seyogyanya gigi bapak memang perlu dicabut, sebab ada masalah dengan akar gigi yang menyebabkan infeksi.

Tapi karena sudah terlanjur sakit, jadi diobati terlebih dahulu. Setelah obat habis, gigi harus dicabut.

Cuma bisa mendesah, setelah keluar dr ruang praktek.

“nanti obat nya habis kesini lagi ya Bapak. Gigi nya dicabut. ”
Bapak hanya mengangguk mengiyakan.🙂