0

Dokter Gigi

Sore 17.14 wib saya dan Bapak pergi ke dokter gigi di dekat rumah. Ini kunjungan kedua sebagai tindak lanjut kunjungan minggu lalu.

Ceritanya minggu lalu, gusi bapak mengalami pembengkakan. Bapak sih bilangnya nggak sakit, tapi saya yang melihatnya merasa sakit. Kasihan bapak. Setelah dipaksa2 akhirnya beliau berkenan diajak ke dokter gigi.

Kunjungan ke dokter gigi memang sewajarnya dilakukan 2 kali dalam setahun, tapi kami yang orang awam (orang kampung)  ke dokter ya kalau sedang sakit saja. Hehe.. Bukan lah hal. Yang patut dicontoh, tapi kenyataannya demikian.

Nah, saat masuk ke ruang praktek dokter, diperiksa sebentar dan keluar lah hasil diagnosanya. Gusi bapak mengalami pembengkakan akibat infeksi, rasa sakit yang tidak beliau rasakan karena obat metaflam yang bapak konsumsi.

Oleh dokter, bapak diberi antibiotik, obat anti inflamasi, dan obat penghilang nyeri. 10 butir dan dikonsumsi 3 kali dalam sehari.

Masalah nya ya setelah obat habis, bapak sudah dipesan untuk kembali ke dokter untuk cabut gigi, eh si Bapak ndak mau dengan dalih gigi sudah tidak sakit. Sudah dipaksa dengan halus tetap ndak mau. Ya sudah.

Selang sehari, gigi mulai terasa sakit. Bapak bilang seolah2 gigi nya seperti lepas dari akar gigi nya. Jadi, sore hari nya bersama bapak kembali lah saya ke dokter gigi.

Singkat cerita setelah masuk ruang praktek, saya ditegur karena tidak mengajak bapak kembali ke dokter sesudah obat habis. Karena seyogyanya gigi bapak memang perlu dicabut, sebab ada masalah dengan akar gigi yang menyebabkan infeksi.

Tapi karena sudah terlanjur sakit, jadi diobati terlebih dahulu. Setelah obat habis, gigi harus dicabut.

Cuma bisa mendesah, setelah keluar dr ruang praktek.

“nanti obat nya habis kesini lagi ya Bapak. Gigi nya dicabut. ”
Bapak hanya mengangguk mengiyakan.:)

0

Throwback #2

Februari ini saya sudah pulang ke rumah [lagi]. Waktu yang singkat untuk berada di rumah tak menjadi alasan untuk malas pulang. Enam belas jam di jalan, dengan bus, terjebak macet di Ibukota hingga berjam-jam sehingga akhirnya lega bisa keluar dari Ibukota.

Entah, semakin bertambah bulan semakin merasa tidak nyaman di perantauan. Semakin banyak hal yang dipikirkan, semakin banyak alasan untuk segera pulang ke rumah. Bertemu keluarga, berceloteh bersama keponakan. Walau nanti pastilah ada rasa jemu yang lembali melanda saat pulang kampung.

Aku ingin pulang… 😷

2

Throwback #1

Ketika mulai lelah dengan rutinitas, ketika mulai jemu dengan pekerjaan “cleaning”, dan saat2 rawan mengeluh akibat Micro Lab yang tak kunjung selesai “direnovasi”, tak ada salahnya kembali mengingat perjuangan 7 bulan lalu. Supaya tak lupa untuk bersyukur, supaya ingat, bahwa manisnya hidup kadangkala didahului dengan getirnya dulu.

Cikande. asing kali pertama mendengarnya. Tak biasanya saya pergi ke suatu tempat tanpa info lengkap, berbekal sebuah email yang saya printout, saya masukkan hati2 ke dalam map, dan benar2 memastikan kalo tidak akan hilang. Maklum, kala itu saya tidak sedang menggunakan smartphone yang kata orang “memudahkan” dalam segala hal.

Tiket pesawat pulang pergi sudah saya simpan. Pagi2 dengan antusias, diantar Bapak dan Mas Nanang ke Bandara Adi Soemarmo. H-1 sebelum puasa Ramadhan tahun 2015. Saya ingat betul. Pesawat take off pukul 6 pagi, namun pukul 4.30 pagi saya sudah berada di mushola Bandara, berjamaah dengan Bapak dan Mas Nanang. Sepagi itu dan se-excited itu di Kota Solo yang tanpa macet.

Naik pesawat, tak pernah terduga akan terjadi secepat itu. Dan gratis pula.

Sampai di Jakarta, saya berpisah dengan Aken yang tanpa terduga ternyata satu penerbangan. Sebelum mendapat Taksi, Aken mengirim banyak sms, memastikan saya sudah dapat taksi dan diantar sampai lokasi.

Iyah, Cikande. Perjalanan melalui tol, selama 2 jam tak sedikit pun membuat saya mengantuk. Kanan kiri taksi yang saya tumpangi adalah hal menarik yang bisa saya nikmati. Sopir taksi yang juga tak tahu alamat tujuan, beberapa kali bertanya kepada Juru parkir, satpam dan penjaga pintu loket tol.

Sekitar pukul 9 saya sampai di depan Pabrik yang katanya milik Cargill Indonesia. Sempat bingung, yaqin tidak yaqin. Bayangan mengenai pabrik dengan gedung office di depan, bangunan kecil untuk satpam dan pagar besi mengelilingi pabrik tersebut runtuh seketika.
“ini beneran pabrik nya? Baru dibangun gini. ”

Secepat mungkin saya menghubungi Bapak HRD yang belakangan intens menelpon dan meng-arrange waktu utk wawancara.
Saya diminta menunggu sebentar dalam kontainer yang sudah dimodifikasi menjadi office lengkap dengan kursi, meja dan AC.

Lama saya menunggu dan mengikuti prosesnya, hingga pukul 2 siang baru dinyatakan acara selesai. Cepat2 saya menghubungi bapak sopir taksi yang memang diminta standby untuk kembali mengantar ke Bandara Soetta.

Halang tak dapat dihindar, macet terjadi di mana2. Harap2 cemas menuju Soetta. Dan ternyata yang namanya macet itu memang bikin geregetan.

Alhamdulillah, sampai di Bandara Soetta tepat sebelum waktu keberangkatan. Sedikit berlari2 saya check-in, buru2 melewati pos security. Dan alhamdulillah lagi, pesawat delay. Harus disyukuri.

Penerbangan singkat selama satu jam Jakarta-Solo berjalan lancar dan sekitar pukul 7.30 pm, Bapak dan Mas Nanang sudah menunggu di pintu kedatangan. Tanpa babibu, sederetan pertanyaan dilontarkan Bapak dan Mas, tak kalah antusiasnya selama perjalanan 40 menit menuju rumah, banyak hal saya ceritakan memastikan tidak ada pengalaman yang saya alami sehari itu terlewatkan untuk dibagi.

1

[Lab Note] #3 Kerja Kerja Ayo Kita Kerja

Menuju bulan ke-6 jauh dari keluarga. Rasanya campur aduk. Seringkali rindu yang mengendap muncul ke permukaan secara tiba2. Memunculkan riak-riak kecil. Rindu keluarga yang jelas.

15 tahun ditinggalkan, tak serta merta membuat saya belajar bagaimana merasakan rasa sendiri itu. Karena meninggalkan dan ditinggalkan adalah dua perkara yang nyatanya sangat berbeda rasanya. Jauh lebih pahit untuk berujar selamat jalan, daripada menyampaikan pesan hati-hati di jalan.

6 bulan mengajarkan banyak hal. Bahwa bekerja tak sebercanda yang saya bayangkan. Bahwa memang ada kerja keras di dalamnya. Bahwa rasa lelah hati perasaan jiwa dan raga bisa melebur menjadi satu rasa. Bahwa bekerja juga tak melulu soal berapa uang upah yang akan kita dapat.

Ah, bekerja dan keluarga…

[sedang meracau, maaf]

1

Rindu kalian

image

Rindu kalian teman.

Rindu saat diskusi dalam satu forum, saat belajar dari slide presentasi gambar burung dan suaranya, saat sama2 masih awam mengenai birdwatching dan tekniknya, saat menyuarakan “bicolaaaaaa”  di tiap hutan yang kita jelajahi, rindu saat melihat raptor yang melintas. Ah kenangan… Rindunya tiada tara..

2

Kontemplasi 2 dan 4

2015

Saya cuma mau bersyukur setelah menghela napas berkali-kali di awal tahun ini, yang awal tahun ini masih sering mengeluh dan nggak sabar dan kadang sering ngGalau sendirian di atas kasur, nangis nggak jelas sambil ditutup bantal biar orang rumah nggak ada yang tau *but now whole the world tau Ri😀 *

Terimakasih untuk semua pihak yang kemaren nyempet2in ng-PM pas tanggal 28 Agustus di sela-sela kesibukannya, yang mungkin copas dari kalimat temannya, yang mungkin diam-diam mendoakan *ehem, kayak ada aja*. Saya amin-i semua doa baiknya, same pray goes for you, guys. Semoga umur kita senantiasa berkah, jadi pribadi yang bermanfaat bagi agama, keluarga, nusa dan bangsa. senantiasa istiqomah, semakin dekat mencumbu sang Pencipta. Amiin.

oke, jadi saya mau men-toyor diri saya terlebih dahulu, supaya sadar kalo ada banyak nikmat yang sudah saya rasakan sebagai manusia tak berguna yang seringnya mengeluh dan mengeluh

  1. kerjaan, alhamdulillah sudah ada kerjaan. Kesedihan tahun lalu soal CPNS udah ga usa dipikirin lagi. Kalo kerja juga jangan males-males-an, inget jaman belum dapet kerja. Inget jaman pas nekat mau jadi TKI, inget saat bikin Ibuk nangis karena mengeluh belum dapet kerjaan, inget saat bikin bapak ikut-ikutan sedih. Ternyata yang kamu butuhkan adalah sedikit bersabar dan berdoa Ri, janji Alloh itu pasti
  2. jangan terlalu cuek sama lingkungan plis, be humble Ri
  3. Grow up a little bit, udah tua juga, tingkah masih aja kayak bocah
  4. be courage, ayo lebih beraniin diri buat ambil keputusan sendiri, nggak selamanya kamu bisa bergantung sama orang lain
  5. ibadah noh diperbaikin lagi, minta suami yang bakal jadi imam soleh baik hati penyayang sabar sehat jasmani rohani, ibadah masih aja berantakan. Alloh juga ngasih give and take Ri
  6. banyak belajar lagi, banyak baca lagi, itu buku-buku di lemari jangan dianggurin buat pajangan, di baca ri…
  7. berani keluar dari zona nyaman dong Ri, ga perlu diulang2 soal ini
  8. jangan lupa sodaqoh, udah di kasih rejeki, kalo mau masukin uang infak aja masih itung-itung. Come on Ri, ga bakal mlarat deh kalo ngasih banyak. ada hak orang lain dalam rejeki mu ri
  9. ISTIQOMAH ri, udah istiqomah. jaga aqidah dimanapun kamu berada, Bapak Ibuk mungkin ngggak liat, tapi Alloh liat Ri !!!
  10. jangan banyak mengeluh RI, please stop sigh-ing,
  11. jangan nunda-nunda kerjaan yang ada di depan mata, stop being procastinator
  12. JANGAN LUPA MIMPI-MIMPI mu Ri… ayo semangat belajar…

Udah itu aja, jangan malas Ri !!Jangan gampang GeeR juga, be aware of everything. Inget tujuan hidup !! Urip mung mampir ngCharge

 

0

an unexpected meeting

sweet serendipity….
that unexpected meeting, that changes your life

Rabu pagi, saat suasana hati sangat menggebu-gebu dan penuh rasa was-was, kali pertama menginjakan kaki di Adi Sumarmo Airport, bertanya kepada setiap satpam yang dilalui untuk memastikan tidak salah jalan.
Pukul 5 pagi, usai sholat shubuh di mushola airport, saya bergegas check-in sambil menggunakan jaket merah almamater, berpamitan meminta doa restu kepada Bapak dan Mas yang mengantar demi keselamatan dan keberhasilan hari itu.

Sendirian dan sesekali tersenyum melihat keluar jendela pesawat yang akan membawa saya menuju ibukota. Tiket pulang pergi gratis yang saya dapat, saya buka berkali-kali dan baca berkali-kali untuk memastikan tidak ada yang salah.
Ruang tunggu mulai ramai seiring dengan semakin dekatnya jadwal keberangkatan. Seorang Ibu yang juga seorang diri menjadi kawan mengobrol selama menunggu waktu panggilan memasuki pesawat.
Pukul 5.40 WIB, penumpang pesawat Lion Air tujuan Jakarta dipanggil untuk mulai memasuki pesawat yang akan lepas landas pukul 6.10 nanti.

Saat berjalan hendak memasuki kabin pesawat, tak dinyana terdengar suara seseorang yang memangil,

“Nyung”

Saya langsung menoleh dan melihat Aken yang menghampiri. Ya Rabb, Betapa senangnya bertemu dengan ia, rasanya saya benar2 bisa menuangkan seluruh perasaan yang bahagia tak karuan, rasa deg-deg-an yang tak karuan, dan lega sekali.

“Aku tadi liat jaket nya kayak kenal, terus pas kamu noleh, wah iya, keliatannya emang Nyunyung. Destiny nyung”

Cleees…. lega sekali dengan pilihan jaket almamater ini. Harapan menggunakan jaket almamater untuk berjumpa dengan kawan atau seseorang yang kenal akan jaket ini, ternyata bukan sekedar harapan hampa.
sayangnya, kami mesti berpisah ketika keluar dari Soekarno-Hatta Airport karena tujuan yang berbeda, ia dengan urusan visa nya dan saya mesti melanjutkan perjalanan menuju Cikande. PErtemuan sesaat yang amat membahagiakan.:)

Qodarulloh, when she said “this is destiny, nyung”. In my deepest heart, I said insyaalloh this was a good sign. Maybe this is a good sign for me to pursuing my dream following you there, dear sist. Bismillah…

0

[Random Thought] #14 : I’m on cloud nine

I will flyyyyyyyyyyy………….

Just by thinking about what gonna happen next Wednesday, make me grin ear to ear. Alhamdulillah. Is this really true ?? Are they really let me fly ?

Indeed its not the last step that I have to pass. But, knowing that they will let me fly, I’m on cloud nine. hahaha

I am dancing like a crazy duck, running and singing, I believe I can fly. I am definitely gonna fly.

:LOL:

0

Free Packages, No Charges

Yesterday (1 June 2015) I was visited by Mr. Postman. He brought me 2 postmail packages, one magazine and one heavy package. I was so excited and very anxious to open the packages. image The first one is the newest edition of Travel Portland magazine, I got it free (yes! zero charges) by visiting http://www.travelportland.com/ . It is a free guide magazine provide by private non-profit marketing organization based in Portland and for your information, Portland is the largest city of Oregon, U.S,  and often awarded as the greenest city in America so its very interesting to know more by reading it and I can imagining already there, enjoy reading many book at Powel’s Book, touring by bicycle around the city, then eating my favorite and delicious big doughnut from Voodoo Doughnut and bring it to sightseeing Portland Japanese Garden. Aaaaa… I really want to make my wild imagination come true.

The second package I got by zero charges was from KSA. Consist of many books, more than 10 books in English, and some books in Bahasa with various genre talking about Islam. The books are so easy to understand, even in English. I am very happy just by reading the title of each books, and can’t wait to “eat” all of it to fulfill my book fetish.😆 For you who curios how I get this free package with no charge, you can visit http://www.islamunveiled.org/ and follow the instruction.imageimage

Actually you only allow to choose 5 books you want (from so many books list they have), but after you get the package you will get more than five books, with bonus GIFT books in your mother tongue (how generous they are). But you have to make sure that you will acknowledge by reading and take a good lesson from it. They (Abha Cooperative Center) able to run this project because they have some benefactor. I wish Allah the Almighty always guiding us until the end of the world to achieve His jannah. Amiin.