[Lab Note] #2 Gergaji Hiu Gergaji

“Manusia berkehendak namun Alloh lah yang menentukan”

Saya ingat betul kira-kira 2 tahun yang lalu saat teman2 yang lain asyik tanya-jawab ketika praktikum biologi molekuler dan saya yang [saat itu] sangat pasif pernah berujar pada diri saya sendiri,“ah, nanti aku juga ga ambil biologi molekuler pas skripsi” Tindakan pembenaran diri untuk tidak aktif diskusi.

Singkat cerita, materi skripsi saya kemarin lebih cenderung berkutat dengan molekuler *nah lhoh*, dan apa yang saya kerjakan dua bulan terakhir ini juga tak jauh dari molekuler.

Pasca kelulusan awal tahun lalu, setelah sempat dipusingkan dengan nasib saya untuk bulan-bulan yang akan datang, alhamdulillah mendapat kepercayaan untuk membantu mengerjakan penelitian dosen secara profesional dalam kurun waktu yang tidak ditentukan. Tanpa berpikir panjang lagi saya mengiyakan tawaran tersebut.
Rencana awal memang bermaksud mencari kerja terlebih dahulu, ingin menikmati hasil kerja keras sendiri dan melepaskan diri dari “beban hidup” orangtua.

Secara konseptual sama namun secara kontekstual apa yang saya kerjakan saat ini berbeda dibanding saat penelitian skripsi kemarin.
Dulunya deteksi molekuler bertujuan mengetahui keanekaragaman Archaea metanogen pada suatu biogas yang jika kita ketahui komunitasnya diharapkan dapat meningkatkan produksi biogas. Sedangkan sekarang deteksi molekuler berdasar mtDNA atau DNA Mitokondria yang kita ketahui bersama diturunkan secara maternal. Harapannya dari sini nanti akan diketahui kekerabatan antar spesies Hiu Gergaji yang habitatnya di perairan Indonesia dengan Hiu Gergaji yang habitatnya di perairan Australia.

Awalnya bingung what should i do, seperti tanpa arahan karena melakukannya pun baru apalagi materi mengenai mikrosatelit dan mtDNA saya benar2 tidak paham. Meski Prof meyakinkan bahwa ini lebih mudah ketimbang apa yang saya lakukan saat penelitian skripsi kemarin. Modal bismillah dan proposal seminar kakak tingkat perihal mikrosatelit yang pernah saya minta ijin copy, saya maju dan mulai mengerjakannya. Alhamdulillah ada saja berkah yang didapat.

Bermula dengan memotong tulang rawan yang “tidak rawan”, karena meski ini tulang rawan tapi sungguh benar2 sukar dipotong menggunakan gergaji tangan. Tiga hari dan 35 sampel tulang baru berhasil dipotong menjadi irisan kecil seberat 1-9 gram, itupun berkat bantuan teman2 dan adik2 tingkat yang silih berganti datang. Alhamdulillah.

Selanjutnya digerus dengan mortar. Kenapa harus digerus ? Ini untuk memudahkan pada tahapan ekstraksi yang tujuannya untuk mendapatkan DNA sampel yang akan diteliti. Karena tulang yang notabene keras dan alot, maka digunakan Nitrogen Cair agar tulang menjadi kering dan lebih mudah untuk dihaluskan. Tapi meskipun sudah ditambahkan Nitrogen cair saat digerus, nyatanya beberapa sampel masih sukar dihaluskan, sampai-sampai 2 mortar pecah akibat kekuatan berlebih saat menggerusnya *facepalm*.

Betapa sangat khawatirnya saya saat mortar2 tsb pecah, lebih deg2an lagi bagaimana saya melaporkan peristiwa tersebut kepada Prof, misal hanya satu mortar yang pecah mungkin saya akan lebih berani matur kepada Prof, tapi ini 2 mortar [°_°]. Beberapa teman meyakinkan saya untuk memberanikan diri matur kepada Prof perihal 2 mortar tersebut. Tapi keberanian baru terkumpul setelah beberapa hari pasca insiden,

“Prof, maaf sebelumnya. Kemarin pas numbuk tulangnya, saya mecahin 2 mortar Prof. Itu mortarnya lab Prof. pripun ya Prof enaknya ?”

Hati deg2an tak karuan, tak berani menatap prof langsung, mata hanya memandang jauh ke arah tembok di samping kursi yang di duduki Prof.

“ya diganti saja. Beli saja. Harus bertanggungjawab dong. Nanti bilang saya berapa harganya”

Cleeeeessssss…..seperti bertemu hujan pertama di musim kemarau berkepanjangan. Adeeeeeeeemmmm…maknyeees jawaban Prof. Bukan perihal uang yang diganti, tapi pesan Prof untuk bertanggungjawab atas apa yang sudah kita lakoni. :”>

Keluar dari ruang Prof, saya cuma senyam senyum bahagia. Alhamdulillah satu tantangan berhasil dilewati. Next akan ada tantangan seru lagi, pikir saya.

[Lab Note] #1 : Epilog

“Mbak, penelitiaannya bagaimana ? Sudah di sekuensing belum ?”

Jleb… hidup saya seolah hilang 20 tahun karena sms siang bolong yang dikirim oleh sang supervisor penelitian. Purifikasi saja belum. Pikir saya.

Buru-buru saya membalasnya dengan menyusun kata super hati2 sembari menata hati yang ekstra kalut.

Saya baca berulang kali sebelum menekan tombol send. Bismillah… bismillah… send.

Menunggu balasan. Dan tak ada balasan. Daaamn…. panik dan menerka2 perasaan Pak Dosen… dan terus berdoa, smoga Prof tidak marah… tidak marah…

Lelaki terhebat

Sudahkah aku bercerita mengenai lelaki terHEBAT dan keren yang aku temui,
Dia yang bertangan besar, kuat dan kasar karena kerja kerasnya ia,
Dia yang menurunkan mata sipit dalam gen keluarga kami,
Dia yang memiliki warna kulit hitam akibat pekerjaannya,
Dia yang sudah beruban bahkan saat aku masih berumur sembilan,
Lelaki yang seringkali bertindak konyol dan menimbulkan gelak tawa dalam rumah,
Lelaki lugu  yang seringkali karena keluguaannya membuatku tergugu,
Lelaki yang sangat bertanggungjawab yang pernah aku jumpai,
Lelaki yang terkadang amat sangat sabar,
Lelaki yang paling jarang ku lihat murka,
Lelaki keras kepala bahkan ketika ia sakit yang dipikirkan hanya bagaimana menghidupi keluarganya,
Lelaki yang tak pernah menampakkan wajah dukanya demi keluarganya,
Lelaki jenaka yang senantiasa menghibur kami,
Dia yang seringkali salah tingkah saat meluapkan perasaannya,
Dia yang terkadang diam dan memendam semua masalah sendiri,
Dia yang selalu memberi kepercayaan kepada anak-anaknya,
Lelaki yang paling sering aku sebut dalam doa,
Lelaki yang paling aku idolakan,
Lelaki yang sikap dan sifatnya aku harap nantinya akan dimiliki oleh lelaki yang akan mendampingiku
Dialah Bapak, Lelaki yang paling aku sayang, yang paling mempercayai anaknya lebih dari siapapun,
Lelaki yang paling aku rindukan dimanapun aku berada,

Happy Bapak’s Day, 15 Juni 2014. Terimakasih untuk segalanya, Terimakasih sudah menjadi Bapak terHEBAT SEALAM SEMESTA, Terimakasih sudah menjaga Mamak dengan sabar, Hati-hati mudiknya, Im always waiting for you here, sayang Bapak tiada tara :)

 

Gurindam 12, Raja Ali Haji

Originally posted on Ruang Belajar Bahasa dan Sastra Indonesia:

GURINDAM DUA BELAS

karya: Raja Ali Haji

Satu

Ini Gurindam pasal yang pertama:

Barang siapa tiada memegang agama,
Sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.
Barang siapa mengenal yang empat,
Maka ia itulah orang yang ma’rifat
Barang siapa mengenal Allah,
Suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.
Barang siapa mengenal diri,
Maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri.
Barang siapa mengenal dunia,
Tahulah ia barang yang teperdaya.
Barang siapa mengenal akhirat,
Tahulah ia dunia mudarat.

Dua

Ini Gurindam pasal yang kedua:

Barang siapa mengenal yang tersebut,
Tahulah ia makna takut.
Barang siapa meninggalkan sembahyang,
Seperti rumah tiada bertiang.
Barang siapa meninggalkan puasa,
Tidaklah mendapat dua termasa.
Barang siapa meninggalkan zakat,
Tiadalah hartanya beroleh berkat.
Barang siapa meninggalkan haji,
Tiadalah ia menyempurnakan janji.

Tiga

Ini Gurindam pasal yang ketiga:

Apabila terpelihara mata,
Sedikitlah cita-cita.
Apabila terpelihara kuping,
Khabar yang jahat tiadaiah damping.
Apabila terpelihara lidah,
Niscaya dapat daripadanya paedah.
Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan,
Daripada…

View original 816 more words

blogging journey – 2013 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2013 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Sydney Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 18,000 times in 2013. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 7 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

[Random Thought] #10 disodok ujian

Sudah sebulan ini terhitung dari awal Desember 2013 kemarin, Mamak yang biasanya selalu percaya dengan aktivitas yang saya ikuti, tiba-tiba menjadi intens bertanya, “Kapan Ujian nduk ?”

Awalnya saya masih menjawab,”Doakan ya mamak, segera. ini masih revisi naskah di dosen pembimbing.”

tapi semakin intensnya pertanyaan tersebut muncul, lama kelamaan jawaban saya menjadi,”Yah mamak tanya mulu ih -.-” Continue reading

[mBolang] #10 Demi Halcyon chloris

tahura r soerjoMenghabiskan 3 hari 3 malam bersama 24 orang merupakan hal menakjubkan yang saya alami sedari 13 Desember dini hari hingga pagi 16 Desember 2013. Bila memilih sebuah kalimat untuk mengekspresikannya, maka “Luarbiasa, mendebarkan, menegangkan dan pengalaman yang  sarat ilmu”.

Rasanya ada banyak sekali hal yang ingin diceritakan, bagaimana kami berjalan bersama menuju Stasiun Jebres, menanti kereta yang tak kunjung datang, berbagi gerbong Matarmaja dengan  penumpang lain, merasakan perbedaan kultur yang kental antara Jawa Tengah dengan Jawa Timur dan rasa kebersamaan dari satu almamater mengikat kami saat kaki melangkah meninggalkan Stasiun Malang Kota menuju Tahura Raden Soerjo di Cangar, Malang.

Meskipun hujan mengiringi perjalanan kami menuju Cangar, keceriaan dan teriakan tak pernah hilang. Rona wajah kuyu dan kondisi jalanan yang menegangkan menjadi bumbu tersendiri bagi kami yang diangkut oleh truk bak hewan2 pedaging yang siap diantar ke pejagal.

Lima truk membawa berbagai rombongan pengamat dan peminat burung. Jakarta hingga ujung Jawa Timur tumplek blek di sini. Saya yang awam akan burung berbekal keingintahuan dan niat mbolang, nekat ikut kompetisi ini berkat ajakan teman2 KS Kepak Sayap. Mulanya hanya satu tim dari perwakilan KS Kepak Sayap, namun beranak pinak menjadi 7 tim yang pergi mengadu kecermatan mengamati polah burung di Tahura R Soerjo.

Hari Pengamatan yakni Sabtu, 14 Desember 2013. Kicauan burung yang riuh rendah telah menyambut kami sedari subuh. Start pengamatan dibuka oleh panitia dari pukul 7 pagi, lokasi pengamatan terbagi dalam lingkup area Tahura R Soerjo, mulai dari Jogging Track Tahura (sendi) hingga Cangar yang memiliki tracking menanjak. Saya yang masuk dalam Tim Pasya-RAN (Rochmat-Alan-Nunung), memutuskan melakukan pengamatan pertama di lokasi terdekat yakni area pemandian air panas Pacet-Batu (jogging track) demi mencari Halcyon chloris karena selain pengamatan kami juga harus menulis sebuah artikel populer saat berada di Tahura R Soerjo, dan jauh2 hari kami sudah mempelajarai secara lengkap mengenai spesies andalan Halcyon chloris yang sebenarnya spesies inilah sering didengar akibat suaranya yang nyaring. Jadi, selain mendapat spesies2 lain, tujuan kami adalah si Halcyon chloris. Continue reading

And when she we…

And when she went in she knew Snow White; and she stood still with rage and fear, and could not stir. But iron slippers had already been put upon the fire, and they were brought in with tongs, and set before her. Then she was forced to put on the red-hot shoes, and dance until she dropped down dead.

p 216 – The Brothers Grimm 101 Fairy Tales.

actually cruel thing also happen in fairy tales, and its not always done by the wicked witch or antagonist actor but by the protagonist too. Be cautious of every(one)thing dude :evilsmirk: