Menjelajah

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.  – Imam Syafii

Ini Manusia, bukan Salmon

Mengutip pembicaraan hari Minggu kemarin, antara saya, mas dan mbak,

Mbak : dek, udah nonton filmnya manusia setengah salmon ?
saya : belum mbak. emang kenapa ?
Mas : *nyamber* itu lho filmnya raditya dika yang ceritanya pindah-pindah
Mbak : iya, ini tadi kita pindah beneran. Kayak manusia setengah salmon
Saya : *mlongo*
Mas : kan salmon pindah-pindah hidupnya
Saya : *mlongo* *iya ikan salmon pindahnya kan dari air tawar -sungai- ke laut setelah setahun, lalu saat masa kawin kembali lagi ke air tawar -sungai-*

Pembicaraan itu bermula seusai pindahannya mbak, dari Kedungjati-Grobogan untuk pindah tugas ke Sumberlawang-Sragen yang lebih dekat dari rumah. Perjalanan panjang yang menurut saya penuh perjuangan. Bagaimana tidak, jalanan berkelok melewati hutan jati, aspal yang tak lagi sempurna, hingga harus bergantian dengan kendaraan lain karena jembatan yang putus. Saya, Bapak dan Pakdhe yang duduk di bak truk, “bergoyang” bebas karena truk yang melibas jalan berbatu tak terkendali.

Awalnya saya kira perjalanan akan mulus dan tak memakan waktu lama, tapi nyatanya saya harus menembus hutan jati milik KPH Telawa, melewati jalan hutan yang tiang listrik pun hampir rubuh. Kebanyakan lampu penerang jalannya menggunakan tenaga surya, karena didapati adanya papan penangkap materi matahari diatasnya.

Karena memang lokasi nya yang jauh dari perumahan pendudukan, meskipun katanya berada di pinggir kota, saya dibuat takjub saat dapat melihat seekor burung alap-alap yang terbang berputar di atas hutan jati. Saya yakin itu alap-alap dari ciri-ciri yang pernah saya pelajari sebelumnya. *lokasinya bakal menyenangkan untuk birdwatching nih, pikir saya kala itu.

Perjalanan 1,5 jam akhirnya kami memasuki wilayah Kabupaten Grobogan. Truk yang memang melaju pelan dan sesekali berhenti untuk bergantian bahu jalan dengan pengendara lainnya akhirnya membawa kami ke wilayah kota, saya kira sudah hampir sampai. Tapi ternyata perjalanan masih panjang, tempat dinas mbak sebelumnya berada di wilayah Kedungjati di desa Wates yang lokasinya masih sangat amat jauh dari Kota. Seriuuuuus. Masiiih jauuuuuh. Saya bahkan tak ingat dimana SPBU terakhirnya. Bapak yang sedari perjalanan berangkat berdiri di dalam bak truk masih tampak antusias hingga sampai ke lokasi.

Melewati beberapa kali portal jalan sederhana hasil swadaya masyarakat, melewati jembatan rubuh, banyak kanal dan sesawahan kering yang memang tidak ditanami karena tampaknya didaerah ini mahal akan air bersih. Yang bikin beda, desain rumah disini bisa dikatakan 90% adalah rumah panggung dan terbuat dari papan kayu. Jaraaang sekali melihat rumah tembok. Jangan tanya soal jalannya, rusak parah, apalagi setelah mendekati rumah tempat Mbak tinggal selama dinas di sana.

2 jam lebih sedikit dan akhirnya kami sampai. Alhamdulillah. Perut saya, Bapak dan Pakdhe yang memang duduk di bak truk berhasil kami jaga dari rasa mual akibat goncangan dahsyat 2 jam lebih. Bapak pun langsung memutuskan untuk mengambil rute berbeda saat pulang nanti, meskipun rute melalui Purwodadi akan lebih panjang dan adanya ancaman macet akibat adanya perbaikan jalan. Tak apa, yang penting jalannya mulus.

Seusau melepas penat dan mengisi perut untuk menjaga stamina agar tubuh tak loyo nanti, Bapak, Mas dan Pakdhe dibantu beberapa penduduk setempat mulai mengangkat barang-barang milik Mbak yang akan diboyong ke Gemolong. Cukup banyak, ada lemari 2 pintu, 3 kasur busa, 1 lemari obat, 1 keranjang bayi, banyak kardus dan tas yang berisi perlengkapan medis Mbak selama menjadi bidan Desa di Desa Wates. Tak memakan waktu lama, akhirnya semua barang berhasil diangkut ke dalam truk termasuk motor matic Mbak yang digunakan sebagai media transportasi selama bertugas di sana.

***

Perjalanan pulang, saya mulai merasa mengantuk dan lelah. Berbekal kain jarik yang sudah dipotong dan entah digunakan untuk apa potongannya oleh Mbak, saya menutup sebagian wajah untuk menghindari teriknya matahari. Saat itu pukul 1 siang, saya, Bapak dan Pakdhe duduk di belakang truk. Beda nya kali ini kami duduk sedikit nyaman karena adanya barang bawaan sehingga goncangan truk tak sedahsyat saat berangkat tadi, terlebih kami melewati jalur Purwodadi yang lebih mulus. Rasa lelah mengalahkan sinar matahari yang luar biasa terik, membuat kelopak mata terasa berat untuk dibuka, Bapak yang duduk disamping menawarkan diri sebagai sandaran bagi saya untuk tidur.

Sekian menit tidur di pangkuan Bapak, saya terbangun. Berusaha melawan rasa kantuk. namun nyatanya rasa kantuk lebih kuat dari keinginan untuk terjaga, selama beberapa kilometer perjalanan saya tertidur, matahari pun berhasil membakar kulit. Walhasil sesampainya di rumah, Ibuk tertegun melihat wajah saya yang merah terbakar akibat sengatan matahari. Bukannya diberi pertolongan pertama, malah saya kena omelan karena keras kepala tak mau duduk di depan d samping pak sopir tadi. Diam. kemudian saya tinggal istirahat saja.

***

Sayangnya, tak ada banyak foto yang berhasil saya ambil saat petualangan kemarin karena terlalu asyik ngobrol dengan Bapak dan Pakdhe selama perjalanan berangkat dan tertidur saat perjalan pulang. :lol:

[Review Buku] Catatan AyahASI: Kami Bukan Ahli, Cuma Mau Berbagi

Catatan AyahASI: Kami Bukan Ahli, Cuma Mau BerbagiCatatan AyahASI: Kami Bukan Ahli, Cuma Mau Berbagi by @ID_AyahASI

My rating: 5 of 5 stars

“it’s easier said than done” -page 73
kutipan kalimat tersebut menohok sekali bagi saya, terlebih saat seorang karib mengatakannya kepada saya yang cerewet soal bayi padahal saya belum punya bayi -menikah saja belum begimane punya baby -.-

Ketika seorang karib memiliki bayi, saya tiba-tiba menjadi heboh sendiri, excited, sama si Baby yang super mungil dan lucu. Bau baby nya itu lho bikin kangen. Kemudian ada banyak tindakan yang dilakukan karib saya tersebut yang membuat saya cerewet sok-sok-an ngatur, kemudian Mak jedeeeeeerrr…she said those painful words *huhuhu*.

Oke, saya langsung diam seketika. Beberapa saat kemudian saya pun pulang dan kembali mengambil buku ini dari rak buku.
Buku yang saya beli tahun 2012 kemarin sebagai kado buat Mas yang menikah kala itu kembali saya baca, me-refresh otak yang sudah berkerak karena jarang baca buku parenting.

Perkenalan saya mengenai ayah ASI berawal dari adanya segmen di MetroTV 8-11 dan bintang tamunya kala itu adalah para penggiat @Id_AyahASI yang kemudian saya follow setelah merasa amazed sama bapak-bapak hebat tersebut. Bayangkan saat itu saya masih mahasiswa, perempuan pula, berfikir untuk menikah saja tidak *eh belum*, mengikuti livetweet @ID_AyahASI yang sesekali vulgar dan biasanya perihal tanya jawab soal ASI, saya menikmatinya, itung-itung sebagai bekal nanti saat menjadi istri then mom wanna be. Hehe

Ah ya, membaca buku ini sangat membantu kita yang awam mengerti mengenai apa itu ProASI, apa itu IMD (Inisiasi Menyusui Dini), seperti apa idealnya Dokter atau rumah sakit bagi Ibu dan Anak,hingga apa saja yang perlu disiapkan saat akan dan sudah melahirkan. So helpful.

rasanya Buku yang ditulis berdasar pengalaman para Ayah pro ASI ini menjadi wajib dibeli untuk mereka yang akan bersiap menjadi ayah, yang bakal menjadi ayah dan pilihan tepat sebagai kado para calon suami *uhuk*

View all my reviews

demi ilmu ia menjelajah

Program SM-3T adalah Program Pengabdian Sarjana Pendidikan untuk berpartisipasi dalam percepatan pembangunan pendidikan di daerah 3T selama satu tahun sebagai penyiapan pendidik profesional yang akan dilanjutkan dengan Program Pendidikan Profesi Guru. SM3T itu sendiri adalah singkatan dari Sarjana Mengajar di daerah Terpencil, Terluar, Tertinggal.

 

Daerah Sasaran program ini adalah kabupaten yang termasuk kategori daerah 3T di empat provinsi, yaitu Provinsi Aceh, NTT, Sulawesi Utara, Provinsi Papua Barat, Provinsi Papua, Provinsi Kepulauan Riau, Provinsi Kalimantan Barat, Provinsi Kalimantan Timur dan Provinsi Maluku. Kabupaten yang ditetapkan sebagai sasaran Program SM-3T adalah kabupaten yang telah memberikan respon terhadap Program Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia.

- dikutip dari Maju Bersama Mencerdaskan Warga

Sabtu kemarin (30/08/2014), berawal dari rencana dadakan dan super kilat, akhirnya saya dan 3 rekan sesama SMA dapat berkumpul setelah sekian lama tak bersua. Memang momen istimewa karena sekaligus farewell party untuk karib super yang Senin pagi tadi (01/09/2014) terbang ke Nusa Tenggara Timur untuk mengabdi pada kemajuan nusa dan bangsa.

Karib saya tersebut menjadi salah satu peserta yang lolos program SM3T dengan melalui serangkaian seleksi dan akhirnya didapat keputusan bahwa ia akan mengabdi selama 1 tahun di Pulau Alor, NTT. Saat mendapat pesan singkat tengah malam dari nya seusai dirinya rampung pelatihan senin lalu, buru2 saya mencari tahu di mana Alor itu, dan objek wisata di Alor :lol:, dan dengan seketika saya memutuskan bahwa satu tahun ke depan saya akan berusaha mengunjungi karib saya tersebut di Alor sana *bismillah*. Ada sejimpit alasan untuk pergi mengenal Indonesia lebih dekat *tsaah*. Continue reading

[Random Thought] #11 So random

Ada banyak-banyak-banyak hal yang pingin ditulis. Bukan hanya aplikasi atau browser saja yang punya cache, tampaknya otak saya pun memiliki nya, untuk itu harus dibersihkan dulu supaya ada space lebih untuk menampung hal lain.

Mumpung masih bulan Syawal,

Taqabbalallahu minna wa minkum Taqabbal ya Kaarim.

Mohon maaf lahir batin untuk setiap rangkaian kata yang secara tidak saya sadari menyinggung atau bahkan melukai perasaan semua pihak. Semoga Alloh mempertemukan kita semua dalam Ramadhan tahun Depan. Amin.

Hmm, sedikit me-rewind Juli kemarin yang memang bulan Ramadhan, jadi nya ya Puasa. Meski demikian kegiatan penelitian masih berjalan. Dapat tugas baru dari forum yang saya ikuti yang deadline nya Agustus ini. Dan meski deadline nya besok, tugas tersebut belum saya susun sama sekali. Bukan karena melambat-lambatkan atau sengaja mengakhirkan, tapi karena lupa *minta ditoyor*.

Juli kemarin sempat main ke rumah teman pengantin baru, banyak ngobrol dan banyak mendapat informasi bermanfaat juga. Salah satunya perihal program studi S2 yang katanya akan dijadikan menjadi 4 tahun yang awalnya 2 tahun *Dhueeerrr*. Macam kena kaget ban mletus saja, super kaget. Meski belum tahu kapan bisa merealisasikan keinginan lanjut Studi tapi mendengar kabar tersebut sontak membuat saya kaget. Harus banyak berpikir lagi berarti. Bagaimana dengan planning bahagia lainnya (T_T). Continue reading

[Lab Note] #2 Gergaji Hiu Gergaji

“Manusia berkehendak namun Alloh lah yang menentukan”

Saya ingat betul kira-kira 2 tahun yang lalu saat teman2 yang lain asyik tanya-jawab ketika praktikum biologi molekuler dan saya yang [saat itu] sangat pasif pernah berujar pada diri saya sendiri,“ah, nanti aku juga ga ambil biologi molekuler pas skripsi” Tindakan pembenaran diri untuk tidak aktif diskusi.

Singkat cerita, materi skripsi saya kemarin lebih cenderung berkutat dengan molekuler *nah lhoh*, dan apa yang saya kerjakan dua bulan terakhir ini juga tak jauh dari molekuler.

Pasca kelulusan awal tahun lalu, setelah sempat dipusingkan dengan nasib saya untuk bulan-bulan yang akan datang, alhamdulillah mendapat kepercayaan untuk membantu mengerjakan penelitian dosen secara profesional dalam kurun waktu yang tidak ditentukan. Tanpa berpikir panjang lagi saya mengiyakan tawaran tersebut.
Rencana awal memang bermaksud mencari kerja terlebih dahulu, ingin menikmati hasil kerja keras sendiri dan melepaskan diri dari “beban hidup” orangtua.

Secara konseptual sama namun secara kontekstual apa yang saya kerjakan saat ini berbeda dibanding saat penelitian skripsi kemarin. Continue reading

[Lab Note] #1 : Epilog

“Mbak, penelitiaannya bagaimana ? Sudah di sekuensing belum ?”

Jleb… hidup saya seolah hilang 20 tahun karena sms siang bolong yang dikirim oleh sang supervisor penelitian. Purifikasi saja belum. Pikir saya.

Buru-buru saya membalasnya dengan menyusun kata super hati2 sembari menata hati yang ekstra kalut.

Saya baca berulang kali sebelum menekan tombol send. Bismillah… bismillah… send.

Menunggu balasan. Dan tak ada balasan. Daaamn…. panik dan menerka2 perasaan Pak Dosen… dan terus berdoa, smoga Prof tidak marah… tidak marah…

Lelaki terhebat

Sudahkah aku bercerita mengenai lelaki terHEBAT dan keren yang aku temui,
Dia yang bertangan besar, kuat dan kasar karena kerja kerasnya ia,
Dia yang menurunkan mata sipit dalam gen keluarga kami,
Dia yang memiliki warna kulit hitam akibat pekerjaannya,
Dia yang sudah beruban bahkan saat aku masih berumur sembilan,
Lelaki yang seringkali bertindak konyol dan menimbulkan gelak tawa dalam rumah,
Lelaki lugu  yang seringkali karena keluguaannya membuatku tergugu,
Lelaki yang sangat bertanggungjawab yang pernah aku jumpai,
Lelaki yang terkadang amat sangat sabar,
Lelaki yang paling jarang ku lihat murka,
Lelaki keras kepala bahkan ketika ia sakit yang dipikirkan hanya bagaimana menghidupi keluarganya,
Lelaki yang tak pernah menampakkan wajah dukanya demi keluarganya,
Lelaki jenaka yang senantiasa menghibur kami,
Dia yang seringkali salah tingkah saat meluapkan perasaannya,
Dia yang terkadang diam dan memendam semua masalah sendiri,
Dia yang selalu memberi kepercayaan kepada anak-anaknya,
Lelaki yang paling sering aku sebut dalam doa,
Lelaki yang paling aku idolakan,
Lelaki yang sikap dan sifatnya aku harap nantinya akan dimiliki oleh lelaki yang akan mendampingiku
Dialah Bapak, Lelaki yang paling aku sayang, yang paling mempercayai anaknya lebih dari siapapun,
Lelaki yang paling aku rindukan dimanapun aku berada,

Happy Bapak’s Day, 15 Juni 2014. Terimakasih untuk segalanya, Terimakasih sudah menjadi Bapak terHEBAT SEALAM SEMESTA, Terimakasih sudah menjaga Mamak dengan sabar, Hati-hati mudiknya, Im always waiting for you here, sayang Bapak tiada tara :)